Cegah Kanker dengan Gizi Seimbang

Setiap Perempuan Bisa Kena Kanker Serviks

Pada dasarnya setiap perempuan bisa terkena atau terserang kanker serviks sebagaimana yang diderita Jupe. Penyakit ini tidak pandang bulu, perempuan mana saja memiliki risiko. Perempuan telah menikah atau yang belum menikah bisa saja terpapar virus HPV (Human Papilloma Virus), penyebab kanker serviks. Memang, faktor risiko kanker ini ada tiga. Yakni, perempuan yang berhubungan seks dengan berganti pasangan, perempuan yang berhubungan seks dengan pria yang tak disunat, serta perempuan yang berhubungan seks di usia muda. Penggalangan dana peduli Sahabat Jupe sewaktu almarhumah masih berjuang melawan penyakitnya. “Siapa saja, setiap perempuan berisiko karena 80 persen dari perempuan akan mendapat virusnya seumur hidup mereka. Entah kapan,” tegas Founder and CEO internis and Vaccinologist in harmony Vaccination clinic Dr Kristoforus Hendra Djaya, SpPD.

Beberapa waktu lalu. Kristoforus menjelaskan, menikah muda dan ganti-ganti pasangan memang merupakan faktor risiko paling utama. Kedua faktor itu meningkatkan risiko. Namun jika virusnya tidak ada, maka tidak akan membentuk sel kanker. “Penularan HPV 80 persen dari hubungan seksual. Sisanya macam-macam, sekalipun belum berhubungan seksual,” ungkapnya.

Penularan virus HPV bisa disebabkan dari pinjam-meminjam benda pribadi, toilet jorok dan lainnya. Berdasarkan penelitian, 80 persen perempuan akan terkena virus ini seumur hidupnya, entah kapan, walaupun tidak semua jadi kanker. Sehingga, bukan hanya Pekerja Seks Komersial (PSK) atau perempuan yang terjerat pergaulan bebas berisiko terkena kanker ini. Namun seluruh perempuan bisa terpapar kanker ini kapan saja.

Cegah Kanker dengan Gizi Seimbang

”Mencegah lebih baik dari pada mengobati” atau ”Jagalah sehatmu sebelum datang sakitmu”. Dua ungkapan bijak itu sering kita dengar. Namun masih banyak orang yang menganggapnya hanya angin lalu atau sekadar slogan saja. Setelah divonis sakit baru sadar menjaga kesehatan itu penting.

Yuli Rachmawati yang dikenal dengan Julia Perez salah satunya. Penyanyi dangdut itu divonis menderita kanker serviks sehingga harus kehilangan nyawanya beberapa waktu yang lalu. Sebelumnya, dia mengungkapkan awalnya divonis kanker serviks stadium 2a pada saat peluncuran bukunya bertajuk “Jupe: My Uncut Story” di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Senin, 27 Oktober 2014 silam. “Ya, aku kena kanker serviks stadium 2a,” ujarnya sedih. Selebritis yang pernah berseteru dengan Dewi Persik itu kemudian menjalani operasi kanker di Singapura dan dinyatakan sembuh. Sebelumnya, Jupe mengungkapkan bahwa penyakit yang diidapnya lantaran pola hidup yang tak sehat selama ini.

Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr. Brain Gantoro, SpGK,

Diakui dr. Brain Gantoro, SpKG, banyak masyarakat awam yang kalang kabut setelah divonis kanker. Mereka pun memilih mencari-cari pengobatan yang paling mujarab. “Sayangnya kebanyakan orang yang terkena kanker mengabaikan asupan gizi yang seimbang,” katanya di tempat praktiknya di Rumah Sakit awal Bros Batam.

Gizi seimbang artinya makanan yang menghasilkan status gizi yang baik, tidak kelebihan zat tertentu atau sebaliknya tidak kekurangan zat lainnya. Apa yang terjadi jika gizi tidak seimbang? “Gizi yang tidak seimbang sama dengan malnutrisi yang bisa menjadi gizi buruk,” terang dr. Brain.

Dr. Brain menyatakan di dunia gizi dikenal kurang gizi dan yang lebih parah adalah gizi buruk. “Semua penderita pasti akan menjadi gizi buruk. Mengapa demikian? Karena sel kanker itu sangat rakus. Sel kanker melahap segala bahan makanan yang masuk termasuk obat, racun dan makanan,” paparnya.

Sifat kanker yang rakus juga menjadi kelemahannya. Para pakar menjadikan itu titik masuk untuk membunuh kanker, yakni memasukkan obat yang sejatinya adalah obat pembunuh sel kanker. metode ini dikenal dengan nama cytotoxic. “Sel kanker tidak mengenal obat, racun maupun makanan,” tukasnya.

ada tiga jenis untuk pengobatan kanker, yaitu; pembedahan, kemoterapi dan radioterapi. Pembedahan bertujuan membuang kanker seluas-luasnya. Sedangkan kemoterapi pengobatan secara kimia dan radioterapi adalah pengobatan dengan cara memberi sinar radiasi yang di dalamnya ada partikel alfa, beta dan gelombang gamma. “Ketiganya (alfa, beta dan gamma, red) meng-ionkan senyawa atau molekul besar sel kanker sehingga molekulnya terurai. Jika sudah terurai sel kanker tidak akan berbentuk utuh lagi yang artinya mati,” jelas Brain.

Di balik kehebatan pengobatan dengan kemoterapi dan sinar radiasi, ternyata membawa dampak buruk terhadap sel yang normal. Sel normal yang terimbas radiasi akan terionkan juga dan sel normal itu bisa menjadi sel kanker suatu hari. “Jadi kemoterapi dan radioterapi punya efek yang cukup ngeri, sehingga cara ini hanya digunakan untuk yang stadium lanjut,” ungkapnya.

Kanker yang sudah di tingkat stadium lanjut, kata Brain, sel kankernya sudah menyebar yang tidak bisa dijangkau oleh pisau operasi lagi. “Sementara orang takut dengan pembedahan. terkait masalah gizi bagi penderita kanker ada dua masalah, pertama pasien harus disiapkan status gizinya dengan baik, kemudian yang kedua menyiapkan gizi untuk menangkal radikal bebas,” Jelasnya.

“Jika ada pertumbuhan tidak normal yang menghasilkan radikal bebas (bagian molekul yang tidak stabil yang akan mengganggu molekul lain) maka perlu antioksi dan untuk menangkap radikal bebas,” bebernya. Antioksidan pada umumnya didapat dari tumbuh tumbuhan, sayuran, buah berwarna merah (wortel, tomat, cabai, straoberi dan lain-lain).

“Jadi dengan mempertahankan status gizi seimbang maka tidak jatuh ke malnutrisi. Jika berlanjut ke malnutrisi bisa berakibat kematian,” Brain menegaskan. Fungsi antioksidan lainnya adalah berperan mencegah pertumbuhan sel kanker jika sudah diobati.

Brain menyatakan sebelum kena kanker perlu pencegahan dengan asupan gizi yang seimbang. Pasalnya, lanjut Brain, semua orang punya sel kanker, namun sangat sedikit dan sel kanker itu dimakan oleh sel normal (darah putih). Apakah orang yang terkena kanker bisa sembuh? “Yang disebut sembuh dari kanker adalah tidak terdeteksinya lagi sel kanker, bukan berarti hilang sama sekali dan itu berpotensi hidup lagi,” ucapnya.

Pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan menghindari zat-zat kimia berbahaya yang disebut dengan karsinogen. Karena karsinogen bisa memicu sel kanker. “Yang paling terkenal adalah asam lemak trans dan nitrosamin,” ungkap Brain. Asam lemak trans terdapat pada minyak goreng yang dipakai secara berulang kali, sedangkan nitrosamine adalah protein ikan yang diasinkan.

SUMBER : BATAM POS | MINGGU, 2 JULI 2017 | HAL. 5
Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Batam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *