Amarah Bisa Merusak Jantung

Maryana, M.Psi., Psi Psikolog RS Awal Bros Batam

Maryana, M.Psi., Psi
Psikolog
Rumah Sakit Awal Bros Batam

Amarah merupakan salah satu bentuk emosi yang diekspresikan di saat kita merasa tidak tidak senang terhadap sesuatu atau sesuatu tersebut tidak sesuai dengan harapan. “Secara psikologis marah itu karena ada tekanan atau stres, biasanya kalau stres itu berpengaruh ke fisik. Tekanan darah meninggi kemudian berpengaruh ke jantung,” kata psikolog Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Maryana Mpsi di ruang praktiknya, Jumat (24/4).

Peneliti Redford Williams sebagaimana dilansir laman Fox News, Senin (20/4) kemarahan juga bisa menyebabkan masalah tidur, overeating dan resistensi insulin yang bisa menimbulkan diabetes. “Kemarahan bisa mengakibatkan masalah baik pada fisik maupun mental Anda,” kata peneliti Redford Williams yang dikutip jpnn.com, Senin (20/4).

Kemarahan bisa melepaskan hormon adrenalin dan kortisol ke dalam aliran darah yang memicu peningkatan denyut jantung, tekanan darah dan metabolisme gula. “Jika Anda semakin marah dan agresif, maka hal ini juga bisa meningkatkan nafsu makan,” kata Scott Wetzler, wakil ketua departemen psikiatri di Montefiore Medical Center di New York. Terlalu sering marah juga berbahaya, terutama bagi orang-orang yang sudah memiliki risiko penyakit jantung. Selama ini, penyakit jantung merupakan penyebab utama kematian di AS. Maka dari itu, amarah itu harus dikelola dengan benar agar tidak membahayakan kesehatan.

Menurut Maryana ada dua cara mengontrol amarah, yaitu mencari tahu sumber amarah dan berpikir cara mengekspresikan amarah. Maryana menyatakan setiap orang sebaiknya kenal dengan berbagai jenis label emosi, seperti marah, kecewa, senang, sedih, atau putus asa.Dengan mengenal emosi orang akan lebih mudah untuk mengontrolnya. “Orang yang mengenal emosi lebih mudah menghargai diri sendiri dan orang lain,” tutur psikolog asal Pulau Belakangpadang ini.

Mencari sumber amarah, lanjutnya, perlu diajarkan sejak dini. Tapi bagi orang yang sudah dewasa, dengan menarik nafas panjang sebanyak tiga kali akan membuat emosi menjadi lebih baik. Setelah itu, berpikirlah yang tenang, dan mencari tahu amarahnya karena apa. “Biasanya jika dikasih jeda akan lebih baik. Ada kesempatan melegakan pernafasan dan kesempatan berpikir, baru setelah itu merespon marah,” terangnya. “Itu namanya respon tertunda,” imbuhnya.

Langkah kedua mengatasi amarah adalah dengan cara berpikir cara mengekpresikan amarah. Amarah, kata Maryana, sebaiknya tetap diekspresikan. “Paling baik dengan cara berbicara tapi pilih kata yang baik dan informasi yang teratur.” Setiap orang punya cara mengekspresikan rasa marah. Namun yang perlu diperhatikan dalam mengelola rasa amarah adalah pengalihan. Mengambil nafas sejenak termasuk teknik untuk mengalihkan amarah. “Marah itu reaksi emosi yang wajar, sama dengan tertawa, atau sedih, cuma bagaimana mengelolahnya saja yang perlu dipelajari. Kalau sudah menemukan cara mengekspresikan marah, berbicaralah dengan tenang,” paparnya. ***

Sumber : Majalah Batam Pos Ed. 109 | www.majalah.batampos.co.id

Categories: Media Clipping, RS Awal Bros Batam, and Uncategorized.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *