Penderita Diabetes Melitus Tetap Bisa Puasa

MASALAH kesehatan akan timbul bagi penderita diabetes saat menjalani puasa di bulan suci Ramadan jika tidak tidak diimbangi dengan konsumsi obat yang benar, asupan nutrisi yang baik dan olahraga yang tepat.

‘’Masalah yang dapat timbul pada penyandang diabetes saat menjalankan puasa berupa hipoglikemia (gula darah terlalu rendah), hiperglikemia (gula darah terlalu tinggi), ketoasidosis  diabetik (kondisi asam pada darah) dan dehidrasi (kekurangan cairan). Masalah kesehatan yang timbul ini, tidak hanya dapat mengganggu jalannya ibadah, tapi juga dapat membahayakan jiwa,’’ ujar Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Awal Bros Sudirman Pekanbaru dr Imelda Goretti M Gizi SpGK, Jumat (26/5).

Menurut dr Imelda, penyandang diabetes yang ingin menjalankan puasa sebaiknya melakukan persiapan terlebih dahulu. Diabetesi sebaiknya melakukan konsultasi ke dokter untuk mengetahui kondisi klinis, kontrol gula darah atau perlu tidaknya penyesuaian dosis dan waktu konsumsi/penggunaan obat. ‘’Jika telah diperbolehkan menjalankan ibadah puasa, maka perlu mengetahui pola diet yang tepat sehingga ibadah puasa yang dilakukan dapat berjalan dengan lancar,’’ sebutnya.

Selama bulan puasa, lanjut dr Imelda, asupan diabetesi tidak berbeda dengan diet sehari-hari sebelum puasa, yaitu berupa diet seimbang yang disesuaikan dengan perhitungan energi kebutuhan tubuh. Komposisi diet seimbang berupa 50-60 persen karbohidrat, 15-20 persen protein, dan 25-30 persen lemak.  Hal yang membedakan ialah jadwal dan frekuensi makan, Jika pada hari biasa makanan dapat konsumsi dalam 3 kali makan besar dan 2-3 kali selingan, maka selama bulan puasa, pembagian porsi berupa 40 persen kebutuhan kalori dikonsumsi saat sahur, 50 persen saat berbuka, dan 10 persen dikonsumsi malam sebelum tidur.

Dijelaskan dr Imelda, saat sahur, dianjurkan untuk mengonsumi karbohidrat kompleks seperti beras merah, oat, kentang yang dikonsumsi bersama kulit, jagung, gandum atau produknya. Karbohidrat kompleks akan dicerna lebih lambat sehingga dapat membuat diabetesi merasa kenyang lebih lama dan dapat menjaga gula darah lebih stabil. Konsumsi karbohidrat kompleks harus disertai dengan sumber protein rendah lemak (ikan, ayam, putih telur, tahu, dan tempe) 1–2 potong sedang, serta sayur dan buah dalam jumlah yang cukup (1–2 porsi). Makan sahur sebaiknya dilakukan seakhir atau selambat mungkin sebelum Imsyak tiba.

‘’Diabetisi sebaiknya tidak mengonsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan pada saat berbuka puasa. Buka puasa dapat dilakukan dengan cara yang lebih sehat dengan mengonsumsi buah potong segar, blender buah, atau smoothies dengan susu rendah lemak. Konsumsi kurma saat berbuka dibatasi sebanyak 1-2  buah karena kandungan gula yang cukup tinggi. Makanan dengan indeks glikemik yang tinggi, seperti gula, madu, sirup atau produknya sebaiknya dihindari untuk mencegah lonjakan gula darah yang berlebihan. Selain itu, saat berbuka tidak dianjurkan untuk makan secara belebihan untuk mencegah terjadinya peningkatan berat badan,’’ tegas dr Imelda.

Bagaimana agar terhindar dari dehidrasi selama puasa? Dr Imelda menjelaskan, penderita diabetes mellitus harus memperhatikan konsumsi cairan. Diabetesi dianjurkan tetap mengonsumsi air lebih kurang 2 liter per hari atau 8 gelas per hari. Penambahan asupan cairan dapat disiasati dengan mengonsumsi buah yang mengandung air yang tinggi, konsumsi sup atau sayuran berkuah saat sahur atau berbuka.

Selama puasa diabetesi dianjurkan pula untuk memonitor kadar gula darah 2-4  kali dalam sehari, terutama untuk pasien diabetes tipe 1 dan pasien diabetes tipe 2 yang menggunakan insulin. Jika terjadi hipoglikemia (kadar gula darah kurang dari 60 mg/dL) atau hiperglikemia (gula darah melebihi 300 mg/dL) maka diabetesi harus membatalkan puasa. Puasa juga sebaiknya dibatalkan jika kada glukosa darah <70 mg/dL dalam 1-2  jam awal puasa.

‘’Aktivitas fisik sehari-hari dapat dilakukan dengan wajar seperti biasa. Olah raga yang tidak terlalu berat dapat dilakukan 10–15 menit sebelum waktu sahur dan berbuka. Salat Tarawih yang dilakukan setelah berbuka di mana terdapat gerakan berdiri, berlutut dan sujud yang dilakukan secara berulang, dapat diperhitungkan sebagai bagian aktivitas fisik harian,’’ papar dr Imelda.

Dengan melakukan diet yang baik, olahraga yang tepat dan konsumsi obat yang sesuai, diharapkan diabetesi dapat menjalankan ibadah puasa dengan lancar tanpa gangguan kesehatan yang berarti.***

Sumber : Riau Pos (Minggu, 21 Mei 2017)

 

Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Pekanbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *