Bayi Tabung , Trend atau Kebutuhan?

SEJAK bayi tabung  atau inseminasi buatan dimulai pada tahun 1977 oleh P C Steptoe dan R G Edwards, diikuti dengan lahirnya  Louise Brown sebagai bayi pertama hasil  program bayi tabung (IVF) di Oldham England pada 25 Juli tahun 1978, metode ini semakin berkembang dan semakin diminati. Meskipun masih banyak pertentangan tentang boleh tidaknya cara bayi tabung dalam agama atau kepercayaan tertentu, namun metode ini tetap jalan terus sampai sekarang untuk memberikan solusi bagi pasangan yang kurang subur untuk memperoleh keturunan yang diidamkan. 
Bayi tabung alias in fitro vertilization (IVF) merupakan suatu pilihan alternatif bagi Anda yang ingin punya anak. Bayi tabung dilakukan dengan cara menggabungkan telur dan sperma di luar tubuh. Kemudian, sel telur yang sudah dibuahi dan sudah dalam fase siap akan dipindahkan ke dalam rahim wanita. Begitulah penjelasan sederhana tentang bayi tabung.
‘’Namun, sebenarnya proses bayi tabung berlangsung sangat panjang karena diperlukan persiapan yang matang,’’ ujar Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Kebidanan dan Kandungan) Rumah Sakit Awal Bros Sudirman Pekanbaru dr Zaldy Zaimi SpOG kepada Riau Pos, Kamis (27/4).
Proses bayi tabung ini harus dilakukan oleh dokter spesialis kandungan secara profesional dan sesuai indikasi, bukan karena mengikuti gaya hidup atau karena alasan alasan non medis lainnya. Program bayi tabung merupakan salah satu metode untuk pasangan suami istri yang menginginkan kehamilan dan biasanya metode ini merupakan pilihan  terakhir karena telah melakukan berbagai hal pengobatan kesuburan selama beberapa tahun, namun tidak kunjung berhasil.
Sebelum memulai proses bayi tabung, lanjut dr Zaldy, ada beberapa hal yang harus diketahui sebagai anamnesa atau pemeriksaan  awal  seperti bagaimana dengan keadaan hubungan seksual (rutinitas berhubungan suami istri, apakah tinggal satu rumah dengan pasangan),  kesehatan pasangan (sudah pernah periksa ke mana saja, pemeriksaan apa saja yang sudah dilakukan, hasilnya bagaimana), stabilitas hormone (siklus haid teratur atau tidak, apa ada gangguan haid lain), keadaan fisik (riwayat pekerjaan sehari-hari,  olahraga), keadaan psikis (stres pekerjaan, stres urusan rumah tangga).
‘’Adapun tahapan melakukan proses bayi tabung itu sendiri seperti penilaian hormon, penilaian cadangan sel telur, penilaian organ kandungan, penilaian sistem imun, pencegahan terhadap infeksi khusus, hingga penilaian kualitas sperma. Sementara syarat yang harus dipenuhi oleh pasangan suami-istri sebelum mengikuti program bayi tabung antara lain pasangan suami-istri yang sah, bukan untuk donor sperma atau donor sel telur atau peminjaman rahim, dengan indikasi yang jelas, seperti kelainan tuba, endometriosis, gagal inseminasi, gagal terapi konvensional, kelainan faktor suami dan sebagainya,’’ sebut dr Zaldy panjang lebar.
Umumnya prosedur bayi tabung dilakukan setelah konsumsi obat-obatan, tindakan bedah atau inseminasi buatan tidak mampu mengatasi masalah ketidaksuburan. Metode bayi tabung terdiri dari serangkaian prosedur, yang terdiri antara lain merangsang tubuh wanita dengan suntik hormon untuk memproduksi beberapa sel telur sekaligus, pengujian melalui tes darah atau ultrasound untuk menentukan kesiapan pengambilan sel telur. Sebelumnya, pihak wanita juga akan diberikan suntikan yang akan membantu mematangkan sel telur yang berkembang dan memulai proses ovulasi, selama prosedur pengambilan sel telur, dokter akan mencari folikel dalam rahim dengan menggunakan metode ultrasound. Sel telur kemudian akan diambil dengan menggunakan jarum khusus yang memiliki rongga. Prosedur ini berlangsung sekitar 30 menit hingga satu jam. Sebagian wanita diberikan obat pereda nyeri sebelum dilakukan prosedur tersebut, namun bisa juga diberikan obat penenang ringan hingga dibius total, sel telur segera dipertemukan dengan sperma pasangan, yang harus diambil pada hari yang sama. Kemudian disimpan di dalam klinik untuk memastikan perkembangannya maksimal, setelah embrio hasil pembuahan sel telur dan sperma tersebut dianggap cukup matang, maka embrio akan dimasukkan ke dalam rahim. Dokter akan memasukkan semacam tabung penyalur yang disebut kateter ke dalam vagina hingga sampai ke dalam rahim. Untuk memperbesar kemungkinan hamil, tiga embrio umumnya ditransfer sekaligus, dua pekan setelah transfer embrio, maka pihak wanita akan diminta untuk melakukan tes kehamilan.
‘’Tingkat keberhasilan dari program bayi tabung juga tergantung dari usia,’’ tegasnya.
‘’Gagalnya program hamil bayi tabung ini bukan hanya tergantung dari tingkat usia saja. Bisa juga disebabkan karena embrio yang tidak bisa menempel di dinding rahim atau tidak terjadinya implantasi di dalamnya. Hal ini disebabkan karena adanya faktor cacat kromosom, selain itu terdapat beberapa hal lainnya yang menjadi penyebab gagalnya bayi tabung ini dan tidak diketahui apa penyebabnya. Jadi, sebaiknya sebelum memilih jalan menggunakan program bayi tabung, sebaiknya harus disiapkan mental dan juga fisik kita terlebih dahulu,’’  terangnya.
Proses bayi tabung tetap memiliki risiko yang harus dipertimbangkan oleh pasangan suami-istri. Salah satu risiko yaitu saat prosedur pengambilan sel telur, mungkin terjadi infeksi, pendarahan atau menyebabkan gangguan pada usus atau organ lain. Ada pula risiko dari obat-obatan yang digunakan untuk menstimulasi ovarium yaitu sindrom hiperstimulasi ovarium. Efek yang dirasakan beragam, mulai dari kembung, kram atau nyeri ringan, penambahan berat badan hingga rasa sakit yang tak tertahankan pada perut.  Efek yang berat harus ditangani di rumah sakit walaupun biasanya gejala hilang ketika siklus ovarium selesai.
Selain itu, masih ada beberapa risiko lain dari prosedur bayi tabung, yaitu risiko keguguran, kehamilan kembar, jika embrio yang ditanamkan ke dalam rahim lebih dari satu, kelahiran prematur dan bayi berat lahir rendah, kehamilan ektopik atau di luar Rahim, bayi lahir dengan cacat fisik, stres karena prosedur bayi tabung dapat menguras tenaga, emosi dan keuangan.
‘’Bagi pasangan yang memiliki banyak uang tentu bukan masalah besar bila ingin melakukan bayi tabung karena biaya bayi tabung tidak murah di Indonesia. Dalam sekali program bayi tabung ini bisa sekitar Rp40 juta hingga Rp70 juta, dimana biaya ini akan bervariasi sesuai rumah sakit masing-masing baik di Indonesia maupun di luar negeri.
Untuk Anda yang ingin melakukan proses bayi tabung, sebaiknya mengonsumsi makanan-makanan yang bergizi untuk menunjang kualitas embrio. Makanan-makanan yang baik adalah makanan yang mencukupi kebutuhan nutrisi Anda sehari-hari. Dan selain itu juga menjauhi hal-hal yang bisa menyebabkan gagalnya bayi tabung perlu dihindari. Jika Anda seorang perokok, sebaiknya mulai sekarang usahakan untuk menghindari rokok. Jangan minum-minuman beralkohol, karena ini akan memberikan pengaruh yang kurang baik untuk kesehatan rahim Anda. ‘’Bila Anda adalah pasangan yang selama ini belum berhasil hamil namun telah menikah lebih dari 2 tahun, ada baiknya mulai memikirkan salah satu metode reproduksi bayi tabung ini yang akan sesegera mungkin  dibuka di Rumah Sakit awal Bros Sudirman Pekanbaru.
‘’Saat ini sudah tahap berkonsultasi dengan pakarnya untuk mempersiapkan desain laboratorium, SDM/para petugas dan lain-lain. Jadi kenapa harus pergi jauh-jauh untuk program bayi tabung, di RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru dari awal hingga akhir semua prosesnya kita lakukan di sini. Hemat biaya dan waktu,’’ tuturnya.***
Sumber : Riau Pos, 30 April 2017
Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Pekanbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *