Tak Lebih Baik Dari Kopi

cover ed 50

dr. Brain Gantoro, SpGK Spesialis Gizi Klinik RS. Awal Bros Batam

MAJALAH BATAM POS | HALAMAN 26 | EDISI 50

Sebuah studi terbaru yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan Association for Psychological Science di Washington DC, yang dirilis jpnn.com (Grup majalah.batampos.co.id), menyatakan jika minuman suplemen energi sama halnya dengan kafein biasa. Meskipun produsen suplemen memberikan label “campuran bahan khusus” pada produknya, fakta yang didapatkan studi tersebut menyatakan minuman energi bekerja tidak lebih baik dari kafein biasa dan tidak membantu seperti iklan produsen. Menurut laman foxnews, Rabu (5/6/2013), para peneliti memeriksa aktivitas otak responden. Secara khusus, para peneliti lantas melihat seberapa cepat otak menanggapi perubahan yang muncul di layar komputer. Sebelum beraktivitas, peserta diminta mengonsumsi delapan ons air putih, minuman mengandung kafein, serta minuman energi. Hasilnya, selama tes diberikan, peserta yang minum minuman berkafein memiliki respon otak lebih cepat, dibandingkan dengan mereka yang minum air putih. Tetapi tidak ada perbedaan aktivitas otak antara mereka yang mengonsumsi minuman kafein, dengan mereka yang mengonsumsi minuman suplemen energi. “Banyak orang mengambil minuman energi karena mereka berpikir dapat memperoleh dorongan tambahan atas kafein,” kata Chelsea Benham, seorang mahasiswa di Centre College di Danville. “Namun studi menunjukkan benar-benar tidak ada perbedaan,” lanjutnya. Dalam hal meningkatkan konsentrasi, secangkir kopi akan melakukan hal yang sama layaknya minuman energi. Pada 2012, FDA (Food and Drug Administration) mengatakan telah menerima laporan masalah kesehatan yang berhubungan dengan minuman energi, termasuk serangan jantung dan kematian, meskipun laporan itu tidak membuktikan bahwa minuman energi adalah penyebab masalah ini. Beberapa ahli kesehatan telah khawatir tentang kombinasi senyawa dalam minuman energi, dan menyerukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan jumlah aman untuk dikonsumsi. Pasalnya, minuman energi dapat mengandung bahan kimia seperti guarana, taurin, L-karnitin, ginseng, dan yohimbine. Menurut Dokter Spesialis gizi Klinis Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Batam, dr Brain Gantoro, SpGK, pada umumnya bahan inti dari minuman suplemen berenergi adalah kafein.

Kafein sendiri lebih dikenal masyarakat umum terkandung dalam kopi atau teh. Maka dari itu, tak salah jika Nur beranggapan bahwa efek dari minum kopi dan minum suplemen tak berbeda. Lalu, bagaimana cara kerja kafein dalam tubuh manusia? “Kafein meningkatkan metabolisme tubuh sehingga denyut jantung meningkat sehingga atensi darah juga meningkat,” papar dr Brain di ruang kerjanya, Kamis (27/2). Menurut dr Brain, kafein tidak berbahaya bagi tubuh manusia jika masih dalam batas yang masih bisa diterima. Batas kafein yang bisa diterima orang dewasa, lanjutnya, 60 miligram per hari. Bagaimana efek bagi orang yang mengonsumsi kafein secara berlebihan? “Akan meningkatkan denyut jantung, dan bisa terjadi hipertensi,” jawabnya. Ketentuan WHO, kata dr Brain, hipertensi ada dua tahap. Tahap pertama hipertensi di atas angka 140/Milimeter Merkuri (Hydrargyrum) (mmhg), dan hipertensi tahap kedua di atas angka 160 mmhg. “Sebenarnya minuman suplemen itu tidak berbahaya selama bahan-bahannya sesuai dengan yang tertera dalam komposisi yang ditulisnya, tapi akan berbahaya jika ada zat yang disembunyikan,” terangnya. Dampak buruk kafein bagi tubuh selain bisa menyebabkan hipertensi, juga bisa meningkatkan sekresi asam lambung. “Kalau daya tahan tubuhnya biasa-biasa saja bisa menyebabkan tukak lambung atau maag,” dr Brain menerangkan. Namun kabar baiknya adalah kafein bisa mengurangi penyakit di liver (hati). “Pelemakan di sel hati bisa berkurang ketika proses metabolisme,” ucapnya. Liver merupakan tempat penetralisir segala macam bahan-bahan asing yang masuk ke dalam tubuh, sehingga kerjanya cukup berat. “Hati itu kemampuannya besar sekali, namun jika terlalu banyak yang dikelola akan menimbulkan kerusakan hati,” katanya. Selain minuman suplemen berenergi, minuman suplemen dengan kandungan glukosa dan elektrolit, dan minuman dengan oksigen (O2) juga populer di pasaran. Minuman dengan kandungan glukosa dan elektrolit yang fungsinya untuk menggantikan secara cepat keringat yang keluar karena beraktivitas, menurut dr Brain, kandungan glukosanya 4 persen dan itu sesuai dengan cairan tubuh, yakni kepekatan karbohidratnya sama 4 persen. “Kandungannya mudah diserap karbohidrat dalam tubuh,” katanya. Sedangkan minuman beroksigen yang beredar di pasaran mengandung 80 ppm (part-per million/ (bpj) bagian perjuta), sedangkan air mineral yang normal hanya mengandung 50 ppm. “Kalau pasien hipoksia (kekurangan oksigen) jika minum minuman dengan kadar 80 ppm tidak akan mengatasi masalah,” tukasnya. Sebenarnya, suplemen tidak hanya dalam bentuk cair, suplemen juga bisa ditemui dalam bentuk tablet, bubuk, dan kapsul. “Semua suplemen bukan untuk mengobati, itu hanya penunjang kesehatan.” Agar minuman suplemen tidak membawa dampak buruk bagi tubuh, dr Brain menyarankan agar mengonsumsi setengahnya saja dari yang dianjurkan. “Misalnya di situ tertulis tiga kali sehari, untuk amannya minum aja satu setengahnya,” ungkapnya. “Dan kalau bisa baca dulu komposisinya untuk menyakinkan,” sarannya. (yusuf hidayat)

http://majalah.batampos.co.id/

http://issuu.com/majalahbatampos/docs/edisi50?e=7455969/6931674

Categories: Media Clipping, News, RS Awal Bros Batam, and Uncategorized.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *