Sering Nyeri Dada? Bisa Jadi Anda Mengidap Penyakit Jantung Koroner

Nyeri di dada seringkali dianggap remeh dan diabaikan sebagian orang. Bahkan, ada persepsi bahwa keluhan fisik itu merupakan tanda-tanda masuk angin yang bisa diatasi dengan mudah. Padahal, bisa jadi nyeri di dada merupakan gejala seseorang menderita penyakit jantung.

Apakah Anda pernah merasakan rasa nyeri di dada? Jika iya, Anda perlu berhati-hati. Spesialis Jantung Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Makassar dr. Bambang Budiono SpJP, FIHA, FSCAI mengungkapkan, salah satu penyebab nyeri di dada adalah penyakit jantung koroner (PJK).

Hingga kini, banyak kasus penyakit jantung yang susah untuk diatasi disebabkan pasien mengabaikan gejala-gejala yang dirasakan. Bambang mengatakan, tanda-tanda sakit dan keluhan seperti nyeri dada, jantung berdebar-debar, cepat letih, atau sesak napas bisa merupakan gejala seseorang mengidap penyakit jantung. Bagi yang memiliki riwayat sering pingsan, sesak bila tidur telentang, beberapa organ tubuh membiru, serta perut dan bagian kaki bengkak juga patut waspada.

“Gejala lain yang dialami ketika seseorang terserang penyakit jantung adalah rasa nyeri yang hebat disertai muntah,” ujar Bambang. Tempat nyeri pada gangguan jantung antara lain, di belakang tulang dada, di belakang tulang dada menjalar ke leher, atau dari dada menjalar ke bahu. Lokasi lain adalah, dari dada menjalar ke rahang, kemudian dari dada bawah di ulu hati disertai daerah punggung di antara kedua tulang belikat. Jika merasakan gejala seperti yang disebutkan di atas, Bambang menyarankan agar segera melakukan diagnosis dini.

Namun, ada sejumlah faktor risiko yang bisa dimodifikasi dengan perubahan gaya hidup. Yaitu jika memiliki dislipidemia seperti kolesterol LDL tinggi, kolesterol HDL rendah dan triglicerida tinggi. Faktor lain adalah, tekanan darah tinggi, menderita kencing manis atau diabetes mellitus, kebiasaan merokok, mengalami kegemukan atau obesitas dan kurang berolahraga.

Kadar kolesterol sangat terkait dengan tingginya risiko terserang penyakit jantung koroner. Kolesterol merupakan zat berwarna putih seperti lilin yang dapat ditemukan di setiap sel tubuh. Kolesterol bisa membantu mencernakan lemak, memperkuat membran sel, dan membuat hormon. Kolesterol HDL memindahkan kolesterol jahat dari dinding pembuluh darah. Sedangkan jenis kolesterol LDL menempel pada dinding pembuluh darah, merusak dan menyumbat pembuluh darah.

Jika kolesterol bertumpuk pada dinding pembuluh darah arteri atau dikenal dengan istilah aterosklerosis, maka bisa berakibat terjadinya penyakit jantung koroner dan stroke. Atherosklerosis merupakan pembentukan plak di dalam pembuluh darah yang menyempit. Kemudian, plak dapat mengelupas dan menyebabkan timbulnya bekuan darah yang menyumbat atau thrombus.

Namun, ada sejumlah faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dengan perubahan gaya hidup adalah adanya riwayat keluarga yang mengalami gangguan jantung dan pembuluh darah, usia yang makin tua, serta jenis kelamin. “Ini merupakan faktor risiko yang tidak bisa dihindari”, tandas Bambang.  (ram)

Categories: News and RS Awal Bros Makassar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *