Waspadai Hipertensi Saat Hamil

hamil
Pada wanita hamil, hipertensi perlu diwaspadai. Bila tidak dikendalikan dengan baik, tekanan darah tinggi ini bisa membahayakan kesehatan janin dan ibu hamil itu sendiri.

Hipertensi dalam kehamilan sebenarnya hal yang umum terjadi pada ibu hamil. Seseorang dikatakan mengalami hipertensi pada kehamilan jika tekanan darahnya di atas 140/90 mm Hg. Pada kehamilan hipertensi memiliki tingkatan yang bertahap. Diawali dengan hipertensi kronik, hipertensi kronik dengan preeklamsia, hipertensi gestasional, preeklamsia, dan eklamsia.

Hipertensi kronik terjadi bila hipertensi terjadi sebelum hamil atau lima bulan sebelum hamil. Kebanyakan wanita tidak mengetahui dirinya mengalami hipertensi kronik karena memang tidak menyebabkan gejala. Tanpa disadari, hipertensi tersebut akan terbawa sampai hamil.

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan RS Evasari Awal Bros dr Sita D Utari SpOG menjelaskan, hipertensi kronik dengan preeklamsia adalah kondisi ketika hipertensi kronik tidak ditangani dengan baik atau telah memburuk sehingga lanjut hingga saat hamil, protein juga ditemukan pada urine. Sementara jenis hipertensi gestasional terjadi ketika tekanan darah meningkat setelah lima bulan kehamilan.

Tiga kondisi yang telah disebutkan berpotensi berubah menjadi preeklamsia, terutama jika tidak ditangani dengan benar. Preeklamsia adalah tekanan darah tinggi yang menyebabkan rusaknya organ pada tubuh dan ditemukannya protein dalam urine. Biasanya kondisi ini terjadi setelah lima bulan kehamilan.

”Tanda-tanda seseorang mengalami preeklamsia, yaitu merasakan sakit kepala yang tidak tertahankan, nyeri perut bagian atas sebelah kanan, mual, muntah, sesak napas, penglihatan memudar, jumlah urine menurun, kadar trombosit menurun, atau organ hati tidak berfungsi dengan baik,” kata dr Sita.

Sementara eklamsia terjadi ketika ibu hamil dengan kondisi preeklamsia mengalami kejang-kejang. Ini adalah kondisi terparah terkait hipertensi dalam kehamilan. Preeklamsia lebih berpotensi terjadi pada wanita yang baru pertama kali hamil, mengandung pada usia muda (di bawah 20 tahun) atau mengandung pada usia tua (di atas 40 tahun), memiliki ibu (kandung atau mertua) atau saudara dengan riwayat penyakit hipertensi terkait kehamilan, memiliki kelebihan berat badan, mengandung bayi kembar, atau memiliki riwayat penyakit kronis seperti tekanan darah tinggi, diabetes, atau masalah ginjal.

Dokter Sita menuturkan, ada beberapa dampak negatif yang timbul jika hipertensi tidak ditangani dengan baik, salah satunya aliran darah ke plasenta berkurang. Kondisi ini bisa membuat bayi dalam kandungan tidak mendapat cukup oksigen dan nutrisi, pertumbuhan janin terhambat, kelahiran prematur, bayi meninggal dalam kandungan, dan berkembangnya penyakit kardiovaskular.

”Jika seorang ibu hamil sudah sampai pada tahap preeklamsia, dia berisiko terkena penyakit kardiovaskular setelah melahirkan. Khususnya jika melahirkan bayi secara prematur. Namun, hal ini bisa diminimalkan dengan menjalani gaya hidup sehat usai melahirkan,” ujar dr Sita.

Gejala darah tinggi pada ibu hamil bisa dilihat dari tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg dan pengeluaran urine yang sangat sedikit. Nah jika saat hamil Anda buang air kecil hanya sedikit, waspadai sebagai salah satu gejala darah tinggi. Namun untuk mengetahuinya secara pasti, Anda dapat melakukan tes urine, biasanya urine penderita darah tinggi ibu hamil juga mengandung protein.

”Kenaikan berat badan yang tidak normal. Memang kenaikan berat badan merupakan hal yang normal dialami oleh ibu hamil, namun jika kenaikannya sangat berlebihan dan disertai dengan gejala lain, tentu hal ini perlu untuk diwaspadai. Pembengkakan juga merupakan tanda yang paling terasa. Pembengkakan bisa terjadi pada bagian-bagian tubuh, seperti kaki, wajah, dan bagian-bagian tubuh yang lain. Jika tanda-tanda tersebut Anda alami, sebaiknya Anda segera memeriksakan diri ke dokter,” papar dr Sita.

Hipertensi saat hamil sangat harus diwaspadai. Jika Anda terkena hipertensi saat hamil, sebaiknya jaga kesehatan dengan baik dan benar. Bumil yang terkena hipertensi juga harus rutin memeriksakan diri ke dokter kandungan agar kondisi Anda tetap terjaga.

”Ketika Anda menderita hipertensi, dokter akan memberikan obat untuk menurunkan tekanan darah. Tidak perlu khawatir obat tersebut akan memengaruhi janin karena ada beberapa obat penurun tekanan darah yang aman untuk dikonsumsi oleh ibu hamil. Ikuti pula semua petunjuk dan dosisi minum yang dianjurkan dokter. Jangan berhenti mengonsumsi atau mengganti dosis tanpa pengawasan dari dokter,” imbuh dr Sita.

Dia juga mengingatkan, kehamilan adalah masa yang sangat rawan terhadap berbagai masalah kesehatan. Untuk itu, terapkan selalu gaya hidup sehat saat hamil, seperti rutin berolahraga, mengonsumsi makanan yang bergizi misalnya sayur, buah, daging tanpa lemak, serta susu rendah lemak.

”Hindari makanan yang mengandung garam tinggi, hindari merokok dan minuman beralkohol, hindari pula obat herbal yang menurut kepercayaan bisa membantu menurunkan tekanan darah, tanpa bukti ilmiah yang kuat,” pungkas dr Sita.

http://www.koran-sindo.com/news.php?r=4&n=11&date=2016-07-22

Categories: Media Clipping, RS Evasari, and Uncategorized.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *