Menguak Meningitis Babi

Ilustrasi (Foto : internet)

JAKARTA (netralitas.com) – Baru–baru ini banyak mendengar kabar maraknya meningitis menyerang masyarakat.  Salah satunya yakni penyakit meningitis babi yang mewabah di Bali.

Apa sih meningitis? Apa saja bahayanya? Meningitis adalah peradangan selaput otak atau meninges. Penyebabnya bermacam-macam bisa bakteri jamur virus atau yang lain. Meningitis babi adalah salah satu jenis meningitis yang disebabkan bakteri gram positif, meningitis streptococcus suis (MSS) yang penularannya dari babi ke manusia

Gejala pada pasien yang menderita meningitis babi sama seperti meningitis yang lain seperti adanya demam/riwayat demam, perubahan kesadaran, kaku kuduk (nyeri pd tengkuk), sakit kepala dan sering menimbulkan tuli saraf.

Waspadai dampak negatif atau komplikasi penyakit ini bagi tubuh. Komplikasi  paling sering terjadi bisa menyebabkan tuli. Yang lain seperti syok septik, arthritis (radang sendi), pneumonia (radang paru), endocarditis (penyakit jantung), endophthalmitis (infeksi mata) dan peritonitis bakterial (radang perut) hingga ke kematian.

Lalu bagaimana pertolongan pertama yang harus diberikan kepada pasien agar tidak terlambat bagaimana ya? Meskipun tingkat kematian dari penyakit ini bisa tinggi, bervariasi dari 7-30%, infeksi dapat dicegah dengan mengobati luka lecet dengan segera, memakai sarung tangan saat menangani daging babi, sepatu boot, cuci tangan dengan teknik yang benar, dan memasak daging sampai matang.

Pertolongan harus diberikan dengan segera mengingat cepatnya progesivitas penyakit hanya dalam beberapa hari pasien dapat koma. Jika ada tanda-tanda seperti di atas dan ada riwayat kontak atau makan dagung babi. Penderita harus langsung dibawa ke dokter utk pemeriksaan fisik, neurologis dan Laboratorium dan jika positif harus segera diterapi dengan antibiotik yg sesuai

Penyembuhan penyakit meningitis tergantung daya tahan tubuh, seberapa cepat terdeteksi dan cepatnya penanganan yang sesuai. Pemberian antibiotik sendiri sekitar 14 hari dan dapat disertai dengan pemberian terapi kortikosteroid. Pasien dapat sembuh total atau meninggalkan gejala sisa spt gangguan pendengaran. Namun bila terlambat bisa resiko kematian terjadi antara 7-30%

http://www.netralitas.com/gayahidup/read/21948/menguak-meningitis-babi

Categories: Media Clipping and RS Evasari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *