Awasi dan Batasi Anak Bermain Gadget

Memiliki perangkat elektronik canggih di satu sisi mungkin sangat membantu seseorang. Terlebih, bagi mereka yang bekerja dan menuntut perangkat mobilitas canggih yang juga harus mendukung. Namun kadang, perangkat tersebutkemudian juga dikenalkan dan dipakai oleh anak – anak. Alasannya, ada banyak permainan dan hiburan yang bisa diakses oleh anak. Bahkan tak jarang, orang tua memberikan gadget (baik komputer maupun ponsel) pintarnya untuk dijadikan mainan anak agar si kecil tak rewel. Namun, bermanfaatkah hal itu? Menurut Ibu Maryana M. Psi, Psi Psikolog anak RS Awal Bros Batam, penggunaan perangkat gadget pintar pada anak sebetulnya bukan hal yang direkomendasikan.

Mengingat, pada kisaran usia anak (antara 0-12 tahun) sebaiknya mereka lebih banyak berinteraksi langsung dengan orang sekitar atau lingkungannya. Sehingga, mereka menjadi anak yang aktif nantinya. “Kalau anak hanya diberi mainan itu (gadget pintar) malah akan berpengaruh pada motorik anak, baik yang halus maupun kasar,” kata Ibu Maryana.

Motorik anak yakni gerak otot yang melatih anak  – anak lebih peka dengan situasi yang ada. Motorik yang kasar biasanya terjadi saat anak bermain sambal berlari atau menggunakan kekuatan tenaga ototnya. Sedangkan motoric halusnya terjadi ketika anak menulis karena hanya beberapa bagian kecil tenaga otot yang digunakan. Bahkan pada anak usia 0  hari sampai 2 tahun itu tahapan yang bagus untuk memulai aktivitas (motorik) anak, sedangkan usia 3-5 tahun disarankan anak bermain diluar,” katanya.

Yang dimaksud permainan diluar, yakni permainan anak seperti zaman dahulu yang banyak melatih anak berinteraksi dan mengenal lingkungannya. Sebut saja permainan seperti petak umpet, gobag sodor dan masih banyak lainnya. Dengan memberikan gadget pintar untuk media bermain anak, malah akan membuat anak menjadi pasif.

Anak yang banyak menonton atau bermain games, itu malah bikin anak tidak suka membaca,” kata Ibu Maryana. Berdasar penelitian Asosiasi Dokter Anak di Amerika, para dokter menyarankan agar anak – anak tidak terpapar screen (sebutan paa dokter untuk gadget yang memiliki layar) bagi yang berusia 2 tahun ke bawah. Anak yang terpapar screen biasanya menjadi kurang konsentrasi. Itu karena screen atau layar terus bergerak, sehingga menjadikan anak yang baru belajar menjadi sulit berkonsentrasi.

Berbeda dengan anak yang belajar dengan membaca buku misalnya. Buku adalah obyek yang diam dan tidak bergerak sehingga anak dapat membaca sekaligus melatih konsentrasinya. Ibu Maryana juga menyarankan orang tua agar membatasi anak – anak bermain dengan perangkat – perangkat tersebut. Misalnya waktu yang ideal bagi anak bermain dengan alat tersebut maksimal hanya setengah hingga 1 jam dalam sehari. Itupun harus dibarengi dengan sikap tegas dari orang tuanya.

Misalnya bagi anak yang sudah usia SD atau SMP, orang tua bisa memberikan peraturan setelah mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) baru boleh main games, itupun maskimal 1 jam,” sarannya. Selain itu, hal lain yang juga msti diperhatikan adalah konten hiburan dan permainan yang bisa diakses anak. Sebaiknya, orang tua mengawasi konten apa saja yang bagus dan mana yang harus dihindari. Karena, beragam aplikasi mulai dari yang bermanfaat untuk anak bahkan hingga yang harus dihindari oleh anak tersedia dalam satu layanan. “Orang tua harus waspada, dan pilihkan yang memang benar – benar bermanfaat,” pesannya.

 

SUMBER: BATAM POS | WOMANIESTA | 21 MARET 2013 | HAL. 27
Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Batam.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *