Psikologi: Identifikasi Diri Pada Anak – Oriza Sativa

IMG-20150913-WA0000

Sumber: Majalah Intisari Kompas Gramedia

Narasumber: RA. Oriza Sativa S.Psi, Psi, CH, CCR – RS Awal Bros Bekasi

Pada umumnya orang mafhum, seorang ibu akan lebih dekat dengan anak-anaknya karena punya lebih banyak kesempatan untuk bersama-sama dirumah. Nah, bagaimana dampaknya kalau ternyata sang ayah yang justru memiliki waktu lebih banyak untuk anak?

Menurut psikolog yang berpraktik di RS Awal Bros Bekasi  ini, orang tua harus mewaspadai proses identifikasi pada anak. Pada proses yang terjadi di usia 6-12 tahun ini, anak-anak akan mengidentifikasi atau bertingkah laku seperti figur sejenis yang dekat dengannya, dalam hal ini seperti ayah dan ibu, orang terdekat, atau bahkan tokoh idola.

Contohnya, anak perempuan akan meniru figur sejenisnya, yaitu ibunya. Anak laki-laki akan mengidentifikasi ayahnya. Nah, ternyata jika anak perempuan diasuh oleh ayahnya, maka mereka akan memiliki sikap maskulin yang lebih besar dibandingkan sikap feminin. Misalnya sifat kepemimpinan, keberanian, ketegasan, cekatan, lebih aktif, dan mengedepankan logika. “Biasanya anak perempuan akan tomboy. Namun, itu juga tidak berdampak buruk dan berbahaya,” tutur Oriza.

Sementara laki-laki yang diasuh oleh ayahnya, akan memiliki sifat maskulin yang lebih kuat. Hal ini juga tidak menjadi masalah. “Yang dikhawatirkan jika terjadi perceraian dimana anak laki-laki diasuh sepenuhnya oleh ibu. Jika memiliki sikap feminin lebih besar dibandingkan sikap maskulin, anak tersebut menjadi gemulai atau lembut seperti perempuan,” pungkas Oriza.

Penelitian tentang anak perempuan dalam asuhan ayah ini pernah dimuat di Psychological Science, Agustus 2014. Anak-anak perempuan itu ternyata diketahui memiliki cita-cita di luar kelaziman anak perempuan pada umumnya seperti astronot, ahli geologi, insinyur, polisi, pemain sepak bola dan ahli biologi kelautan.

Sedangkan pada anak laki-laki yang diasuh oleh ayah akan memiliki cita-cita atau berkarier menjadi dokter bedah, insinyur dan chief executive officer atau pemimpin perusahaan.

Melawan Ego

Di mata Oriza, lelaki yang menjadi bapak rumah tangga bukan berarti memiliki kendala yang lebih besar dibandingkan dengan ibu rumah tangga. “Kendala terberat adalah melawan ego kelakiannya. Terlebih mereka yang dibesarkan di tengah kultur patriarki yang sangat kuat, seperti Indonesia,” tutur psikolog kelahiran Palembang 1976 ini.

Kesiapan menjadi bapak rumah tangga tergantung daru nilai maskulinitas yang dipegang dan konsep diri yang dimiliki. Lelaki yang memegang kuat nilai maskulinitas tradisional bakal menemukan tantangan terberat. Cara pandang seperti ini akan berdampak konsep diri yang negatif, seperti pola pikir negatif, perasaan rendah diri, merasa tidak berguna dan berharga, kecewa, serta merasa “kecil”, Ujung-ujungnya dapat timbul kecemasan dan akhirnya depresi.

Bapak rumah tangga yang merasa tersiksa, tak akan mampu menjalankan tugas secara maksimal. Dikhawatirkan depresi itu bisa dilampiaskan kepada anak-anaknya. Bapak rumah tangga yang depresi biasanya akan malas bekerja dan mudah tersinggung. “Tapi yang dikhawatirkan jika ia tempramental atau kasar terhadap anaknya,” kata Oriza.

Sebenarnya tak ada yang salah dengna pekerjaan bapak rumah tangga, meski sulit menepis pandangan masyarakat yang negatif. Akan tetapi, saran Oriza tak perlulah mendengar pandangan tersebut selama pertukaran peran terjadi atas persetujuan kedua belah pihak. SUami harus bangga dengna perannya dan menjalankan kewajibannya.

Suami-istri juga harus saling mendukung secara emosional. Dukungan emosional yang kuat akan membuat seseorang semakin mantap dan tidak mudah tersindir oleh pandangan miring.

 

Categories: Media Clipping, RS Awal Bros Bekasi, and Uncategorized.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *