Waspadai Penyakit Jantung Bawaan Anak

pjb
Selain sakit akibat infeksi, beberapa penyakit lain pada anak kini menjadi perhatian dunia kesehatan, salah satunya penyakit jantung bawaan (PJB) pada anak.

Menurut kardiolog anak RS Evasari Awal Bros Dr Nuvi Nusarintowati Mardanus SpA (K), sakit jantung pada anak berbeda dengan sakit jantung orang dewasa. Jantung manusia terbentuk mulai hari ke-15 kehamilan dan telah selesai pada hari ke-50. Jadi, pada usia kehamilan 7-8 minggu jantung telah menjalankan fungsinya. Pada masa itu, apabila terjadi “gangguan”, proses pembentukan struktur jantung menjadi tidak sempurna.

Oleh sebab itu, sakit jantung bawaan pada anak adalah kelainan struktur jantung yang sudah terdapat sejak lahir, tapi gejala dan tandanya dapat timbul di kemudian hari. “Sayangnya, sampai saat ini 90% penyebab ketidaksempurnaan pembentukan jantung belum diketahui secara pasti. Sekitar 7% diduga disebabkan infeksi, termasuk faktor gizi serta lingkungan dan hanya sekitar 3% diduga dipengaruhi faktor genetik,” ucap dr Nuvi.

Bentuk penyakit jantung bawaan, antara lain jenis kelainannya dapat bocor pada katup jantung, bocor pada sekat, letak pembuluh darah yang tidak normal, dan ada bagian yang tidak terbentuk. Sebagian dapat menyebabkan berkurangnya kadar oksigen darah secara keseluruhan sehingga tampak biru, tapi ada juga yang seolah-olah normal.

“Variasi kelainan yang sangat luas inilah yang menyebabkan PJB ini dapat tidak terdeteksi pada saat awal kehidupan. Angka terjadinya PJB pada populasi adalah 8-12 dari 1.000 kelahiran hidup. Dari 220 juta penduduk Indonesia, diperhitungkan bayi yang lahir mencapai lebih dari 6 juta per tahun sehingga sekitar 50.000 di antaranya dapat menderita PJB,” papar dr Nuvi.

Menurut dia, ada beberapa tanda PJB pada anak dan beberapa hal perlu diperhatikan pada anak, seperti pertambahan berat badan, perkembangan dan pola makan pada anak. Pola makan penting diamati, apakah sejak bayi sering tersengal- sengal, ataukah tidak mampu minum ASI dalam waktu yang lama, atau pada anak yang tidak bertumbuh dengan baik sesuai grafiknya, perlu juga mendapat perhatian. Dr Nuvi juga menjelaskan beberapa jenis PJB juga akan tampak kebiruan.

Yang paling mudah diteliti adalah lidah yang akan tampak biru ungu, bahkan anak yang berkulit hitam pun, lidah normalnya akan berwarna merah muda sehingga bila tampak biru menunjukkan kemungkinan kelainan jantung.

“Ujung jari yang kebiruan kadang tidak tampak, apalagi pada anak yang pucat akibat mengalami kekurangan darah atau anemia. Pada anak yang lebih besar, bila saat aktivitas tiba-tiba sering berposisi jongkok, dapat merupakan tanda adanya kelainan jantung bawaan karena posisi jongkok membantu fungsi jantung anak dengan PJB,” tutur dr Nuvi.

Dia juga menambahkan, napas yang cepat lebih dari 40x/menit saat tidur atau istirahat merupakan tanda yang dapat menunjukkan adanya PJB. Suara napas yang terdengar pada malam hari disertai sesak juga dapat merupakan tanda adanya gagal jantung. Dr Nuvi menyarankan agar tidak perlu ragu untuk mengunjungi dokter terdekat. Sampaikan kekhawatiran orang tua, seperti berat tidak naik, sering batuk pilek, atau sering tampak lelah.

“Dokter akan lebih cermat mendengar bunyi jantung dan melakukan pemeriksaan rontgen dada. Bila kemudian dokter menduga terdapat kelainan jantung, diperlukan pemeriksaan ekokardiografi,” ujarnya. Dr Nuvi menilai, pemeriksaan ekokardiografi dapat menentukan jenis PJB anak dan dilakukan dokter anak ahli kardiologi dan dokter jantung dewasa peminatan kelainan pada anak.

Pemeriksaan ini serupa dengan pemeriksaan USG bila ibu hamil, tapi dengan menggunakan alat yang lebih spesifik. “Pemeriksaan ini dapat dilakukan kapan saja bila terdapat dugaan penyakit jantung bawaan. Pemeriksaan pada anak dan bayi memerlukan waktu paling sedikit setengah jam sehingga bila diperlukan dapat diberikan obat penenang.

Koreksi kelainan jantung sangat bergantung pada kelainan PJB yang ditemukan dan tidak semuanya dilakukan dengan operasi. Ada beberapa kelainan yang dapat diperbaiki dengan jalan intervensi di ruang kateterisasi jantung,” pungkas dr Nuvi.

http://www.koran-sindo.com/news.php?r=4&n=10&date=2016-07-20

Categories: Media Clipping, RS Evasari, and Uncategorized.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *