Katarak, Penyebab Kebutaan Terbanyak

Mata adalah jendela dunia, ungkapan ini tentu saja sudah sering kita dengar. Bahkan, ada ungkapan pendukung lain yang menyatakan manusia banyak belajar dari apa yang ia lihat. Mata dengan fungsinya sebagai indera penglihatan mendominasi semua aktivitas sehari-hari.

Mata manusia memiliki cara kerja otomatis yang sempurna, masing-masing bagiannya memiliki fungsi penting dalam proses melihat. Kerusakan atau ketiadaan salah satu fungsi bagian mata ini akan menjadikan mata mustahil dapat melihat. Salah satunya organ mata bagian dalam yang dapat mengalami penyakit adalah lensa mata. Seiring pertambahan usia, lensa mata yang terdiri dari air dan protein juga bisa mengalami gangguan, salah satunya katarak.

Katarak sendiri adalah lensa mata yang keruh, terjadi akibat adanya degenerasi lensa, paparan sinar matahari yang berlebihan dan faktor lainnya. tidak heran, katarak menjadi salah satu penyebab kebutaan terbanyak di Indonesia bahkan di dunia. Diperkirakan setiap tahun kasus baru buta katarak terus bertambah sebesar 0,1% dari jumlah penduduk atau kira-kira 250.000 orang per tahun. Pemerintah Indonesia sendiri telah lama melaksanakan Rencana Strategi Nasional Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan dan Rencana aksi Nasional untuk penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan.

Upaya ini sejalan dengan komitmen Global Vision 2020 yang dicanangkan oleh World Health Organization (WHO), bahwa pada 2020 mendatang diharapkan setiap penduduk mempunyai hak untuk dapat melihat secara optimal. Satu-satunya pengobatan yang terbukti paling efektif adalah operasi. Karena itu, pemerintah bersama pihak swasta sering kali mengadakan bakti sosial operasi katarak. Namun upaya tersebut tidak sebanding dengan peningkatan penderita katarak yang terus tumbuh.

Deteksi dini terhadap katarak menjadi hal penting sebelum penyakit ini merenggut penglihatan sang penderita. Sama seperti penyakit lain, katarak juga memiliki gejala. Seperti yang diketahui salah satu penyebab katarak adalah riwayat keluarga, namun ia berdalih keluarganya tidak ada yang mengidap katarak. “tidak ada, tapi saya memang mengidap diabetes dan sering terpapar matahari,” ucapnya.

Dokter Spesialis Mata Rumah Sakit awal Bros (RSAB) Batam, dr Hafizah, SpM menjelaskan, penyebab katarak selain degenerasi lensa adalah riwayat keluarga, diabetes, cedera mata (trauma), obat steroid, pernah operasi mata sebelumnya dan juga paparan sinar matahari yang berlebihan. “Luasnya faktor penyebab katarak inilah yang membuat bertambahnya penderita katarak tiap tahun,” kata dr Hafizah. Katarak dibagi berbagai jenis tergantung penyebabnya. Katarak Congenital yang dijumpai pada bayi dan anak-anak disebabkan oleh infeksi virus saat hamil muda. Katarak Senilis yang disebabkan penuaan, Katarak traumatika yang disebabkan trauma atau kecelakaan dan Katarak Komplikata yang disebabkan infeksi atau penyakit tertentu seperti kencing manis, radang bagian dalam bola mata dan lainnya. “Operasi adalah jalan satu-satunya untuk mengatasi katarak, karena belum ada obat, obat tetes ataupun vitamin yang dapat mengobati katarak,” jelasnya.

Operasi katarak sampai saat ini ada dua macam teknik, yakni Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsuler (EKEK) yakni, teknik lama dengan irisan yang besar untuk mengganti lensa mata dengan lensa intraoculer (lensa tanam). “Teknik operasi ini mengharuskan jahitan sehingga perlu waktu lebih lama untuk pemulihan,” jelasnya. teknik operasi kedua adalah Fakoemulsifikasi, operasi terkini yang hanya memerlukan irisan kecil sekitar 3mm di kornea. Selanjutnya, getaran ultrasonik akan menghancurkan katarak dan mesin Phaco akan membersihkan katarak yang telah hancur tersebut.

Intraoculer yang dapat dilipat dimasukkan melalui irisan tersebut, karena irisannya kecil maka tidak diperlukan jahitan sehingga akan pulih dengan sendirinya,” terangnya. Keunggulan menggunakan teknik Fakoemulsifikasi ini di antaranya, insisi kornea pada bedah katarak sangat kecil. Dengan penemuan lensa yang dapat dilipat, hingga dapat digulung, maka sisi kornea semakin diperkecil. Empat hingga lima jahitan kornea pada teknik EKEK dapat dimilimalisir, sehingga pada teknik terbaru dengan mesin Phaco hanya diperlukan satu jahitan, bahkan tidak perlu jahitan sama sekali. “Semakin kecilnya luka operasi, semakin cepat pula pemulihan ketajaman penglihatan penderita,” ujarnya.

Dokter lulusan Universitas Indonesia ini juga menambahkan, operasi katarak hanya dapat dilakukan pada satu mata saja. artinya butuh selang waktu dua minggu atau lebih jika ingin mengoperasi mata yang satunya. Selama masa pemulihan, pasien sebaiknya dapat menghindari aktivitas seperti menggosok mata, berenang, aktivitas berat dan berhati-hati menjaga kebersihan mata dari debu. “Penderita biasanya bisa kembali berutinitas secara normal dalam dua minggu setelah operasi,” ucap dr Hafizah.

Prosedur operasi ini dijamin aman bagi semua pasien, termasuk bagi yang menderita katarak bawaan dan pasien lansia. “Kami pernah melakukan bedah katarak pada pasien bayi dan lansia berumur 99 tahun,” paparnya.

Bahkan beberapa waktu lalu, ia mendapatkan pasien lansia berkat informasi dan pertolongan dari mitra kerja RSAB di Rumah Zakat. “Waktu pertama diantar ke RSAB, orangtua ini sangat kurus. Mungkin karena penglihatan yang terganggu mengakibatkan dirinya tidak begitu mengurus diri,” katanya.

Setelah melalui tahapan operasi katarak, ujar dr Hafizah, pasien tersebut sudah pulih dari katarak. “Beliau sudah sehat dan lebih gemukan dibanding saat diantar pertama kali ke sini,” ucap dr Hafizah.

Banyaknya penderita katarak dan pertumbuhan jumlah penderita yang terus meningkat, tidak semuanya bisa tercover jumlahnya. Oleh karena itu, RSAB bersama Pollux Habibie Vision, Klinik Mata dr Hasri Ainun Habibie, Perdami, Pemko Batam dan Dinas Kesehatan Kota Batam menyelenggarakan bakti sosial operasi katarak yang akan diselenggarakan 19 agustus mendatang di RSAB. “Pendaftaran masih kami buka hingga 16 Juli mendatang, bisa langsung datang atau menghubungi RSAB melalui humas kami di 081363478056 atau 081363882424,” kata Hafizah.

Dia mengatakan prosedur screening peserta dimajukan menjadi tanggal 10 Juli hingga 8 agustus mendatang. “Untuk operasinya tetap dilakukan sesuai jadwal,”ucapnya. Peserta hanya diwajibkan membawa foto copy KTP dan membawa Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari RT atau RW setempat. “Semuanya gratis,” sebutnya. Ada sekitar 30 dokter spesialis mata yang akan terlibat dalam bakti sosial ini. “Mereka dari Persatuan Dokter Mata Indonesia (PDMI) yang sangat berkompeten dan sudah memiliki jam terbang tinggi untuk melakukan bedah katarak ini,” terangnya.

Ia berharap melalui kegiatan ini bisa mengurangi dan memperlambat peningkatan pengidap katarak tiap tahunnya. “Operasi ini untuk semua kalangan, tidak hanya terbatas untuk Batam saja. Jadi silahkan daftarkan diri anda, keluarga dan kerabat anda yang mengidap katarak,” tutupnya.

Gejala Katarak

  • Pandangan kabur atau
    berkabut seperti melihat
    melalui kaca yang
    berembun.
  • Ukuran kaca mata yang
    sering berubah.
  • Pada siang hari penglihatan
    terasa silau.
  • Pada Malam hari
    penglihatan ganda.

Penyebab Katarak

  • Pertambahan usia (penuaan)
  • Riwayat keluarga
  • Trauma atau cidera mata
  • Penggunaan obat seperti steroid
  • Paparan sinar matahari berlebih
  • Pernah operasi mata sebelumnya

Pengobatan Katarak

  • Operasi merupakan jalan satu-satunya untuk mengatasi katarak, belum ada obat minum, obat tetes, vitamin ataupun alat yang dapat mengobati katarak. Setelah operasi, penderita sudah bisa melihat normal seperti biasa.
Sumber: Batam Pos | Minggu, 9 Juli 2017 | Hal. 5
Categories: Artikel and RS Awal Bros Batam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *