Trik Suntik Insulin Selama Berpuasa

JAKARTA (netralitas.com) –  Puasa Ramadhan merupakan ibadah yang wajib bagi umat muslim. Bagi penderita Diabetes Mellitus (DM) sering muncul pertanyaan apakah boleh berpuasa? Bagaimana menghadapi risiko turunnya gula darah (hipoglikemia) selama berpuasa?

“Penurunan gula darah saat berpuasa akan terjadi. Dan hal tersebut memiliki konsekuensi yang berat bila hipoglikemia yang terjadi pada penderita DM tidak mendapat perhatian yang serius,” jelas dr. Dewi Widyastuti, MSc., SpPD dokter ahli penyakit dalam RS Evasari Awal Bros, Sabtu (28/5).

Dewi menuturkan untuk penderita DM perlu pengaturan makan dan pemberian obat DM pada penderita DM agar dapat melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dengan lancar. Disebutkan,  penderita DM dapat diantisipasi dengan mengatur distribusi makanan yang merata dengan mengikuti prinsip 3J (pembatasan Jumlah makanan tertentu, pengaturan Jam makan tepat waktu, dan Jenis makanan yang variatif) sesuai tata laksana DM menurut PERKENI (Persatuan Endokrinologist Indonesia). Terutama yang harus diketahui adalah Jam makan bagi penderita DM adalah 6 kali waktu makan, yang terbagi menjadi 3 kali makan utama dan diselingi 3 kali makan snack.

“Pada kondisi biasa di luar Ramadhan hal itu lebih mudah dilakukan, namun cukup membingungkan bila dilakukan pada saat berpuasa Ramadhan,” ungkap Dewi.

Untuk itu, direkomendasikan saat berpuasa Ramadhan mengubah waktu Makan pagi – siang – malam menjadi waktu makan berbuka puasa – makan tengah malam – dan makan sahur. Serta diselingi 3 kali waktu makan snack di antara jam makan utama tersebut jika diperlukan.

Penderita DM dibagi menjadi  3 kelompok besar yaitu Kelompok Penderita DM yang terkontrol baik dengan diet. Kelompok Penderita DM yang minum obat oral (tablet/kapsul)  dan Kelompok Penderita DM yang rutin dengan suntik injeksi Insulin

Untuk kelompok pertama, biasanya risiko hipoglikemia sangat minimal karena kelompok ini terkontrol gula darahnya tanpa obat-obatan, hanya dengan melakukan modifikasi gaya hidup termasuk pola diet yang baik,  olahraga (aktivitas ringan-sedang) berjalan kaki 30 menit secara teratur, dan hindari risiko stress.

Untuk kelompok kedua, dianjurkan meminum obat sesuai jadwal makan. Untuk obat-obatan yang biasanya rutin diminum 3 kali shari (obat golongan Biguanid yaitu Metformin), maka obat tersebut selama Ramadhan dapat dikurangi menjadi 2 kali sehari yaitu setelah makan berbuka dan setelah makan sahur. Dan untuk obat-obatan yang diberikan sekali sehari (obat-obatan golongan Sulfonilurea yaitu glibenclamide, glimepiride, dan sebagainya), maka obat diberikan separuh dosis saja pada sahur karena obat golongan ini memiliki risiko yang tinggi terhadap kejadian hipoglikemia (risiko hipoglikemia terjadi pada waktu siang sampai sore).

Dan untuk obat golongan alpha-glucosidase inhibitor (obat Acarbose), obat tersebut dapat diminum bersamaan berbuka puasa maupun makan sahur, sesuai jadwal makan utama 2-3x sehari  bagi penderita DM.

Untuk kelompok ketiga, penderita DM yang rutin dengan pemberian suntikan Insulin, maka pemberiannya dapat dibagi dalam 2 atau 3 kali pemberian. Bagi yang rutin menyuntik 3 kali sehari, dianjurkan mengubah dosis dan pemberiannya menjadi 2 kali yaitu sebelum berbuka puasa dan sebelum makan sahur. Dapat juga dilakukan injeksi insulin 3 kali sehari bagi yang kotrol gula darahnya masih buruk.

“Untuk menentukan berapa besaran dosis insulin yang akan diubah atau disesuaikan untuk disuntikkan, berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter,” pinta Dewi.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan
http://netralitas.com/kesehatan/read/4824/trik-suntik-insulin-selama-berpuasa

Categories: Media Clipping, RS Evasari, and Uncategorized.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *