Deteksi Tonsilitis Sejak Dini

Pekanbaru-AMANDEL merupakan salah satu jenis gangguan kesehatan dan penyakit yang dapat mengakibatkan efek negatif yang dapat menjalar pada gangguan THT ( Telinga, Hidung dan Tenggorokan ). Amandel dapat menyerang anak-anak dan orang dewasa, dalam bahasa medis amandel di tenggorokan disebut juga sebagai Tonsila Palatina.

“Tonsilitis adalah peradangan pada tonsil (amandel) yang merupakan bagian dari cincin Waldeyer (jaringan limfoid) yang disebabkan oleh mikro organisme berupa virus, bakteri dan jamur yang masuk melalui saluran pernapasan atas maupun dari makanan dan minuman dari mulut. Berdasarkan waktu berlangsung (lamanya) penyakit, tonsilitis terbagi menjadi 2, yakni tonsilitis akut jika penyakit (keluhan) berlangsung kurang dari 3 minggu dan tonsilitis kronis jika inflamasi atau peradangan pada tonsil berlangsung lebih dari 3 bulan atau menetap. Infeksi terjadi terus-menerus karena ketidaksesuaian pemberian antibiotik atau karena pengobatan yang tidak tepat. “Tonsilitis ditemukan di usia prasekolah pada balita maupun pada remaja di masa pubertas, Namun tidak tertutup kemungkinan di usia 30-40 tahun juga bisa menderita tonsillitis,’’ ujar Dokter Spesialis THT rumah sakit Awal Bros Panam dr Ariel Anugrahani SpTHT-KL kepada Riau Pos, Rabu (20/9).

“Penderita tonsilitis biasanya memiliki keluhan utama nyeri atau sakit menelan akibat adanya pembesaran ukuran tonsil sehingga ada rasa mengganjal di tenggorok. Gejala sistemis yaitu rasa tidak enak badan, nyeri kepala, demam hingga nyeri leher yang menjalar ke telinga. Gejala klinis yang tampak yaitu tonsil dengan kripta melebar, plika tonsilaris anterior hiperemis, adanya detritus, pembengkakan kelenjar limfe regional dan hipertrofi tonsil yang dapat menyebabkan Ostructive Sleep Apnea (OSA) dengan gejala mendengkur/ mengorok ketika tidur, terbangun tiba-tiba karena sesak atau henti nafas, sering mengantuk, gelisah, perhatian berkurang dan prestasi belajar menurun pada usia sekolah. Penderita juga sebagian besar mengalami radang tonsil berulang dengan frekuensi ≥7x/thn.”

Tonsil merupakan jaringan limfoid yang berperan membantu sistem imunitas. Pada tonsilitis kronis terjadi infeksi yang menetap atau berulang. Tonsil yang berulang kali terkena infeksi suatu saat tidak dapat membunuh semua kuman, akibatnya kuman bersarang di dalam tonsil (fokal infeksi). Adanya infeksi berulang dan fokal infeksi menyebabkan tonsil bekerja keras melawan kuman dengan memproduksi sel-sel imun yang banyak sehingga ukuran tonsil akan membesar dengan cepat melebihi ukuran normal. Ukuran tonsil di mulai dari T1 yang paling kecil sampai ke T4 yang paling besar. Pada kasus tonsilitis kronis terjadi infiltrasi limfosit ke epitel permukaan tonsil. Peningkatan jumlah sel plasma di dalam subepitel maupun di dalam jaringan interfolikel. Hiperplasia dan pembentukan fibrosis dari jaringan ikat parenkim dan jaringan limfoid mengakibatkan terjadinya hipertrofi tonsil. Ukuran tonsil yang membesar dapat menimbulkan berbagai keluhan dan gejala seperti rasa tidak nyaman atau rasa mengganjal di tenggorokan, kesulitan menelan dan terutama bisa menyebabkan obstruksi saluran nafas yang ditandai dengan tidur mendengkur, sering mengantuk, gelisah, perhatian kurang dan prestasi belajar menurun. Hal inilah yang biasanya mendorong pasien untuk mencari pengobatan.

Tonsil yang menjadi sarang infeksi akan mudah mengalami infeksi berulang jika ada iritasi pada tenggorok atau tonsil. Makanan yang terlalu pedas, terlalu asam, terlalu panas atau dingin dan makanan-makanan yang terlalu bergetah dan berminyak, serta kebiasaan merokok dapat menimbulkan iritasi ditenggorok yang dapat memicu timbulnya infeksi tenggorok ataupun infeksi tonsil. Pada penderita yang alergi terhadap obat-obatan tertentu, cuaca, debu, makanan dan minuman seringkali mengalami infeksi berulang karena bila alergi tidak dikendalikan akan mengakibatkan daya tahan tubuh menurun dan mudah terserang infeksi saluran nafas khususnya tonsilitis. Bila infeksi yang menyebabkan batuk, pilek atau demam seringkali berulang setiap bulan atau bahkan sebulan dua kali, maka akibat yang paling sering terjadi adalah tonsil membesar hingga mengganggu pernapasan dan gangguan tidur.

Amandel sebenarnya memiliki fungsi yang baik bagi kesehatan organ mulut, seperti :

  1. Amandel dapat berfungsi sebagai pembunuh kuman dan mikro organisme yang masuk melalui organ mulut
  2. Berfungsi sebagai penghasil limfosit yang merupakan bagian dari jenis sel darah putih (leukosit)
  3. Sebagai penghasil antibodi yang menghasilkan Imunoglolubin A yang berfungsi sebagai benteng pertahanan lokal terhadap kuman penyakit yang masuk melalui organ mulut dan rongga hidung.

Namun apabila dilakukan pemeriksaan dijumpai adanya pembesaran tonsil (amandel), kadang dijumpai bercak putih (eksudat) pada permukaan tonsil, warna merah yang menandakan peradangan di sekitar tonsil dan adanya gejala demam, batuk, bau mulut, pembesaran kelenjar getah bening di leher, nyeri saat menelan serta tidur mengorok terutama jika disertai pembesaran adenoid ( amandel dibelakang rongga hidung) yang sering timbul berulang, maka sebaiknya dilakukan operasi pengangkatan amandel

Penatalaksanaan operatif dengan tindakan tonsilektomi (pengangkatan amandel) dilakukan apabila terjadi infeksi berulang atau kronis dan gejala sumbatan jalan napas. Tonsilektomi merupakan prosedur yang paling sering dilakukan terutama pada anak-anak. “Tonsilektomi harus dengan indikasi tepat mengingat peranan tonsil sebagai bagian sistem pertahanan tubuh. Tonsilektomi perlu dipertimbangkan apabila tonsil sebagai fokus infeksi dan gagal dieradikasi dengan terapi antibiotika yang kuat. ” lanjut dr.Ariel

‘’Dengan mengetahui tanda dan gejala penyakit amandel maka kita akan mendapatkan terapi pengobatan yang tepat dan menghindari timbulnya komplikasi lebih lanjut”, katanya.*

Sumber: Riau Pos, tanggal 22 September 2017, Halaman 14

Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Panam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *