Bekas Luka Membesar, Awas Penyakit Kulit Keloid

PENYAKIT kulit yang sering dijumpai pada masyarakat ialah benjolan kehitaman yang timbul di sekitar garis luka. Benjolan ini terjadi karena proses penyembuhan luka yang berlebihan hingga melewati garis luka tersebut.

Contohnya, sesudah digigit nyamuk akan timbul rasa gatal, lalu digaruk hingga luka. Berselang beberapa waktu, bekas luka tadi membesar hingga melewati area luka dan berwarna merah.

Kondisi tersebut dalam dunia medis disebut keloid. Sejatinya, keloid ini tidak bisa dihilangkan dan benjolan akan terus membesar.

Dokter Spesialis Bedah Plastik Rumah Sakit Awal Bros Sudirman Pekanbaru dr Kuswan Ambar Pamungkas Sp BP RE menjelaskan, untuk kondisi ini, tindakan medis yang diambil ialah memberikan suntik khusus serta gel tropical di area keloid agar proses pembengkakan dapat ditahan dan disamarkan.

‘’Dan apabila keloid terjadi pada tiga titik tertentu seperti daun telinga, sendi bahu dan kulit di bagian tengah dinding dada maka tindakan yang diambil adalah operasi. Karena titik tersebut merupakan bagian yang paling aktif, sedangkan salah satu cara penekanan agar keloid tidak membesar adalah mengurangi gerakan di sekitar area keloid,’’ ujar dr Kuswan.

Untuk daun telinga sendiri, belum ditemukan kenapa titik ini sangat rawan akan pertumbuhan keloid. Meskipun sudah melalui operasi, keloid tidak begitu saja hilang, namun akan tetap membengkak dalam waktu yang tidak ditentukan. Untuk menekan proses tersebut, pasien dianjurkan untuk melakukan konsultasi ke dokter terkait agar diberikan terapi khusus.

Namun, dalam keadaan tertentu proses pembengkakan pada area bekas luka tidak selalu bisa dikatakan sebagai keloid.

‘’Ada kondisi dimana proses pembengkakan atau kuantitas benjolan tidak mengalami pembesaran tetapi hanya terjadi pada sekitar garis luka saja. Kondisi tersebut dikenal sebagai hiportropik scar,’’ katanya lagi.

Adapun tiga pertanda bahwa proses penyembuhan luka telah selesai adalah kulit bekas luka tidak lagi berwarna merah, tidak lagi keras ketika dicubit dan tidak merasakan rasa gatal lagi.

Untuk hiportropik scar ini, benjolan tersebut tidak bisa dihilangkan begitu saja, namun dapat disamarkan dengan berbagai jenis jell.

Dr Kuswan mengatakan untuk penyakit kulit jenis ini ada dua macam. “Keloid merupakan timbulnya parit ataupun benjolan pada sekitar garis luka akibat proses penyembuhan luka yang berlebihan dan akan terus melebar. Sedangkan hiportropik scar pengertiannya hampir sama.dengan keloid, hanya saja proses benjolannya tidak akan meluas hanya terjadi pada sekitaran garis bekas luka itu saja,” tegas dokter yang telah bekerja di RS Awal Bros Pekanbaru sejak tujuh tahun silam.

Ia memaparkan proses penyembuhan bekas luka akan berhenti jika memiliki tiga tanda, antara lain kulit bekas luka tidak lagi berwarna merah, tidak lagi keras ketika dicubit dan tidak merasakan rasa gatal lagi. “Namun, jika ketiga tanda tersebut masih terjadi maka bisa dipastikan seseorang mengidap keloid dan harus diobati sedini mungkin sebelum keloid bertambah besar,” pungkasnya.

Pada kesempatan itu, dr Kuswan juga memberikan tips bagaimana cara menjaga kulit tetap sehat. Dimana menurut dr Kuswan, perhatikan bekas luka agar tidak terjadi infeksi. Dan jika ditemukan ada benjolan pada bekas luka, lebih baik dikonsultasikan kepada dokter sedini mungkin agar bisa ditanggulangi. Bagi masyarakat yang memiliki alergi terhadap makanan tertentu, seperti ikan laut, sebisanya dihindari. Agar proses penyembuhan luka berjalan secara maksimal. Hindari pemakaian obat antibiotik meskipun kulit sedang mengalami luka. Karena antibiotik itu berfungsi jika luka memang terinfeksi bakteri ataupun kuman. Barulah, antibiotik bisa dikonsumsi itupun harus melalui rekomendasi dokter.***

Sumber : Riau Pos (Minggu, 12 Februari 2017)

Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Pekanbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *