Kenali Kebutuhan Gizi Bayi

Penting bagi para ibu mengetahui kebutuhan gizi bayinya. Sebab zat gizi sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan si kecil.

Gizi dapat diperoleh dari asupan makanan yang diberikan kepada sayng bayi. Pemberian makanan berbeda – beda tergantung usia anak. Jumlah kebutuhan gizi bayi (0-12 bulan) itu berbeda – beda sesuai usianya. Makanya pemberian makannya juga berbeda, kata dr. Brain Gantoro, SpGK, dokter spesialis gizi di Rumah Sakit Awal Bros Batam.

Bayi berusia 0-6 bulan, idealnya mendapatkan ASI eksklusif. Artinya, bayi tidak diberikan makanan apapun selain ASI. Namun, jika pemberian ASI eksklusif tak bisa dilakukan, misalnya ASI tidak ada atau sang ibu mengalami sakit tertentu, bisa digantikan dengan susu formula. “Dibantu dengan susu formula boleh saja. Tapi usahakan setelah usia 6 bulan. Sebab jika bayi lebih banyak mengonsumsi susu formula dan si ibu jarang menyusui, maka sedikit,” kata dia.

Tak ada alasan bagi ibu yang sibuk atau tak sempat menyusui bayinya. Ibu yang bekerja di luar rumah, dapat menabung ASI, yakni dengan memompa ASI dan menyimpan di dalam kulkas. ASI dapat dihangatkan saat hendak diberikan kepada bayi. Menurut dr. Brain, sebaiknya ASI menjadi makanan utama bayi usia 0-6 bulan. “Bahkan air putih pun tak dibenarkan. Dalam sehari, ASI diberikan minimal delapan kali. Sementara durasi menyusui secara langsung idealnya 10 – 20 menit,” katanya.

Sedangkan untuk bayi usia 6-8 bulan sudah harus diberi makanan pendamping ASI. Sebab, di usia tersebut kebutuhan asupan gizi bayi menjadi lebih tinggi. Makanan pendamping ini bisa berasal dari buah – buahan yang di jus atau kerok, dan tanpa gula. Kebutuhannya 60-120 ml per hari bagi setiap bayi usia ini. “Buah yang dipilih bisa pisang, papaya, atau apel. Hindarkan jerukdan tomat karena rasa asam,” ujarnya.

Jus dapat ditambah dengan serelia atau biji – bijian. Untuk makanan ini bisa diperoleh dari biji-bijian halus seperti beras. Ibu juga bisa membuat bubur susu untuk bayinya. Caranya dengan mencampur bubur nasi dengan susu. Nasi bisa juga diganti dengan biscuit khusus bayi yang terbuat dari gandum. “Takarannya juga 60 – 120ml per hari. Idealnya makan bubur susu ini sekali sehari saja,” katanya.

Sementara untuk bayi usia 8-10 bulan, asupan ASI tak ditakar lagi. Namun sesuai keinginan bayi. Jus buah tetap diberikan seperti pada usia 6-8 bulan. Bubur susu ditingkatkan menjadi bubur saring. Cara membuat bubur saring sama seperti bubur susu, tetapi ditambah sayuran dan lauk. Kemudian disaring dengan saringan kasar. “Sayurnya bisa pilih bayam dan wortel, sedangkan lauk hati ayam. Hati dipilih karena banyak mengandung zat besi yang dibutuhkan bayi,” kata dr. Brain.

Bubur saring sebaiknya tidak memakai garam. Makanan selingan bisa ditambah biscuit. Selanjutnya di usia 10 – 12 bulan, bubur saring ditingkatkan menjadi nasi tim atau bubur sum sum. Pemberian makan ini dilakukan tiga kali sehari. Jus atau biscuit bisa diberikan dua kali sehari untuk selingan. “Selingan diberikan jam 10 pagi dan jam 4 sore,” ujar dr. Brain.

Bayi di atas 12 bulan sudah diajarkan makan makanan orang dewasa. Tetapi sayur, buah, dan susu tetap diperbanyak. ASI dianjurkan diberikan hingga 24 bulan atau 2 tahun. Bagi setiap bayi, zat – zat seperti karbohidrat, protein, lemak, mineral, zat besi, vitamin dan serat sangat dibutuhkan. Sebaiknya zat – zat itu diperoleh dari makanan yang diolah sendiri. Jika pertumbuhannya masih terkendala atau sakit berat barulah diberikan vitamin tambahan.

TANDA BAYI KURANG GIZI

Untuk melihat apakah seorang bayi kurang gizi dapat diukur melalui tabel angka kecukupan gizi. Namun bagi seorang ibu yang tak memiliki akses untuk mengukur bayinya berdasarkan tabel tersebut, dapat mengikuti posyandu setiap bulan.

Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr. Brain Gantoro, SpGK,

“Pemerintah punya program imunisasi tiap bulan. Bayi ditimbang saat imunisasi. Di sana ada buku catatan untuk setiap bayi. Berapa berat badan ideal, panjang bayi, semuanya diukur. Jika hasil timbangan tak sesuai dengan yang di buku, bisa jadi bayi kekurangan gizi,” kata dr. Brain.

Selain itu, ibu juga bisa membandingkan bayinya dengan bayi lain seusianya. Jika bayinya tampak kurus, lebih pendek, berarti ada yang tak beres dengan si kecil. Bisa jadi kekurangan gizi. “Tapi kalua di atas 5 tahun dan si anak masih pendek, bisa jadi itu faktor keturunan. Bukan karena kurang gizi,” katanya.

Jika kekurangan gizi sudah sangat berat, maka dikategorikan malnutrisi atau gizi buruk. Secara singkat dokter Brain mengklasifikasikan gizi buruk menjadi marasmus, kwashiorokor, dan marasmik kwasihiorkor.

“Marasmus itu kurang kalori, kurang karbohidrat. Tandanya kurus, berat badan jauh dari ideal. Kwashiorkor kekurangan protein sekali, sehingga badannya bengkak. Kalau dipencet penyet terutama kaki. Ini juga disebut busung lapat,” katanya.

Sementara marasmik kwashiorkor campuran antara marasmus dan kwashiorkor. Berat badan bayi kurang tetapi besar dan gemuk. Bila dipencet penyet. Rambut mudah tercerabut dan warnanya seperti rambut jagung. Jika sudah di tahap itu, bayi harus di rawat di rumah sakit.

SUMBER: KORAN SINDO | 15 AGUSTUS 2017 | HEALTH | HAL. 24
Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Batam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *