Jadilah Generasi Optimis

Guys, kamu masih ingat dengan ekspeimen gelas setengah penuh (half full) atau setengah kosong (half empty)? Eksperimen itu seolah membagi manusia ke dalam dua kategori besar. Kamu yang memandang gelas setengah kosong (half empty), dikategorikan orang yang pesimistis. Sebaliknya, kamu yang melihat gelas tersebut akan penuh (half full), berarti kamu termasuk orang optimistis.

Menjadi orang optimis maupun pesimis sangat menentukan bagaimana kamu menghadapi persoalan dalam hidup. Nah, sekarang bagaimana kamu menilai diri apakah sebagai orang optimis dan pesimis? Menurut Ibu Maryana, M. Psi., Psi, psikolog Rumah Sakit Awal Bros Batam (RSAB), seseorang bisa terlihat apakah masuk kategori optimistis atau pesimistis dari kepribadian dan cara mempersepsi atau memandang suatu hal.

“Misalnya dalam keluarga terdapat suatu masalah, maka akan terlihat orang optimistis melihat masalah akan selesai dan sebaliknya. Meskipun banyak hal negatif yang dilihatnya, orang optimis itu akan berpikiran bahwa masalah akan bisa diselesaikan,” kata Ibu Maryana.

Cara seseorang mempersiapkan suatu masalah akan mempengaruhinya dalam tindakan dan pengambilan keputusan. Jika berpikir optimistis, maka dalam setiap permasalahan akan dicari titik terangnya. Begitu pula sebaliknya, orang pisimis akan berpikir masalah tidak bisa diselesaikan dan pasrah kepada keadaan. Tidak hanya tindakan, optimistis dan pisimistisnya seseorang juga bisa dilihat dari apa yang diucapkan.

Ibu Maryana menjelaskan, dalam kehidupan ini tidak ada orang yang 100 persen optimistis dan tidak ada pula yang 100 persen pesimistis. Karena bisa saja yang dulunya dianggap pesimistis, tetapi saat ia mendapatkan pencerahan atau belajar dari buku atau lingkungannya, menjadi yang optimis. Begitu pula sebaliknya. “Lingkungan sangat mempengaruhi (pisimistis dan optimistisnya seseorang), terutama keluarga. Respon anak akan kelihatan dari respon orang tuanya. Karena anak belajar sesuatu awalnya dari orang tua,” ujar Ibu Maryana. Sikap optimistis dan pesimistis juga bisa dilihat dari pengalaman hidupnya. Jika ia mempunyai pengalaman hidupnya.

Jika ia mempunyai pengalaman buruk terhadap sesuatu, maka ia akan dihinggapi lebih banyak pikiran negatif. Begitu pula sebaliknya. Orang yang bisa melihat sesutau hal dengan cara pandang positif, maka hidupnya akan cenderung lebih bahagia.  “Jika kamu merasa ada seseorang yang nyebelin atau resek, maka ada yang salah dalam dirinya, dalam diri merasa tidak damai. Maka perlu pencerahan dan ketika dia tersadar mengakui itu hal salah, secara tidak langsung ia akan berasa berdamai dengan dirinya sendiri. Maka yang perlu di tetapkan dalam diri adalah sikap kehati – hatian, bukan pesimis,” tambah Ibu Maryana.

Tips Tumbuhkan Sikap Optimis

  1. Lihatlah semua hal dari segala sisi, jangan hanya sisi buruknya saja tapi juga sisi baiknya.
  2. Perimbangan segala sisi akan menghasilkan keputusan yang lebih baik.
  3. Perlu menumbuhkan sikap hati-hati dengan optimis, agar tidak takut melangkah.
  4. Jangan takut salah, karena hidup perlu berkembang dan tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan.
SUMBER: TRIBUN BATAM | MELLENINIAL | 18 SEPTEMBER 2017 | HAL. 12
Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Batam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *