Deteksi Dini Kanker Payudara

Kanker payudara menyerang secara diam-diam, bahkan tanpa adanya rasa nyeri. Tidak heran, kanker ini menjadi pembunuh kedua bagi wanita setelah kanker serviks. Artis senior Rima Melati, mungkin tergolong pasien yang berhasil melewati masa-masa sulitnya ketika menderita kanker payudara. Rima divonis menderita kanker payudara stadium lanjut di tengah kesibukannya menjadi pemain sinetron. Seperti yang diketahui, kanker ini memang menyerang secara diam-diam bahkan tanpa adanya rasa nyeri.

Kebanyakan kasus, penderita baru mengetahui dirinya mengidap kanker payudara, setelah secara tidak sengaja ditemukan saat memeriksakan diri ke dokter. Rima pun harus merelakan separuh payudaranya diangkat, karena sel-sel kanker yang sudah menyebar karena lambat ditangani. Lain lagi dengan artis Yana Zein yang harus kehilangan nyawanya saat berjuang melawan kanker ini. Setelah menjalani pengobatan kanker payudara di Cina, Yana sempat dikatakan nyaris sembuh, selang beberapa hari pulang ke tanah air, publik dikagetkan dengan berita Yana yang mengalami koma.

Yana sebelumnya mengaku sel kankernya sudah dihancurkan sehingga bisa dikatakan kesembuhannya mencapai 75 persen. Tinggal sedikit sampai benar-benar dikatakan sembuh, namun ternyata Yana menghembuskan nafas terakhirnya. Kabar itu sontak saja mengejutkan para wanita yang dihantui akan bahayanya kanker payudara ini.

Dokter Spesialis Radiologi Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Batam, dr I Putu Widyhantara, SpRad menyatakan, kanker payudara pada umumnya diawali dengan adanya benjolan di payudara. Jika diibaratkan sebuah jam, benjolan cikal bakal penyakit terganas pada perempuan setelah kanker mulut rahim itu, muncul di bagian sisi luar atas. “Di atas angka 9 atau angka 3,” kata Putu ketika ditemui di ruang praktiknya di Rumah Sakit Awal Bros (RSAB).

Umumnya, lanjut dia, pasien tidak merasakan nyeri. “Tanda penting jika benjolan itu ganas atau berpotensi kanker adalah keluarnya cairan dari puting susu dan ada kelenjar di ketiak,” ungkapnya. Sedangkan rentang waktunya tergantung dari selnya, termasuk yang invasif atau non invasif. “Jika selnya invasif dalam jangka waktu 6 sampai 12 bulan akan membesar, tapi kalau yang non invasif bisa lebih lama dari itu,” ujar Putu. Menurut Putu, ada beberapa faktor risiko utama penyebab kanker payudara, yakni faktor yang tidak bisa dihindari dan faktor yang bisa dihindari.

Faktor yang tidak bisa dihindari, yaitu faktor genetis atau keturunan. “Artinya ada riwayat kanker payudara di dalam keluarga, seperti ibu, nenek atau saudaranya,” jelasnya. Sedangkan faktor yang bisa dihindari, antara lain, yang berkaitan dengan reproduksi. Seperti perempuan yang tidak menikah, tidak hamil dan tidak menyusui. Faktor risiko yang bisa dihindari lainnya adalah penggunaan KB hormonal (suntik , pil) dalam jangka yang lama. “Itu bisa memicu terjadinya aktivasi atau ketidakseimbangan hormonal di dalam parenkim yaitu kelenjar di payudara,” kata Putu.

Terapi yang menggunakan hormon dan paparan radiasi dalam jumlah yang jumlah yang berulang juga bisa menyebabkan kanker payudara. “Jika terpapar radiasi yang berulang atau kena radiasi nuklir selnya akan bersifat onkogenik, bertransformasi menjadi keganasan,” paparnya. Kanker payudara bisa dicegah. Menurut dr Putu, ada tiga strategi pencegahan kanker payudara, yaitu: primer, sekunder dan tersier. Pencegahan primer dilakukan pada wanita sehat, dalam artian wanita yang belum terpapar faktor risiko. Pencegahannya bisa dengan cara pemeriksaan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri). Pemeriksaan SADARI bisa dimulai sejak remaja. “Pemeriksaan yang baik dilakukan 7-12 hari setelah menstruasi karena saat itu payudara lebih fleksibel dan tidak nyeri lagi,” katanya lagi.

Sedangkan bagi wanita yang telah menopause atau tidak menstruasi lagi, dapat dilakukan kapan saja. “Usia di atas 40 tahun dianjurkan pemeriksaan mamografi sehingga akan diketahui apakah terdapat kanker jinak atau kanker ganas, sedangkan bagi remaja cukup di-USG (ultrasonografi, red),” bebernya. Dalam laman wikipedia, mammografi adalah proses pemeriksaan payudara manusia menggunakan sinar-X dosis rendah (umumnya berkisar 0,7 mSv). Sedangkan USG medis adalah sebuah teknik diagnostik pencitraan menggunakan suara ultra untuk mencitrakan organ internal dan otot, ukuran mereka, struktur dan luka patologi, membuat teknik ini berguna untuk memeriksa organ.

Pencegahan sekunder dilakukan pada wanita yang mempunyai faktor risiko. Bagi wanita di atas 35 tahun yang punya faktor risiko, dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan mammografi. Sedangkan pencegahan tersier dilakukan kepada wanita yang sudah ada tanda-tanda seperti benjolan di payudara, atau penebalan di payudara yang tidak sakit, sakit di payudara, terjadi lekukan di kulit payudara (seperti kulit jeruk), perubahan warna atau tekstur kulit payudara, perubahan bentuk payudara, puting susu tertarik ke dalam atau puting susu mengeluarkan cairan abnormal. “Jika sudah begitu perlu pemeriksaan lebih spesifik, perlu tindakan operasi atau operasi dengan terapi radio terapi,” ucap Putu.

Radioterapi merupakan pengobatan dengan sinar- X untuk mematikan sel-sel ganas yang masih ada di area payudara. Putu juga mengingatkan kepada pasien yang pernah dioperasi agar jangan berpuas diri sehingga abai dengan kemungkinan sel-sel kankernya muncul kembali. “Disarankan USG setelah setahun dioperasi untuk memastikan apakah sel-sel kankernya muncul lagi atau tidak,” katanya. Apakah faktor makanan bisa menyebabkan kanker payudara?

“Sampai saat ini belum ada penelitian yang memastikan makanan penyebab kanker payudara, tapi faktor obesitas bisa menjadi penyebab kanker payudara,” bebernya. “Selain itu, alkohol bisa memicu kanker payudara.” Putu menyarankan bagi wanita yang punya faktor risiko agar menghindari makanan berlemak tinggi, mengandung kolesterol tinggi dan minuman beralkohol. “Rutinlah berolahraga agar daya tahan tubuh kuat, jika daya tahan tubuh kuat, tubuh kita bisa melawan penyakit,” katanya.

SUMBER : BATAM POST | HEALTHY LIVING | SENIN, 17 JULI 2017
Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Batam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *