Sembelit Picu Gangguan Irama Jantung

Masalah susah Buang Air Besar (BAB) atau konstipasi seringkali menimbulkan ketidaknyamanan. Namun, ternyata konstipasi juga memicu gangguan jantung serta penyakit lainnya. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Saluran Cerna dan Hati Rumah Sakit Awal Bros Batam dr. Arif Koswandi, SpPD-KGEH mengatakan, susah BAB atau sembelit atau istilah medisnya konstipasi ini memang seringkali dialami sebagian besar orang. Biasanya frekuensi BAB kurang dari 3x dalam seminggu, kata dr. Arif.

Secara umum memang bisa dialami oleh siapa saja, namun konstipasi dua kali lebih banyak dialami oleh wanita terutama pada masa kehamilan. Untuk penyebabnya sendiri bisa diakibatkan karena kurang minum, kurang serat, perubahan pola makan, serta kebiasaan mengabaikan keinginan untuk BAB. “Kemudian ada juga efek samping obat – obatan, kecemasan hingga depresi,” sebutnya.

Lalu seperti apa sih pengaruh penyakit ini dengan gangguan detak atau irama jantung? Dokter lulusan Universitas Padjajaran Bandung ini menuturkan, ketika penderita konstipasi kronis dengan riwayat sakit jantung mengejan, dapat memicu gangguan aliran darah ke jantung. “Karena itu sering kali kita dapati serangan jantung saat sedang BAB,” ungkapnya.

Hal ini juga mendasari penderita sakit jantung untuk menjaga pola makan agar BAB lancar. Maka resiko untuk mengejan sampai gangguan irama jantung atau Aritmia bisa dihindari. Kembali pada konstipasi, dr. Arif menjelaskan lebih lanjut gangguan ke belakang yang dalam waktu lama atau tahap kronis juga menjadi tanda adanya masalah pada tubuh, seperti diabetes, gangguan saluran pencernaan bawah dan gangguan kelenjar tiroid (hipotiroidisme).

Konstipasi kronis juga menjadi salah satu pemicu penyakit seperti tumor dan peradangan usus. Feses (kotoran) yang tidak rutin dikeluarkan akan mengeras. Prolaps Rekti (rectum yang keluar) juga bisa terjadi akibat pengejanan yang berlebihan. Feses yang keras ini juga beresiko melukai usus.

“Pada pasien dengan peradangan usus tentu hal ini akan semakin memperburuk keadaan,” tegasnya. Karena itu penting sekali mengenali tanda – tanda konstipasi yang berbahaya atau alarm tanda bahayanya. “Pertama adalah ada noda darah di feses. Benjolan di perut, kemudian memiliki riwayat kaluarga kanker usus, penurunan berat badan 5 kilogram dalam tiga bulan dan mual muntah yang berulang,” dr. Arif menjelaskan.

Setelah mengetahui tanda tersebut, pasien selanjutnya harus mendatangi dokter di rumah sakit agar dapat ditangani lebih lanjut. Hal pertama yang dilakukan adalah pemeriksaan laboratorium. “Untuk mengetahui gula darah, kalsium, kalium dan steroid (lemak sterol) pada penderita (lemak sterol) pada penderita,” katanya.

Selanjutnya dokter akan melakukan prosedur kolonoskopi. Pemeriksaan untuk mendeteksi ketidaknormalan pada usus besar dan anus. “Alat diagnostik berupa pipa lentur yang dilengkapi kamera ini digunakan untuk menilai kemungkinan penyebab konstipasi itu sendiri. Setelah itu baru dilakukan prosedur lanjutan sesuai dengan penyebabnya tadi,” jelas dr. Arif.

Namun, sebelumnya jika tidak menemukan alarm tanda bahaya ini, penderita dapat melakukan terapi empiric sendiri di rumah, yakni dengan mengubah gaya hidup. “Dengan makanan tinggi serat yang dianjurkan untuk 20 – 30 gram per hari. Minum yang cukup dan meningkatkan aktivitas fisik dapat membantu melacarkan kembali proses BAB,” terangnya.

GEJALA KONSTIPASI

  • Mengejan berlebihan saat BAB
  • Proses BAB terasa tidak tuntas
  • Feses kering dan keras
  • Sakit dan kram perut terutama bagian bawah
  • Kembung, mual disertai tidak nafsu makan

PENCEGAHAN KONSTIPASI

  • Memperbanyak minum air putih
  • Memperbanyak konsumsi makanan tinggi serat
  • Meningkatkan frekuensi aktivitas fisik berupa olahraga
  • Jangan mengabaikan keinginan untuk BAB
SUMBER: BATAM POS | HEALTY LIVING | HAL. 10 | 24 SEPTEMBER 2017
Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Batam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *