Kapan Anak Perlu Antibiotik?

Wajar saja bila orang tua menginginkan anaknya cepat sembuh saat sakit. Namun, bukan berarti anak harus diberi antibiotik saat diserang flu, demam atau diare. Antibiotik juga seringkali diresepkan oleh dokter untuk mempercepat penyembuhan. Tak sedikit Moms yang langsung membeli antibiotik di apotek yang tentunya tanpa resep dokter, ketika si kecil sakit. Padahal pemberian antibiotik secara rutin atau bahkan tidak sesuai resep dokter akan mengakibatkan kesalahan yang fatal bagi si anak. Lantas, kapan si kecil memerlukan antibiotik? Simak penjelasan dr. Atiek Widya Oswari, Sp.A dari RS Awal Bros Bekasi berikut ini.

Kenali Jenis Antibiotik

Saat ini terdapat ratusan jenis antibiotik, namun kebanyakan diantaranya terklasifikasi dalam enam kelompok jenis antibiotik, yaitu:

  1. Penisilin, umum digunakan untuk mengobati berbagai infeksi, seperti infeksi kulit dan infeksi saluran kemih.
  2. Sefalosporin, digunakan untuk mengobati berbagai macam infeksi, juga efektif untuk mengobati infeksi yang serius seperti septicaemia dan meningitis.
  3. Aminoglikosida, cenderung hanya digunakan untuk mengobati penyakit serius seperti meningitis, karena dapat menyebabkan efek samping yang serius, seperti gangguan pendengaran dan kerusakan ginjal.
  4. Tetrasikilin, digunakan untuk  mengobati berbagai macam infeksi. Tetrasikilin umum digunakan untuk mengobati jerawat sedang sampai berat dan kondisi lain pada kulit wajah yang disebut dengan rosacea, yang menimbulkan kemerahan dan bintik-bintik pada kulit.
  5. Makrolida, sangat efektif mengobati infeksi paru-paru. Makrolida juga menjadi antibiotik alternatif pada mereka yang alergi terhadap penisilin atau untuk membunuh bakteri yang kebal terhadap penisilin.
  6. Fluoroquinolones, merupakan antibiotik spektrum luas jenis baru yang efektif untuk berbagai macam infeksi.

 

Penyakit yang perlu antibiotik

Antibiotik merupakan obat yang digunakan khusus untuk membunuh bakteri. Penyakit yang disebabkan oleh virus tidak bisa diobati dengan antibiotik. Karena itulah pemberian antibiotik sebaiknya benar-benar diperhatikan. Bila anak menderita penyakit yang tidak disebabkan oleh bakteri sebaiknya tidak perlu diberi antibiotik. Selain itu, berikut beberapa penyakit yang diperbolehkan mengonsumsi antibiotik untuk anak.

  • Batuk Pilek. Anak-anak memerlukan pemberian antibiotika apabila mereka mengalami batuk pilek yang terus-menerus berlanjut selama lebih dari 10 sampai 14 hari. Namun, apabila batuk dan pilek sering terjadi ketika malam maupun pagi hari, umumnya kondisi tersebut sangat berkaitan dengan alergi, jadi bukan termasuk fase infeksi sehingga tidak memerlukan antibiotika.
  • Bila terjadi infeksi sinusitis akut yang parah dan disertai dengan panas lebih dari 39 derajat celcius dan adanya tanda seperti cairan hidung purulent, rasa nyeri serta pembengkakan disekitar area mata dan wajah. Antibiotik yang bisa digunakan untuk mengurangi kondisi tersebut, meliputi Amoxicillin maupun Clavulanate. Bila dalam 2 sampai 3 hari kondisinya membaik, maka pengobatan bisa terus dilanjutkan sampai 7 hari. Keluhan akan semakin membaik selama 10 sampai 14 hari.
  • Radang Tenggorokan karena infeksi bakteri streptococcus, Penyakit seperti ini umumnya terjadi pada anak-anak yang berusia 7 tahun keatas. Anak-anak yang berusia 4 tahun jarang sekali terserang radang tenggorokan karena infeksi baktersi seperti ini, walaupun kemungkinan itu selalu ada.
  • Infeksi Saluran Kemih. Untuk mengetahui ada tidaknya suatu bakteri, maka diperlukan tes kultur darah maupun tes urin. Bila dicurigai adanya infeksi pada saluran kemih, maka anak perlu menjalani tes urin. Setelah beberapa hari akan diketahui bila memang ada infeksi bakteri, jenis bakteri yang menyerang serta tingkat sensitivitas bakteri tersebut terhadap antibiotika.
  • Penyakit Demam Tifus. Untuk mengetahui ada tidaknya penyakit demam tifus harus dilakukan tes darah widal serta kultur dari darah. Anak yang berusia dibawah 5 tahun yang mengalami infeksi virus seringkali mengalami overdiagnosis penyakit demam tifus. Seringkali terjadi salah persepsi dalam pembacaan hasil tes laboratorium. Terkadang infeksi virus ada yang mampu menyebabkan adanya sedikit peningkatan pada nilai widal, dan si anak langsung di vonis mengidap gejala penyakit tifus serta langsung diberi obat antibiotika.

 

Penyakit Yang Tidak Memerlukan Antibiotik

Penggunaan antibiotik sembarangan justru akan memperburuk kondisi anak, seperti membunuh bakteri baik dalam tubuh, merusak organ-organ tubuh yang belum sempurna, serta membuat bakteri-bakteri bermutasi dan menjadi kebal terhadap antibiotik, sehingga antibiotik tidak ampuh lagi membunuh bakteri.

  • Pilek, panas dan disertai dengan batuk merupakan gejala dari infeksi saluran pernapasan atas. Umumnya infeksi saluran pernapasan atas atau ISPA lebih banyak disebabkan oleh serangan virus.
  • Warna dahak dan ingus yang berubah menjadi kuning kental, berlendir serta berwarna kehijauan juga merupakan salah satu gejala dari infeksi saluran pernapasan atas yang disebabkan oleh virus. Hal seperti ini tidak perlu diberi obat antibiotika, karena percuma saja.
  • Penyakit yang dialami oleh anak-anak, kebanyakan adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Jadi penggunaan obat antibiotika yang diperlukan tidaklah terlalu besar. Kebanyakan penyakit yang disebabkan oleh virus merupakan penyakit yang bisa sembuh dengan sendirinya dalam waktu sekitar 5 sampai 7 hari. Mayoritas penyakit anak seperti batuk, pilek dan diare maupun panas sebenarnya lebih disebabkan oleh serangan virus. Umumnya, anak-anak akan mengalami 2 sampai 9 kali penyakit saluran pernapasan karena virus. Sebaiknya, seorang anak yang mengalami masalah, seperti batuk, pilek, hidung tersumbat; jangan langsung didiagnosis bahwa anak tersebut mengalami sinusitis. Selama tidak terjadi komplikasi, umumnya masalah seperti batuk, pilek serta keluarnya ingus akan hilang dengan sendirinya paling lama sekitar 14 hari.
  • Dalam sebuah penelitian terhadap 139 anak, anak-anak pengidap pilek atau flu karena serangan virus yang diberi obat antibiotik, tidak mampu memperbaiki kondisi cairan mucopurulent pada hidungnya. Itu berarti bahwa antibiotika tidak mampu mencegah bakteri yang menumpang. Mayoritas penyakit infeksi saluran pernapasan atas termasuk penyakit sinus paranasal jarang sekali disebabkan oleh karena serangan bakteri.

(Oleh Tabloid Mom & Kiddie Edisi 17 TH XI. 6-19 April 2017)

Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Bekasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *