Waspadai Peredaran Obat Palsu

AKHIR-AKHIR ini banyak beredar obat palsu. Bahkan ada apotek dan toko obat yang ikut menjual obat palsu ini. Untuk itu, masyarakat sebagai konsumen harus hati-hati dalam membeli obat.

Bagaimana cara konsumen agar terhindar dari obat palsu ini? Penanggungjawab Instalasi Farmasi Rumah Sakit Awal Bros Sudirman Pekanbaru dr Dina Fauzia SpFK kepada Riau Pos menjelaskan, rumah sakit yang sudah terakreditasi salah satu yang bisa memutus mata rantai peredaran obat palsu ini. Karena rumah sakit memiliki standarisasi dalam penyediaan dan pembelian obat.

Obat palsu ada beberapa bentuk. Untuk itu, konsumen harus mengetahui lebih jelas dan detail seperti apa obat palsu tersebut agar terhindar dari akibat yang ditimbulkan obat palsu ini. Obat palsu tidak hanya membuat penyakit tidak sembuh, tetapi juga bisa mendatangkan kematian. Dari sudut hukum, ini bukan hanya sekadar pemalsuan merek atau pemalsuan paten, tetapi juga merupakan tindak pidana yang membahayakan jiwa manusia.

Obat yang masuk dalam golongan obat palsu adalah obat yang dibuat dengan bentuk dan kemasan sama seperti obat asli, tetapi tidak mengandung bahan  berkhasiat, obat yang dibuat menyerupai obat asli tetapi mengandung bahan berkhasiat yang berbeda, obat yang mengandung bahan berkhasiat yang benar ataupun yang di bawah standar, diproduksi, dikemas dan diberi  label yang sama seperti produk aslinya, tetapi bukan dibuat oleh produsen aslinya.

‘’Pemalsuan obat dapat terjadi pada semua jenis obat, seperti pada pereda rasa nyeri, antibiotik, obat disfungsi ereksi dan obat pelangsing,’’ ujar dr Dina.

Jika konsumen/pasien mengonsumsi obat palsu ini dapat berakibat bagi kesehatannya seperti kondisi pasien tidak membaik, kondisi pasien bertambah parah, bahkan bisa berakibat fatal seperti menyebabkan kematian, biaya pengobatan menjadi lebih tinggi, karena timbul komplikasi penyakit  dan masa terapi  yang lebih lama.

Secara kasat mata, obat palsu sangat sulit dibedakan dengan obat yang asli. Obat palsu memiliki bentuk, warna, dan kemasan yang mirip dengan bentuk aslinya. Hanya pengujian laboratorium yang dapat membedakan di antara keduanya.. Namun, bukan berarti masyarakat tidak dapat menghindar dari obat palsu tersebut.

Untuk itu, masyarakat diimbau agar berhati-hati dalam membeli obat. Dr Dina pun memberikan beberapa tips sebagai upaya untuk menghindari obat palsu yakni; pertama, belilah obat di tempat penjualan resmi. Untuk obat keras selalu beli di apotek dengan menggunakan resep dokter. Lihat pula label yang tercantum pada kemasan obat seperti nomor izin edar, nama obat dan alamat produsen serta tanggal kadaluarsa produk. Kedua, obat palsu biasanya harganya lebih murah dari pada obat aslinya, oleh karena itu jangan mudah tergiur oleh harga murah. Obat palsu dan obat illegal (obat tanpa izin edar) sering ditemukan di dagang pakai gerobak di pasar atau di pinggir jalan, penjualan freelance atau per orangan, penjualan lewat internet (online).

‘’Tips agar tidak tertipu mengonsumsi obat palsu yang pertama adalah dengan memahami apa saja prinsip obat yang aman. Sekali lagi, kita tidak boleh sembarang membeli dan mengonsumsi obat. Anda harus berpedoman pada prinsip penggunaan obat yang aman dengan 3 faktor yakni komposisi yaitu mengetahui zat aktif yang terkandung dalam obat, dari zat tunggal dan kombinasi berbagai macam zat. Kemudian, indikasi dengan mengetahui mengenai khasiat obat. Serta aturan pakai atau mengetahui cara penggunaan dan konsumsi obat,’’ sebutnya panjang lebar.

Dr Dina juga menjelaskan hal yang perlu dilakukan konsumen/pasien adalah pastikan untuk selalu membeli atau menebus resep obat hanya di apotek atau sarana pelayanan kesehatan yang memiliki izin resmi, saat membeli obat, perhatikan kemasan obat, apakah masih tersegel dengan baik. Perhatikan juga label obat dan tanggal kedaluwarsanya, serta warna kemasan obat, waspada jika ada perbedaan harga obat yang signifikan, sampaikan pada dokter jika tidak juga membaik setelah minum obat yang diresepkan. Bawa serta kemasan obat yang Anda curigai ke dokter untuk mengetahui apakah obat yang Anda minum palsu atau tidak, musnahkan dan hancurkan obat yang sudah kedaluwarsa, rusak, atau tidak terpakai agar tidak disalahgunakan pihak yang tidak bertanggung jawab.

‘’Ada proses pemberian informasi sebelum pasien/konsumenmenggunakan obat dengan benar. Pasien mendapat penjelasan dari tenaga medis mengenai penyakitnya dan apakah perlu obat atau tidak. Kalau perlu obat, dijelaskan juga bagaimana kerja obat tersebut dan efek samping yang mungkin timbul. Itulah yang kita lakukan kepada pasien yang berobat di RS Awal Bros Sudirman dalam mengambil obat berdasarkan resep dokter di Instalasi Farmasi RS Awal Bros,’’ tegasnya.

Dijelaskan dr Dina, Rumah sakit awal Bros Sudirman Pekanbaru memiliki mekanisme membeli obat dari distributor resmi. Rumah sakit harus memastikan hanya satu suplayer resmi. Khusus rumah Sakit Awal Bros Sudirman. rumah sakit tidak lagi membolehkan pasien membeli obat di luar namun harus membelinya di instalasi Farmasi rumah sakit. Hal ini dilakukan untuk memastikan keaslian obat yang dikonsumsi pasien.

‘’jika pasien ingin menebus obat di Instalasi Farmasi RS Awal Bros Sudirman, petugas farmasi/apoteker melakukan beberapa hal di antaranya mengkasi resep dokter yang diberikan kepada pasien apakah antara obat yang satu dengan obat yang lainnya saling berinteraksi. Bila ada interaksi, maka petugas memberikan saran kepada dokter agar mengganti obat tersebut dengan jenis berbeda dan jika dokter setuju baru obat diberikan,’’ terangnya.

Sumber : Riau Pos, 09 April 2017

 

Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Pekanbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *