Pemeriksaan Laboratorium Virus TORCH

Sebenarnya virus TORCH tidak berbahaya bagi tubuh. Namun tidak demikian dengan wanita hamil dan orang yang kondisi ketahanan tubuhnya tidak fit. Virus ini justru berbahaya. Bagi ibu hamil, bisa menularkannya pada janin yang berakibat fatal bagi perkembangan dan kesehatan janin. Sedangkan bagi orang yang memiliki kekebalan tubuh menurun justru virus ini bisa berkembang dan membuat tubuh kita menjadi sakit.

 

Ya, TORCH adalah singkatan untuk kumpulan beberapa penyakit infeksi yang terkait dengan meningkatnya risiko terjadinya abortus atau kelainan/cacat bawaan pada janin akibat infeksi yang terjadi pada masa kehamilan.

Menurut Penanggungjawab Laboratorium Rumah Sakit Awal Bros Sudirman Pekanbaru dr Fatmawati SpPK kepada Riau Pos, Jumat (31/3), TORCH terdiri dari Toxoplasmosis, Rubella (campak Jerman), Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simpleks.

 

‘’ Toxoplasmosis disebabkan olah parasit toxoplasma gondii, sedangkan rubella, CMV dan herpes simpleks disebabakan oleh virus. Virus Herpes simpleks terdiri HSV-1 dan HSV-2. HSV-1 sering ditemukan pada infeksi di daerah mulut dan bibir sedangkan HSV-2 merupakan salah satu penyebab utama infeksi saluran kemih dan kelamin walaupun HSV-1 juga dapart ditemukan sebagai penyebab infeksi kelamin,’’ ujar dr Fatmawati.

 

Virus TORCH bisa menular. Toxoplasma dapat masuk ke tubuh manusia melalui makan daging mentah atau setengah matang yang mengandung kista toxoplasma gondii, menelan kista yang menempel pada tangan atau makanan seperti sayuran mentah yang tercemar kotoran kucing yang menganduing kista toxoplasma gondii, penularan pada tranpalansi organ yang terinfeksi toxoplasma, penularan vertikal dari ibu ke bayi melalui plasenta.

 

Rubella, penularan terjadi karena menghirup droplet dari batuk penderita rubella, penularan vertikal dari ibu ke bayi melalui plasenta. CMV, penularan melalui kontak seksual/kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, penularan vertikal dari ibu ke bayi melalyui tali pusat (plasenta). Herpes simpleks, penularan melalui kontak langsung/kontak seksual, penularan dari ibu ke bayi pada saat melewati jalan lahir, penularan vertikal pada ibu ke bayi melalui plasenta.

‘’TORCH bias menyerang orangtua dan anak muda dari berbagai kalangan dan berbagaoi jenis kelamin. Keempat infeksi tersebut tidak memberikan gejala yang berat pada orang dewasa yang terkena. Jika timbul gejala biasanya hanya berupa sering sakit kepala, radang tenggorokan, flu berkepanjangan, sakit pada otot, persendian, pinggang, sakit pada kaki, lambung, mata dan sebagainya,’’ sebut dr Fatmawati.

 

Dijelaskannya, gejala yang berat dapat timbul hanya pada orang dewasa dengan penurunan data tahan tubuh yang hebat seperti penderita HIV atau orang yang mendapat obat penekan respon imun seperti pada orang yang menjalani transplansi organ. Infeksi pada wanita yang terjadi selama kehamilan dapat menular pada bayi dan meningkatkan risiko terjadinya keguguran, bayi baru lahir mati atau bayi dengan cacat/kelainan bawaan yang serius pada bayi.

Oleh karena itu, pemeriksaan TORCH penting dilakukan pada ibu hamil untuk mengetahui adanya infeksi pada ibu hamil yang dapat menimbulkan risiko terhadap janin yang dikandungnya. Pemeriksaan TORCH juga dapat dilakukan pada wanita yang berencana untuk hamil guna mengetahui kondisi kesehatan sebelum hamil. Selain itu, pemeriksaan ini juga perlu dilakukan pada seorang bayi yang menunjukkan gejala yang sesuai dengan salah satu infeksi bawaan tersebut.

 

Gejala kelainan bawaan akibat infeksi TORCH pada bayi baru lahir di antaranya: Toxoplasmosis bawaan yakni kelainan mata (korioretinitis) dan telinga, retardasi mental dengan gangguan motoric, perkapuran/kalsifiksi intraserebral, kejang dan ensefalitis, pada bayi premature dapat terjadio pembesaran hati, limpa dan kelenjer getah bening, hidrosefalus dan mikrosefalus. Pada rubella (campak Jerman) yakni kebutaan, tuli, kelainan jantung, keterbelakangan mental. Pada CMV yakni pembesaran hati dan limpa, berat badan lahir rendah, kuning/ikterik, ruam pada kulit. Pada Herpes simpleks yakni bayi lahir mati, bayi ikterik, bayi dengan lepuh kecil di kulit atau mulut, kejang, gangguan nafas, mudah terjadi perdarahan.

 

‘’Pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi adanya infeksi TORCH yang umum dilakukan adalah pemeriksaan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap keempat jenis organisme ini. Secara umum jika seseorang terinfeksi, maka sistem kekebalan tubuhnya akan bereaksi membentuk antibodi. Pemeriksaan antibody terhadap TORCH dalam darah wanita hamil biasanya dilakukan pada trisemester pertama kehamilan dan pemeriksaan terhadap antibody ini pada prinsipnya hanya merupakan pemeriksaan awal 9penyaringan). Jika hasil pemeriksaan antibody dalam darah memberikan hasil posistif sebaiknya dikonfirmasi dengan pemeriksaan lain yang lebih canggih sewperti pemeriksaan cairan ketuban yang diperiksa dengan metode polymerase chain reaction (PCR) untuk mencari DNA parasit atau virus,’’ paparnya.

 

Infeksi TORCH bias dicegah dengan meningkatkan daya tahan tubuh, menjaga kebersihan dan hygiene dengan meningkatkan kebiasaan cuci tangan dengan sabun sampai bersih, mencuci bersih sayuran mentah yang akan dimakan, menghindari makan daging mentah atau yang dimasak setengah matang, mengurangi kontak langsung dan erat dengan penderita campak dan herpes, pengobatan infeksi toxoplasma dalam kehamilan dengan pemberian antibiotik untuk mencegah toxoplasmosis kongenital, vaksinasi campak terutama pada wanita usia subur, prosedur melahirkan dengan section caessaria pada wanita hamil dengan lesi herpes simpleks aktif pada genital.***

Sumber : Riau Pos, 02 April 2017

 

Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Pekanbaru.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *