Deteksi Dini Tuberkulosis

BILA Anda terserang batuk berkepanjangan lebih dari dua minggu disertai rasa sakit dan sesak napas, Anda perlu mewaspadai adaya gejala tuberculosis atau TBC. Deteksi tuberculosis sedini mungkin, dapat meningkatkan keberhasilan pengobatan yang tentunya akan menyelamatkan hidup Anda. Untuk mendeteksi adanya penyakit tuberculosis, perlu dilakukan serangkaian tes. Bila batuk tidak segera kunjung sembuh dan mengganggu, hal tersebut perlu diwasapadai. Bisa jadi itu infeksi di saluran pernafasan, radang paru-paru bahkan penyakit TBC (tuberculosis).

‘’TBC merupakan infeksi yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis), kemudian kuman ini menyerang tubuh manusia, terutama paru-paru. Namun, bisa juga ada yang di luar paru-paru, misalnya TB tulang, TB kelenjar dan TB ginjal. TBC merupakan salah satu penyakit menular yang masih tinggi prevalensinya di dunia yang ditandai dengan batuk yang membandel. Umumnya TBC yang menyerang paru-paru dikenal dengan TB paru dan penyakit ini ditularkan lewat droplet nucleus, yaitu percikan dahak yang terdapat kuman,’’ ujar Dokter Spesialis Paru Rumah sakit Awal Bros Panam dr Syamsul Afandi SpP kepada Riau Pos, Rabu (13/9).

Selain disebabkan kuman TB, TBC bisa dikaitkan dengan sistem imun (kekebalan tubuh) seseorang. Di dalam tubuh manusia terdapat makrofag yang bertugas membunuh kuman TB.

Makrofag ini dibangun oleh sistem imun tubuh, ada kalanya makrofag bisa kalah sehingga membuat seseorang sakit. ‘’Pada pasien yang menderita diabetes dan HIV, sangat rentan terserang TBC, apalagi pada anak, sebab sistem imun anak belum terbentuk dengan sempurna,’’ sebutnya.

Gejala TBC antara lain: Batuk terus-menerus dan berdahak kurang lebih 2-3 minggu, dahak yang keluar terkadang bercampur darah, demam lebih dari 1 bulan terutama siang dan sore hari, badan terasa lemah, berat badan menurun, nafsu makan berkurang dan bila sakit sudah berlanjut, timbul sesak nafas dan nyeri pada dada, sering berkeringat pada malam hari meskipun tidak melakukan kegiatan.

‘’Pasien harus diberi edukasi tentang memutus rantai penularan dengan cara berobat secara teratur, tidak terputus dan minum obat sesuai yang dianjurkan dokter. Pengobatan teratur ini biasanya memakan waktu 6 bulan, teratur, rutin, tidak terputus-putus dan selama pengobatan diperlukan pemeriksaan dahak sampai akhir pengobatan,’’ katanya lagi.

Untuk mencegah agar tidak terkena penyakit TBC ini, maka biasakanlah gaya hidup sehat.

Gaya hidup sehat akan mampu mencegah dan mengendalikan infeksi TB, untuk itu, kita harus melakukan hal-hal seperti menjaga kebersihan tangan, cuci tangan dengan air bersih dan sabun atau pencuci tangan berbasis alkohol, melakukan etika batuk, jika batuk, tutuplah hidung dan mulut menggunakan tisu atau sapu tangan dan segera buang tisu tadi ke tempat sampah, jangan membuang dahak dan meludah sembarang tempat, jika sudah divonis positif menderita penyakit TBC, segera berobat secara teratur selama 6 bulan, hindari merokok, penderita TBC dianjurkan tidur sendirian, tanpa satu kamar dengan keluarganya terutama dalam 2 bulan pertama pengobatan, untuk mempertinggi daya tahan tubuh, makanlah makanan bergizi yang terjangkau misalnya tahu, tempe, ikan asin, sayur-sayuran dan buah-buahan, rumah tempat tinggal harus memiliki ventilasi udara yang baik, agar aliran udara berjalan lancar, selalu gunakan masker di manapun dan kapan pun Anda berada, terutama ketika berkendara dengan roda dua.

‘’Anjurannya yaitu mengunjungi dokter keluarga, rumah sakit atau puskesmas terdekat. Biasanya diperlukan pemeriksaan sputum (dahak) yang diambil tiga kali, atau dikenal dengan SPS (sewaktu pagi sewaktu). Pengambilan sputum pertama dilakukan dokter atau petugas kesehatan sewaktu kunjungan pertama. Penampungan sputum kedua biasanya dilakukan sendiri pada pagi hari berikutnya, segera sesaat bangun tidur. Sedangkan sputum ketiga ditampung pada hari penyerahan sputum kedua ke petugas medis. Sputum yang telah ditampung dalam wadah yang steril kemudian diperiksa dengan mikroskop untuk dihitung jumlah kuman TB. Untuk kasus dimana pasien tidak bisa mengeluarkan sputum, diperlukan prosedur lain seperti bronchoscopy dan bilasan lambung. Pemeriksaan radiologi berupa foto thorax/ Rontgen kadang diperlukan untuk membantu menilai gambaran paru pasien.

Bagaimana cara menanggulangi penyakit TB?

Penderita TB harus menjalani pengobatan dengan obat anti TB (OAT) yang telah ditentukan oleh tenaga medis. Terapi TB tahap awal biasanya menggunakan kombinasi 4 jenis obat (rifampisin, isoniazid, ethambutol, pirazinamid atau streptomisin) dan diberikan selama 6 bulan pada beberapa kasus, pengobatan dapat berlangsung lebih lama. ‘’Penyakit TB harus diobati minimal dengan dua jenis OAT untuk mencegah terjadinya resistensi. Selain itu, bila obat tidak dikonsumsi secara teratur atau tidak habis diminum sesuai regimen pengobatan, resistensi obat dapat terjadi dan hal ini akan menyulitkan penyembuhan,’’ tegasnya.

Durasi dan regimen pemberian obat disesuaikan dengan kondisi pasien, tingkat keparahan penyakit dan ada tidaknya resistensi bakteri. Bila pasien TB juga menderita AIDS, diperlukan pemeriksaan kadar CD4 terlebih dahulu. Pasien tersebut diterapi minimal 6 bulan dan respon terapi harus dimonitor secara ketat. Wanita hamil, bayi dan anak dibawah umur 4 tahun harus segera menjalani pengobatan bila diagnosis TB telah ditegakkan. Bayi dan anak dengan TB yang sudah menyebar dan berat (TB milier), TB tulang atau TB meningitis harus mendapatkan terapi dengan durasi sekitar satu tahun. Sedangkan TB dengan MDR (Multi-drug resistance; MDR-TB) memerlukan pengobatan yang lebih lama lagi.

Akan tetapi, dalam proses pengobatan terkadang dijumpai kendala yang dapat menghambat kesembuhan pasien. Putus berobat menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga kesehatan. Bagi pasien, hal tersebut menyebabkan gagalnya pengobatan. Sedangkan bagi tenaga kesehatan, hal tersebut menyebabkan resistensi terhadap obat yang diberikan sehingga menyulitkan terapi ke depannya. Penderita TB dengan demikian harus mendapat dukungan emosional untuk membantu proses penyembuhan. Pengawas minum obat biasanya diperlukan dan dapat dipilih anggota keluarga pasien sendiri yang disegani, paramedis, atau sukarelawan.

Masalah lain yang prevalensinya sedang meningkat ialah MDR-TB dimana kuman TB resisten terhadap obat isoniazid dan rifampicin yang merupakan dua obat paling ampuh. Infeksi HIV juga berperan dalam terjadinya MDR-TB. Selain itu, juga diestimasi bahwa masih banyak kasus MDR-TB yang belum ditangani semestinya. Pasien dengan MDR-TB biasanya dirujuk ke dokter spesialis paru.***

Sumber: Riau Pos, Tanggal 15 September 2017, halaman 14

Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Panam.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *