Wanita, Kanker dan Jantung oleh dr. Bambang Budiono SpJP, FIHA, FSCAI

ecc2Pada umumnya, wanita lebih ‘ngeri’ bila didiagnosa kanker dibanding penyakit jantung koroner. Padahal kematian akibat serangan jantung 41/2 sampai 6 kali lipat lebih banyak dibanding dengan total kematian seluruh jenis kanker. Kematian akibat penyakit jantung koroner adalah 1/3 dari seluruh penyebab kematian pada kaum wanita. Di Indonesia belum ada data pasti mengenai prevalensi penyakit jantung pada wanita. Sekitar 2/3 (64%) dari seluruh wanita yang mengalami serangan jantung, tidak memiliki keluhan sebelumnya.
Hormon Estrogen
Wanita memiliki beberapa aspek unik sehingga berbeda dengan pria, dalam kaitannya dengan penyakit jantung koroner. Hormon estrogen menyebabkan kejadian serangan jantung pada wanita 10 tahun lebih lambat dibanding pria, sekaligus menjelaskan kenapa setelah usia 65 tahun kemungkinan untuk menderita penyakit jantung koroner untuk wanita dan pria menjadi setara.
Namun demikian, hormon estrogen akan kehilangan efek protektif apabila terdapat faktor-faktor risiko penyakit jantung koroner, seperti kebiasaan merokok, penyakit diabetes dan peningkatan kadar kolesterol darah. Wanita perokok memiliki risiko terkena serangan jantung 19 tahun lebih awal dibanding dengan wanita yang tidak merokok. Wanita dengan hipertensi 3,5 kali lebih mudah terkena penyakit jantung koroner dibanding dengan wanita dengan tekanan darah normal.

Prognosa Wanita
Fakta memperlihatkan bahwa dengan derajat penyakit dan faktor risiko yang sama, wanita memiliki prognosa yang lebih buruk dibanding pria. 42 % wanita yang terkena serangan jantung meninggal pada tahun pertama dibanding dengan 24% pada pria. Wanita yang terkena serangan jantung sebelum berusia 50 tahun, pada minggu-minggu pertama mengalami kematian dua kali lipat lebih tinggi dibanding pria. Diabetes meningkatkan risiko terkena serangan jantung kedua lebih dari dua kali lipat pada wanita dibanding pada pria. Kejadian gagal jantung setelah 6 tahun pasca serangan jantung terjadi 46% pada wanita dan 24 % pada pria.
Beberapa penjelasan berikut dapat membantu kita untuk memperoleh pemahaman mengapa wanita memiliki prognosa lebih buruk dibanding pria. Gejala serangan jantung pada wanita sering kali tidak khas. Sekitar 71 % wanita yang mengalami tanda tanda dini serangan jantung hanya mengeluh lemah badan yang luar biasa seperti terjangkit penyakit flu, acap kali tidak disertai nyeri dada sama sekali. Hampir 2/3 kematian akibat serangan jantung pada wanita tanpa disertai riwayat nyeri dada sebelumnya. Hal tersebut menyebabkan wanita sering kali terlambat mencari pertolongan medis dan dokter juga terlambat mengenali masalah yang dihadapi. Semakin lambat dilakukan pertolongan dan tindakan, semakin luas kerusakan otot yang terjadi, dan sering kali kerusakan itu bersifat permanen. Secara ringkas boleh dikatakan bahwa sistem peringatan dini pada wanita tidak sensitif untuk mendeteksi serangan, sehingga terlambat untuk melakukan antisipasi. Disamping itu, secara rerata ukuran jantung wanita lebih kecil dibanding pria, dan pembuluh darahnya lebih mudah mengalami kerusakan.
Selain berbagai hal tersebut di atas, masih ada perbedaan krusial yang berkaitan dengan distribusi plaque (tumpukan kolesterol) di dinding pembuluh koroner. Telah dibuktikan dengan bantuan IVUS (Intravascular Ultra Sound), bahwa distribusi plaque di dinding pembuluh darah pada pria sering kali lebih terakumulasi pada suatu tempat sehingga penyempitan pembuluh darah lebih mudah terdeteksi saat dilakukan angiografi koroner (kateterisasi jantung). Sedangkan pada wanita distribusi plaque lebih menyebar atau merata, sehingga terkadang menimbulkan salah interpretasi sebagai pembuluh ‘normal’.

Gejala Serangan
Mengingat nyeri dada jarang muncul sebagai manifestasi klinis serangan jantung pada wanita, maka disamping mengenali karakter nyeri dada khas seperti tertekan disertai penjalaran nyeri ke leher, rahang, punggung atas dan lengan kiri, perlu dikenal adanya tanda tanda lain, seperti nafas terasa pendek, mual atau muntah, keringat dingin tanpa penyebab jelas dan rasa lemah menyeluruh yang bersifat mendadak.(*)

Oleh;
Dr Bambang Budiono, SpJP, FIHA, FAPSIC, FSCAI
Konsultan Jantung dan Pembuluh Darah di Rumah Sakit Awal Bros

Sumber: Tribun Timur
Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Makassar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *