Apakah Anak Saya Menderita Penyakit Jantung Bawaan?

Screenshot_2015-09-22-15-54-13

Selain sakit akibat infeksi, beberapa penyakit lain pada anak menjadi perhatian, salah satunya adalah penyakit jantung bawaan pada anak (PJB anak).

MajalahKartini.co.id – Anak yang sehat menjadi dambaan setiap keluarga. Bila seorang anak sakit, seluruh keluarga menjadi lumpuh karena segenap perhatian dan tenaga tercurah pada kondisi anak.

PJB anak merupakan penyakit bawaan yang memiliki variasi jenis dan kelainan yang sangat luas dan seringkali terlewatkan deteksinya.

Mengapa sakit jantung pada anak berbeda dengan pada dewasa? Jantung kita terbentuk mulai hari ke 15  kehamilan dan telah selesai pada hari ke 50, jadi pada usia kehamilan 7-8 minggu jantung telah menjalankan fungsinya.

“Pada masa itu, apabila terjadi ‘gangguan’ maka proses pembentukan struktur jantung menjadi tidak sempurna. Sakit jantung bawaan pada anak adalah kelainan struktur jantung yang sudah terdapat sejak lahir, namun gejala dan tandanya dapat timbul di kemudian hari,” tutur Dr. Nuvi Nusarintowati Mardanus,SpA(K), dari RS Evasari.

Jenis kelainannya dapat bocor pada katup jantung, bocor pada sekat, letak pembuluh darah yang tidak normal, ada bagian yang tidak terbentuk dan lain-lain. Sebagian dapat menyebabkan berkurangnya kadar oksigen darah secara keseluruhan sehingga tampak biru, namun ada juga yang seolah-olah normal.

Variasi kelainan yang sangat luas inilah yang menyebabkan PJB ini dapat tidak terdeteksi pada saat awal kehidupan. Itulah sebabnya PJB anak ada yang baru diketahui pada usia yang lebih besar bahkan dewasa.

Dokter Nuvi yang juga aktif di bagian kardiologi anak ini menerangkan seorang ibu hamil yang menderita payah jantung, setelah dideteksi ternyata terdapat kebocoran pada sekat serambi jantungnya, oleh sebab itu dikenal istilah adult congenital heart disease, penyakit jantung bawaan yang ‘terbawa’ hingga usia dewasa.

“Sayangnya sampai saat ini 90% penyebab ketidaksempurnaan pembentukan jantung belum diketahui secara pasti, 7% diduga disebabkan infeksi termasuk faktor gizi serta lingkungan dan hanya sekitar 3% diduga dipengaruhi faktor genetik,” tuturnya.

Sebagai informasi, angka terjadinya PJB pada populasi adalah 8-12 dari 1000 kelahian hidup. Dari 220 juta penduduk Indonesia, diperhitungkan bayi yang lahir mencapai lebih dari 6 juta pertahun sehingga sekitar 50 ribu  diantaranya dapat menderita PJB. Sebuah total angka yang sangat besar dan tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan terus meningkat.

Akan tetapi angka yang tinggi ini belum tergambarkan secara nyata akibat kurangnya deteksi dini PJB sehingga penanganannya pada saat ini masih belum maksimal. (Foto: Doc RS Evasari)

Categories: Media Clipping, RS Evasari, and Uncategorized.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *