Pengaturan Cairan Selama Bulan Ramadan Untuk Penderita Sakit ginjal

RAMADAN adalah bulan yang penuh dengan keberkatan, karena pahala puasa ramadan amat besar. Sesuai aturan Syariat, puasa ramadan sebagai rukun islam, dengan cara menahan diri dari makan dan minum, serta segala perbuatan yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Bagi mereka yang sehat jasmani maupun rohani, akan berlomba-lomba untuk meraih keberkahan di bulan Ramadanini, Namun, bagi saudara kita yang kurang sehat, akan menjadi kendala misalnya mereka yang menderita gagal ginjal.

Gagal ginjal terbagi dua, yakni ginjal akut dan ginjal kronis. Gagal ginjal akut lebih berbahaya, karena pada keadaan ini, fungsi ginjal menurun / berhenti secara mendadak, yang paling sering sebagai penyebab pada gagal ginjal akut adalah kehilangan cairan yang berlebihan secara tiba-tiba (dehidrasi berat), sumbatan akut pada saluran kemih akibat batu yang terjadi pada kedua sisi, atau adanya infeksi berat (sepsis). Dalam hal ini memerlukan tindakan dialis segera sampai dengan penyebab gagal ginjal akutnya teratasi.

Saat bulan Ramadan, penderita gagal ginjal tetap bisa menjalankan ibadah puasa. Bagi penderita batu ginjal yang perlu menjadi perhatian adalah status hidrasi penderita dan asupan makan selama sahur dan berbuka. Pada penderita batu konsumsi cairan minimal 2,5 liter per hari.

‘’Kita sarankan apabila ingin berpuasa, selama masih bisa memenuhi asupan cairan tersebut, tidak masalah. Namun apabila saat berpuasa penderita merasakan kolik, bisa menghentikan puasanya,’’ ujar Dokter Spesialis Urologi RS Awal Bros Panam dr. Joko Pitoyo, SpU.

Dikatakannya, selain status hidrasi, yang perlu diperhatikan adalah jenis makanan yang dikonsumsi selama sahur dan berbuka. Pada penderita yang memiliki riwayat asam urat perlu membatasi asupan makanan yang mengandung purin tinggi seperti jeroan, daging, kerang, kangkung dan sebagainya. Pada penderita gagal ginjal kronik dengan penyebab utama diabetes dan hipertensi yang melakukan puasa selama Ramadan, toleransinya baik, dan membaiknya kadar profil lipid dan penurunan proteinuria dan natrium dalam urin.

“Saat berpuasa, pasien perlu memperhatikan status hidrasi, asupan protein, asupan natrium, asupan kalium, jam dan porsi makan serta olahraga. Semuanya kembali kepada pola hidup yang dilakukan penderita setiap harinya,” sebut dr Joko.

Penderita gagal ginjal umumnya dilakukan pembatasan cairan (tidak berlebihan dalam konsumsi cairan) untuk mencegah timbunan cairan dalam tubuh, untuk pasien gagal ginjal dimana produksi urin nya sudah sedikit atau hampir tidak ada, asupan cairan perhari disarankan sekitar 500 cc. Jumlah asupan protein disesuaikan dengan berat badan penderita dan diutamakan dari protein hewani, sehingga harap mengontrol diri terutama saat berbuka puasa, yang umumnya takjil berupa gorengan/makanan yang terbuat dari olahan protein nabati jumlahnya sangat dibatasi. Pembatasan natrium diutamakan pada penderita yang oedema/ascites, maksimal hanya 800-1200 mg (atau setara setangah hingga tiga perempat sendok teh garam).

Untuk penderita yang tidak oedema, tetap hati-hati dengan montrol konsumsi takjil/makanan ringan yang mengandung banyak natrium, seperti kripik/gorengan/roti dengan penggunaan soda kue yang banyak. Saat makan sahur dan berbuka, minimalkan penggunaan kecap, saus tomat/cabai dan makanan kalengan/awetan. Hindari makanan dengan kadar kalium tinggi, seperti pisang, air kelapa, alpukat, kurma. Untuk yang ingin konsumsi singkong / umbi – umbian, sebaiknya direndam pada air hangat terlebih dahulu 1–1/2 jam, lalu dibilas pada air mengalir baru diolah.

Konsumsi buah-buahan tetap dianjurkan pada pada penderita hanya pemilihan jenisnya dan jumlahnya saja yang harus diperhatikan. Selain itu penderita juga harus memperhatikan untuk jam, porsi dan jenisnya. Karena kecenderungan penderita DM yang bisa terjadi hipoglikemia selama berpuasa. “Lakukan olahraga yang ringan, namun rutin sesuai dengan kemampuan tubuh.

Bagi masyarakat yang kondisi ginjalnya masih normal, produksi urin yang normal 1cc per kilogram berat badan  per jam (1cc/KgBB/Jam). Bila berat badan 50 Kg, idealnya produksi urin 50 cc dalam satu jam, sehingga estimasi frekuensi buang air kecil  setiap 4-5 jam sekali,” terang dr Joko.*

Sumber : Tribun Pekanbaru, 09 Juni 2017, Halaman 05

Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Panam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *