Anak Susah Makan, Orangtua Stres

Pertanyaan :

Siang dok, anak saya Fino ( 2 tahun, laki – laki ) susah banget makan, maunya minum susu dan ngemil. Gimana ya caranya biar si kecil makannya banyak.

Terima kasih.

Fitri, Jakarta Pusat

Jawab :

dr. Rini Purwanti, SpA RSIA Evasari

dr. Rini Purwanti, SpA
RSIA Evasari

Keluhan tersebut acap dilontarkan oleh banyak orangtua di seluruh dunia. Ya siapa sih orangtua yang tidak bingung kalau anak tidak mau makan karena sejatinya proses makan itu adalah hal yang sangat penting. Makan adalah bagian dari kebutuhan seorang anak untuk tumbuh dan berkembang. Nutrisi yang optimal didapatkan dari asupan makanan  dengan kalori yang cukup untuk memenuhi kebutuhan harian  seorang anak. Tidak heran apabila si kecil mengalami  gangguan dalam proses makan maka orangtua menjadi resah, terkadang stres dibuatnya. Gangguan proses makan bisa dalam bentuk menolak makanan, makan diemut, picky eater atau sebaliknya terlalu banyak makan yang seringnya tidak dianggap sebagai gangguan. Berbagai cara diupayakan agar si anak mau makan, mulai dari membawanya berjalan-jalan, mengubah menu, sampai pada cara instan yang paling sering dilakukan, memberi multivitamin penambah nafsu makan. Agar ayah bunda tidak terlalu stres, kita kenali yuk penyebab anaksusah makan.

Fase perkembangan normal

Perlu diketahui bahwa fase menolak makanan atau pilih-pilih makan sebenarnya masih masuk dalam perkembangan normal. Di usia 1-2 tahun, anak mulai melakukan eksplorasi cukup banyak terhadap lingkungannya sehingga kehilangan minat untuk makan karena lebih tertarik pada hal yang baru dilihatnya. Pada usia balita pula nafsu makannya tidak sebanyak saat mereka bayi karena kecukupan kalorinya pun berkurang.  Anak balita tidak tumbuh secepat bayi, terkadang untuk menambah berat  satu kilogram dibutuhkan waktu 6 bulan. Walaupun aktivitasnya meningkat, tetapi kebutuhan makannya secara fisiologis memang tidak sebanyak bayi.

Faktor gangguan medis

Selera makan anak bervariasi, dipengaruhi oleh kondisi tubuh sedang dalam fase tumbuh atau tidak, atau oleh kondisi medis dan psikis.  Pada anak sehat tanpa kondisi medis/psikis tertentu, saat ia lapar ia akan makan sesuai kebutuhannya.  Bila anak sudah beberapa saat tidak makan dan diasumsikan sudah lapar namun tetap menolak makan, maka perlu dipikirkan mungkin ia sedang sakit.

Anak yang sedang sakit akut tentu berkurang nafsu makannya. Contoh paling sederhana apabila ia sedang tumbuh gigi, maka nafsu makannya akan berkurang jauh karena nyeri di gusi saat digunakan untuk makan. Atau anak sedang selesma, wajar saja bila tidak mau makan karena hidung tersumbat dan aroma makanan tidak bisa dicium oleh indra penghidunya. Tidak perlu memaksanya makan karena  hanya akan membuatnya trauma. Kondisi ini biasanya bersifat sementara dan bila sudah sampai di fase pemulihan, secara alami nafsu makannya akan kembali.

Anak yang hilang nafsu makannya dalam jangka panjang biasanya memiliki kelainan medis kronis. Penyakit – penyakit seperti tuberkulosis, infeksi saluran kemih, gangguan syaraf dan motorik yang mengganggu proses mengunyah  dan menelan, anemia, penyakit jantung bawaan dan sebagainya sangat mungkin menyebabkan anak kehilangan nafsu makan dalam jangka panjang. Segeralah periksakan bila anak sudah kehilangan nafsu makan selama sekitar sebulan.

Faktor gangguan psikis

Jangan lupakan factor psikis pada anak yang susah makan. Sama halnya dengan orang dewasa, apabila seorang anak mengalami stress maka nafsu makannya akan jauh berkurang. Pemicu stres pada anak tentu berbeda dengan dewasa.Kelahiran adik baru, pindah rumah, pindah sekolah, ayah ibu berpisah, pengasuh berganti, kehilangan kakek nenek adalah hal yang sering dijumpai pada anak yang tiba-tiba menolak makan.Kondisi lingkungan saat makan juga banyak pengaruhnya. Misalnya saja anak akan lebih semangat makan bila ada teman, makan di restoran,  atau makan dengan piranti yang berwarna warni. Jangan buat si anak stress dengan memaksanya makan, mencubitnya, dan memukulnya. Tindakan tersebut hanya akan membuat anak semakin tidak menyukai waktu makan. Ingat tugas ayah bunda hanya menawarkannya makanan, selanjutnya kembali kepada si anak.Makanlah bersama-sama anak di meja makan.Tidak bisa dipungkiri semakin lama kebiasaan makan bersama semakin hilang karena kesibukan orang tua.

Biarkan anak makan sendiri (led-weaning method) dari piringnya sebagai upaya pembelajaran motoric kasar dan kemandirian.  Membiarkan anak makan sendiri akan mengurangi resistensi anak terhadap makanan karena berkurangnya aksi negativistic (penolakan) karena diperintah orangtuanya. Jangan lupa, anak balita sangat egois sehingga akan menolak bila diperintah sesuatu oleh orang lain. Takut kotor saat jam makan? Ah, kotor sedikit tidak apa-apa kan?

Faktor menu

Yang sering terlupakan adalah faktor menu makan si kecil. Rasa makanan yang hambar, menu harian yang tidak bervariasi, atau penampakan masakan yang tidak menarik tentu akan sangat berpengaruh pada pola makan anak. Anak makan dengan menggunakan matanya, baru setelah dia tertarik maka akan dilanjut dengan memakannya. Bila si kecil ayah bunda tidak pernah mau makan di rumah, tetapi di restoran cepat saji makan dengan lahap, artinya sangat mungkin ia bosan dengan menu makanan rumahnya atau tidak suka dengan suasana makan di rumah. Segera ubah menu makanan anak dengan bentuk dan rasa yang variatif.Ketelatenan ibu-ibu Jepang untuk membuat anaknya mau makan menu rumahan dengan membuat bento yang menarik perlu ditiru.

Makan pun tidak wajib dengan nasi ya, ayah bunda. Karbohidrat utama orang Indonesia adalah nasi tetapi masih banyak sumber karbohidrat lainnya. Mie, pasta, jagung,  roti, sereal, singkong adalah beberapa dari sekian jenis sumber karbohidrat. Andai  si kecil tidak makan nasi, selama kebutuhan karbohidratnya terpenuhi dari sumber lain, maka tidak ada yang dicemaskan.  Susu dan camilan pun harus dikurangi karena bila berlebih maka si anak tidak akan merasa lapar dan otomatis mengurangi selera makannya.

Anak yang picky eater terkadang meniru kebiasaan orangtuanya. Andai orangtua tidak menyukai satu jenis makanan, maka sangat besar si anak akan mengikuti kebiasaan tersebut. Si Mama sedang diet dan tidak makan siang? Maka si kecil akan menganggapnya sebagai contoh. Teladan baik orangtua dalam proses makan anak sangat mempengaruhi perilaku makannya.

Berikut adalah 8 feeding rules (aturan makan) yang bisa diaplikasikan untuk membantu anak melewati fase tutup mulutnya.

  1. Beri contoh yang baik. Semakin baik pola makan orangtua, semakin baik pola makan anak. Sediakan lebih banyak sayur dan buah dibandingkan camilan manis di rumah.
  2. Variasikan menu makan besar dan camilan sesering mungkin. Kurangnya variasi rasa, tekstur dan warna makanan akan menghambat perkembangan otot dan syaraf di daerah langit-langit mulut si anak.
  3. Berbagi tanggungjawab. Tugas orangtua hanyalah sebatas menyediakan makanan sehat yang dianggap perlu dimakan oleh anak. Tugas anak adalah memutuskan apakah ia akan memakan makanan tersebut dan berapa banyak yang ingin dimakan. Bila si anak menolak makan di waktu makan saat itu, tarik piringnya kemudian sajikan hal yang sama di jam makan berikutnya. Bila dia tidak makan di jam makan sebelumnya, maka anak yang sehat akan merasa  lapar dan makan lebih banyak.
  4. Jangan mudah menyerah. Seorang anak bisa menolak sampai 15 kali sebelum mau mencoba rasa yang baru. Bila saat ini dia menolak, belum tentu dia tidak suka rasa tersebut. Berikan kembali berulang-ulang di lain kesempatan.
  5. Buat jam makan menjadi menyenangkan. Jangan marah dan mencubit anak karena akan membuat si anak trauma makan.
  6. Jangan berlebihan. Anak makan dengan porsi kecil menyesuaikan lambungnya yang juga masih terbatas kapasitasnya. Berikan makanan dalam porsi kecil dan sesering mungkin. Melihat porsi makan yang terlalu besar akan menakutkan anak dan mengintimidasi orangtua apabila anak tidak dapat menghabiskan porsinya.
  7. Menyelesaikan makan dalam 30 menit. Waktu makan tidak boleh terlalu panjang karena tidak akan efektif. Seberapapun porsi anak yang dihabiskan, setelah 30 menit jangan dilanjutkan. Bila porsi makan di saat sebelumnya sedikit, anak sehat akan makan lebih banyak di jam makan berikutnya.
  8. Tetap tenang dan sabar.  Ingat: makan bukan sekedar soal nutrisi tapi lebih kepada pembelajaran dan pembentukan ikatan emosi anak-orangtua. Anak yang bahagia tentu lebih nyaman dan lebih berselera makan dibanding anak yang kurang bahagia.

Semoga artikel ini dapat membantu ayah bunda mengenali penyebab gerakan tutup mulut si kecil dan segera dapat mencari solusinya.Happy eating!

Sumber bacaan:

Adverson JC (2006). Swallowing and feeding in infants and young children. GI Motility (online). Tersedia: http://www.nature.com/gimo/contents/pt1/full/gimo17.html.

Chatoor I. Sensory food aversions in infants and toddlers. Zero to three 2009:44-9.

Arts-Rodas DA, Benoit D.Feeding problems in infancy and early childhood: Identification and management. Paediatr Child Health 1998; 3(1): 21–27.

Steinberg C. Feeding disorders of infants, toddlers, and preschoolers. BCMJ 2007; 49(4): 183-6.

Categories: Consultation, RS Evasari, and Uncategorized.

Comments

  1. Hello! I know this is sort of off-topic but I had to ask. Does operating a well-established blog like yours require a lot of work? I am brand new to blogging however I do write in my diary everyday. I’d like to start a blog so I can share my own experience and views online. Please let me know if you have any recommendations or tips for brand new aspiring bloggers. Thankyou!nn1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *