Puasa Aman bagi Penderita Jantung Koroner

puasa jantung
Konsumsi obat yang harus rutin membuat penderita PJK ragu untuk berpuasa. Namun konsumsi obat ini sebenarnya bisa diatasi selama puasa.

Puasa adalah suatu bentuk ibadah bagi umat muslim yang wajib dilaksanakan selama Ramadan. Saat berpuasa, seseorang harus menahan hawa nafsu, termasuk menahan makan dan minum mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

Perubahan pola makan dan aktivitas selama berpuasa sering menimbulkan keraguan bagi penderita penyakit jantung koroner (PJK). Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RS Evasari Jakarta Dr Budi Ario Tejo SpJP FIHA, pada penderita PJK, terjadi ketidakseimbangan antara suplai aliran darah koroner dengan kebutuhan jantung.

Aliran darah koroner yang baik sangat diperlukan agar otot jantung dapat bekerja optimal. Gangguan aliran darah koroner dapat menimbulkan keluhan rasa tidak nyaman di dada hingga nyeri dada yang hebat bahkan sampai kematian.

“Untuk menjaga keseimbangan aliran darah koroner yang baik, penderita PJK diharuskan untuk mengonsumsi obat-obatan setiap hari dan dianjurkan untuk berolahraga. Hal ini juga berlaku bagi penderita yang sudah menjalani pemasangan stent koroner ataupun operasi by-pass ,” ungkap Dr Budi.

Dia menuturkan, kebutuhan untuk mengonsumsi obat pada penderita PJK saat berpuasa dapat disiasati dengan mengatur waktunya. Waktu minum obat yang semula pagi atau siang hari, dapat diubah menjadi saat sahur atau berbuka. Waktu minum obat malam hari biasanya tidak mengalami perubahan.

“Obat dengan frekuensi pemberian 3 kali atau lebih, dapat diganti dengan alternatifnya yang membutuhkan frekuensi pemberian yang lebih sedikit. Apabila tidak didapatkan alternatifnya, obat dapat dikonsumsi pada saat sahur, saat berbuka, dan menjelang tidur. Harus diperhatikan pula apakah obat yang dikonsumsi sebaiknya diminum dalam keadaan perut kosong atau terisi. Hal ini penting untuk menjaga efektivitas obat dan mencegah efek samping yang tidak diinginkan,” paparnya.

Selain obat, penderita PJK stabil juga dianjurkan untuk berolahraga. Olahraga yang dianjurkan menurut Dr Budi, adalah latihan dengan intensitas ringan sampai sedang atau sesuai kemampuan. Jalan kaki, bersepeda, atau berenang merupakan jenis latihan yang sering dipilih.

Frekuensi latihan dianjurkan antara 3 sampai 5 kali seminggu dan lamanya latihan masing-masing 30 menit dan sebaiknya latihan dilakukan secara rutin. “Pada saat berpuasa, latihan sebaiknya tetap dilakukan sesuai kemampuan. Waktu latihan sebaiknya menjelang berbuka puasa untuk mengurangi risiko dehidrasi dan kadar gula darah yang terlalu rendah,” imbuh dr Budi.

Dia juga menyarankan agar pemilihan menu sahur dan berbuka sebaiknya seimbang dengan memperbanyak sayur, biji-bijian, produk susu, dan mengurangi lemak jenuh. Penderita PJK dengan hipertensi dianjurkan untuk mengurangi konsumsi garam hingga 2 gram per hari. Penderita dengan diabetes melitus (DM) dianjurkan untuk memilih menu sesuai diet DM.

“Secara umum, semua hal tersebut yang sudah dipaparkan sebelumnya dapat diterapkan bagi penderita PJK stabil yang menjalankan ibadah puasa. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang merawat. Komunikasi yang baik antara pasien dan dokter menjamin kebutuhan kesehatan dan kebutuhan beribadah dapat terpenuhi dengan baik,” pungkas dr Budi.

http://www.koran-sindo.com/news.php?r=4&n=9&date=2016-06-13

Categories: Media Clipping and RS Evasari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *