Bahaya Pemanis Sintetis

Haus dan lapar pasti dirasakan bagi siapa saja yang melakukan ibadah puasa. Kondisi ini memancing untuk menyeruput minuman dan makanan manis saat berbuka puasa. Namun yang dikhawatirkan, menu buka puasa yang beredar saat ini menggunakan pemanis buatan. Dalam kadar kecil, memang masih aman, namun jika dalam kadar yang tinggi dan berterusan, bisa membahayakan kesehatan.

Apalagi saat ini, penemuan pemani dan penyedap rasa buatan terus berkembang. Namun fakta tidak dapat menggantikan pemanis dari gula asli dan penyedap rasa dari bahan alami. Dokter spesialis gizi klinik RS Awal Bros Batam dr. Brain Gantoro, SpGK mengatakan penemuan pemanis buatan membuat manusia beralih dari pemakaian gula. Pemanis pertama yang ditemukan adalah jenis sakarin. Lalu, ditemukan lagi jenis lainnya.

“Pemanis buatan selanjutnya adalah aspartame, ini mempunyai rasa manis yang sedikit mirip dengan gula. Seiring kemajuan, ada pemanis buatan baru yang biasa disebut sukralosa. Rasanya persis sama dengan manis gula dan diketahui relative aman,” kata dr. Brain.

Bagi penderita diabetes, mungkin saja pemanis buatan seperti ini menjadi alternative untuk menambah selera makan dan minum. Bagi orang normal justru harus waspada. “Tubuh kita biasanya hanya merespon lemak, protein, dan gula alami dan tidak mengenal pemanis buatan. Terlebih pemanis buatan tidak menghasilkan kalori yang dihasilkan oleh gula alami,” ujarnya.

Hal ini mendorong tubuh kita membutuhkan lebih banyak makanan untuk mendapatkan kalorinya. “Inilah yang membuat beberapa orang beranggapan pemanis buatan membuat obesitas,” ucapnya.

Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr. Brain Gantoro, SpGK,

Dr. Brain melanjutkan, kasus mengenai kelebihan megkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung pemanis buatan mungkin sangat jarang sekali terjadi. “Biasanya tubuh akan merespon rasa manis tersebut menjadi lebih pahit, jika kadarnya sudah berlebihan,” ungkapnya.

Sebagai contoh, lidah seseorang akan mengecap rasa manis hanya pada kadar normal saja. Jika pemanis buatan tersebut berada dalam takaran berlebihan, lidah akan menolaknya dengan rasa pahit. Namun dr. Brain menegaskan sukralosa yang telah beredar saat ini memang nyaris sempurna karena dihasilkan dari proses klorinasi gula dengan penambahan zat kimia sehingga berkekuatan manis hingga 600 kali gula dan tiga kali dari aspartame.

“Namun sintesis tetaplah sintesis. Tidak semua kandungan dalam sukralosa dapat dicerna dalam tubuh,” ucapnya. Sisa kandungan ini tentu saja akan menumpuk dan mengganggu system kekebalan tubuh. “Rasa manisnya mungkin dapat digantikan, namun kandungan alami yang menghasilkan energi tidak bisa digantikan oelh bahan sintetis seperti itu,” ujarnya.

Ia juga menyarankan masyarakat jangan terlalu memaksakan diri memakan semua jenis makanan saat berbuka puasa. Juga mengendalikan diri agar tidak makan dalam jumlah yang berlebihan.” Sesuaikan dengan kebutuhan saja,” sarannya.

 

SUMBER: BATAM POS | 29 MEI 2017 | HAL. 1 & 5
Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Batam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *