Mengenal Nyeri Lebih Dekat

MENGAPA rasa nyeri terjadi? Memahami pengertian dari rasa nyeri dan beberapa alasan kenapa seseorang mengalami rasa nyeri dengan cara yang berbeda-beda. Rasa nyeri di tubuh merupakan kejadian umum dan kadang kala mempengaruhi rutinitas sehari-hari. Jika rasa nyeri dibiarkan tanpa penanganan atau dirawat secara tidak tepat maka rasa nyeridapat menjadi kronis.
MENURUT International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah pengalaman perasaan emosional yang tidak menyenangkan akibat terjadinya kerusakan aktual maupun potensial. Nyeri dapat mengenai semua orang, tanpa memandang jenis kelamin, umur, ras, status sosial, dan pekerjaan.
Menurut Dokter Spesialis Saraf RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru dr Riki Sukiandra SpS kepada Riau Pos, Jumat (3/3), Nyeri ada dua tipe yakni nesiseptif dan neuropatik. Dimana nosiseptif : nyeri yang disebabkan oleh kerusakan jaringan, proses penyakit ataupun fungsi abnormal dari otot atau orgam dalam. Contohbya nyeri tertusuk paku, nyeri karena benturan, dan lain-lain. Nyeri bersifat akut dan merupakan respon dari stimulus luar. Sedangkan neuropatik adalah nyeri yang ditimbulkan oleh kerusakan saraf atau disfungsi saraf seperti pada diabetes mellitus, herpes zoster, HNP, Trigeminal Neuralgia, Siringomielia, dan lain-lain. Nyeri bersifat kronis dan spontan (tanpa rangsang luar pasien tetap merasakan nyeri).

Penatalaksanaan
Nyeri nosiseptif. Karena yang mendasari nyeri adalah proses inflamasi (radang), maka terapi utama adalah pemberian anti radang (NSAID/non steroid anti-inflammatory drugs). Sedangkan nyeri neuropatik sampai saat ini, tata laksana (penanganan medis) nyeri neuropatik masih merupakan tantangan besar bagi dunia kedokteran. Karena pada nyeri neuropatik sudah terjadi kerusakan saraf, apabila tidak ditangani dengan baik biasanya keluhan nyeri akan dirasakan dalam jangka waktu lama bahkan menetap, hal ini sesuai dengan sifat jaringan saraf itu sendiri yang regenerasinya tidak sempurna seperti jaringan lain. Terapi medika mentosa (obat-obatan) yang sering digunakan untuk nyeri neuropatik adalah: anti depresan seperti TCA, SSRI dan lain-lain. Anti konvulsan seperti Carbamazepin, fenitoin dan lain-lain. Opioid dan lain-lain.
Dijelaskan dr Riki, prinsip pemberian terapi nyeri berdasarkan skala nyeri (visual analog scale /skala 0-10) dan berdasarkan mekanisme nyeri itu sendiri (nosiseptif atau neuropatik).
Untuk penatalaksanaan nyeri yang lebih advance bisa dilakukan tindakan pain intervention untuk membantu penegakan diagnostik sekaligus mengurangi keluhan nyeri, di bidang neurologi sendiri, tindakan intervensi nyeri yang sering dilakukan adalah facet block intervention  yaitu memberikan injeksi analgetik dengan bantuan teknologi X-Ray  yang canggih sebagai panduan selama prosedur tindakan dilaksanakan.
‘’Pasien wajib mengetahui, jika menderita neuropatik, terapi yang dilakukan hanya untuk mengurangi rasa nyeri. Di RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru injeksi analgetik dengan X-Ray inilah yang kita gunakan untuk terapinya. Dan penggunaan alat ini guna mengurangi risiko terhadap salahnya pemberian terapi obat-obatan,’’ tegas Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) Cabang Pekanbaru ini.

Pengobatan pada Neuropatik
Pengobatan yang dilakukan untuk mengatasi neuropatik dilakukan untuk meredakan gejala yang muncul. Selain itu, pengobatan juga dilakukan untuk mengatasi penyebab dasar yang mengakibatkan munculnya neuropatik. Jadi, pengobatan tergantung pada faktor atau kondisi yang menyebabkan neuropatik sejak awal. Kebanyakan, jika penyebab dasarnya terobati, maka neuropatik yang terjadi juga akan hilang atau sembuh dengan sendirinya.
Khususnya pada neuropatik diabetes, pengaturan kadar gula dalam darah akan sangat penting dalam membantu mencegah kerusakan lebih lanjut pada bagian saraf yang sudah terpengaruh.
Jika neuropatik yang muncul karena adanya tekanan atau terhimpitnya saraf akibat tumor, maka kondisi ini bisa ditangani dengan prosedur operasi. Neuropatik karena penyakit autoimun, infeksi, penyakit ginjal, defisiensi vitamin, efek samping obat, trauma atau cedera, dan penyebab dasar lain akan membutuhkan penanganan berbeda.
Untuk menghindari neuropati ksangat tergantung pada penyebab dasarnya. Neuropatik diabetes bisa dicegah dengan menjaga dan terus memonitor kadar gula dalam darah agar tidak melebihi batas normal. Sedangkan pada neuropatik akibat kekurangan nutrisi, defisiensi vitamin, atau karena kecanduan minuman keras, bisa dicegah dengan pola makan seimbang dan membatasi konsumsi alkohol.
‘’Untuk penanganan nyeri ini, harus diketahui terlebih dahulu apa penyebabnya. Bagi masyarakat yang mengalami rasa nyeri segera periksakan diri ke dokter, jangan sampai terlambat,’’ terang Dosen Ilmu Penyakit Saraf, Bagian Saraf Fakultas Kedokteran Unri  ini.
Sumber : Riau Pos (Minggu, 05 Maret 2017)
Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Pekanbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *