Perdarahan Pasca Melahirkan

Melahirkan
JAKARTA (netralitas.com) – Semua ibu hamil tentu ingin proses persalinannya kelak berlangsung aman, nyaman, lancar, dan terbebas dari komplikasi. Akan tetapi, adakalanya terjadi permasalahan yang tak diduga, salah satunya perdarahan setelah melahirkan.

Memang, selama proses melahirkan, tubuh ibu akan banyak mengeluarkan darah. Akan tetapi, ada kondisi tertentu dimana perdarahan yang terjadi terbilang banyak dan bisa menimbulkan risiko fatal.

Perdarahan pascabersalin adalah jika darah yang keluar dari tubuh ibu yang melahirkan secara normal lebih dari 500 ml. Atau pada ibu yang melahirkan dengan operasi sesar darah yang keluar sebanyak lebih dari 1.000 ml.

Nah, perdarahan pascamelahirkan ini dapat terjadi segera setelah proses persalinan selesai, beberapa jam setelah melahirkan, bahkan beberapa hari setelah ibu pulang ke rumah. Pada kasus ini, darah yang keluar berwarna merah terang.

Faktor Penyebab.
Ada beberapa faktor penyebab yang menimbulkan terjadinya perdarahan hebat ini, yaitu:
-Pada persalinan normal
-Bila terjadi robekan pada jalan lahir dan leher rahim.
Jahitan pada jalan lahir dan leher rahim yang kurang baik. Terkadang, pada persalinan normal terjadi robekan pada jalan lahir dan leher rahim. Untuk mengatasi hal ini tentu perlu dijahit. Akan tetapi, jika jahitannya kurang baik dapat menimbulkan perdarahan.
– Plasenta sudah lepas tetapi belum sepenuhnya keluar.
– Kantung ketuban masih di dalam rahim.
– Adanya infeksi pada jaringan di sekitar janin yang kemudian menimbulkan infeksi pada rahim.
Karena itu, mengontrol kehamilan secara saksama merupakan langkah penting dalam menghindarkan timbulnya perdarahan usai persalinan.

Pada persalinan sesar, rahim tak berkontraksi dengan baik. Pada persalinan sesar, perdarahan lanjutan umumnya terjadi ketika rahim tidak berkontraksi dengan baik setelah plasenta dikeluarkan. Nah, jika rahim tidak berkontraksi dengan semestinya maka pembuluh darah akan mengeluarkan banyak darah.
Hal tersebut bisa terjadi pada kehamilan bayi besar (di atas 3,5 kg) di mana regangan rahim cukup besar dan membutuhkan waktu agak lama untuk kembali ke ukuran semula.
Untuk mengantisipasi hal itu, biasanya dokter segera memberikan hormon oksitosin guna mendorong rahim berkontraksi dan menekan pembuluh darah di tempat plasenta menempel agar menutup.

Adapun beberapa kondisi lain yang membuat ibu berisiko mengalami perdarahan usai bersalin adalah:
* Usia terlalu muda (di bawah 20 tahun) sehingga alat reproduksinya belum siap untuk persalinan.
* Usia di atas 35 tahun karena risiko untuk hipertensi dan gangguan pembekuan darah lebih tinggi.
* Memiliki gangguan pembekuan darah.
* Menderita anemia.
* Pernah melahirkan lebih dari lima kali.

Risiko Fatal
Perdarahan usai melahirkan harus diwaspadai karena berisiko menimbulkan efek yang fatal. Menurut data WHO, di berbagai negara di dunia setidaknya seperempat kematian Ibu melahirkan terjadi akibat perdarahan.
Bagaimana di Indonesia? Angka Ibu melahirkan yang meninggal akibat perdarahan berkisar 28% (data Kementerian Kesehatan RI, 2010). Angka ini bahkan lebih buruk dibandingkan beberapa negara di Afrika.

Cegah Sejak Dini
Meski hingga kini jumlah kasus perdarahan usai persalinan cukup banyak, upaya pencegahan dapat dilakukan semenjak masa kehamilan. Dari awal hamil, Ibu sebaiknya memahami, apakah ada hal-hal yang berpotensi menghalangi kehamilannya.

Beberapa faktor sering kali dianggap sepele, seperti keputihan yang sebenarnya bisa menyebabkan infeksi. Oleh karena itu, bila ibu hamil sering keputihan, sebaiknya dicek di laboratorium untuk mengetahui apakah ada risiko infeksi.

Tekanan darah rendah juga bila dibiarkan hingga persalinan dapat menyebabkan kematian. Itulah mengapa, Ibu hamil dianjurkan melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin sehingga tekanan darahnya dapat terus terpantau.
Selain itu, pastikan dokter kandungan memantau kondisi kehamilan secara menyeluruh. Dengan demikian, dokter dapat mengantisipasi problem yang berpotensi muncul saat proses persalinan berlangsung, seperti gangguan pembekuan darah, kelahiran bayi besar (berat badan di atas 3,5 kg atau bayi kembar), dan posisi plasenta yang tidak pas.

Yang tak kalah penting, ibu harus rutin menjalani pemeriksaan kehamilan sesuai jadwal.

Narasumber : dr. Saiful Juhdi,SpOG
http://netralitas.com/kesehatan/read/9013/perdarahan-pasca-melahirkan

Categories: Media Clipping, RS Evasari, and Uncategorized.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *