Hindari Dermatitis Dengan Jaga Kebersihan Kulit Bayi

Ibu-ibu muda yang baru memiliki bayi, sering kali mengalami masalah dalam merawat bayinya. Misalnya saja masalah dermatitis (ruam popok) yang merupakan akibat dari kurangnya menjaga kebersihan kulit bayi. Dermatitis popok adalah kelainan yang sangat sering dijumpai pada kulit bayi, anak atau bahkan orang dewasa yang menggunakan popok. Berdasarkan penelitian kelainan ini sering ditemukan pada anak berusia 3 minggu hingga 2 tahun, dimana kejadian tertinggi pada usia 9-12 bulan.

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Batam, dr Arief Andri Parwoto, SpKK mengatakan dermatitis popok harus ditangani dengan baik. Selain infeksi bakteri ada beragam penyebab yang mengakibatkan dermatitis popok terjadi, yakni faktor genetik dan lingkungan.
“Bayi atau anak yang sudah memiliki cikal alergi sebelumnya akan lebih mudah untuk menderita dermatitis popok,” kata dr Arief.
Faktor inisial yang berperan dalam timbulnya kelainan ini adalah adanya peningkatan kelembaban pada kulit dalam jangka waktu lama serta gesekan antar kulit atau antara kulit dengan popok. Kelembaban berasal dari urine yang tidak terserap ataupun keringat yang tidak menguap akibat oleh popok.
“Pada keadaan kulit yang terlampau lembab dan adanya gesekan tersebut akan lebih mudah menyebabkan terjadinya kerusakan barrier kulit dan memudahkan timbulnya iritasi,” kata dokter berkacamata ini.
Faktor lainnya yang berperan adalah adanya kontak kulit terhadap urine, feses (tinja), enzim proteolitik dan lipolitik dari saluran pencernaan, dan adanya paparan mikroorganisme seperti jamur dan bakteri serta bahan yang bersifat alergen ataupun iritan. Urine akan meningkatkan pH kulit melalui pemecahan urea menjadi amonia. Peningkatan pH kulit ini akan meningkatkan aktifitas enzim protease dan lipase sehingga terjadi kerusakan barrier kulit lebih lanjut.
Kerusakan barrier kulit akan menyebabkan terjadinya peningkatan permeabilitas kulit sehingga memudahkan mikroorganisme dan bahan-bahan yang bersifat iritan ataupun alergen dapat masuk melalui kulit dan menimbulkan gangguan di kulit.
Faktor nutrisi juga dipertimbangkan sebagai faktor penting lainnya dalam terjadinya dermatitis popok. Diet rendah biotin, seperti halnya yang dapat terjadi pada bayi yang hanya mendapatkan susu formula saja, dapat lebih mudah mengalami dermatitis popok. Selain itu pada umumnya diet yang rendah zinc juga ditemukan sebagai faktor penentu lainnya.

 

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Awal Bros (RSAB)

Secara klinis terdapat beragam gambaran dermatitis popok tetapi pada umumnya yang paling sering ditemukan adalah dermatitis popok iritan dan diikuti dengan dermatitis popok Candida.
Dermatitis popok iritan memberikan gejala klinis berupa bercak kemerahan, lembab, dan kadang bersisik pada daerah bokong dan genitalia yang lebih menonjol. “Kelainan ini dapat tidak bergejala hingga terasa perih pada kelainan yang luas,” ucapnya.
Dermatitis popok Candida merupakan tipe dermatitis popok kedua yang sering dijumpai, ditandai dengan bercak kemerahan yang lebih terang, dan bintik-bintik yang dapat dijumpai di daerah selangkangan. Kadang dijumpai juga terdapatnya bercak keputihan. Infeksi jamur Candida sering dijumpai pada dermatitis popok yang telah berlangsung lebih dari 3 hari, biasanya dipicu oleh keadaan diare dan akan bertambah seiring dengan keparahan dermatitis popok yang terjadi.
Pada saat sekarang ini insiden dermatitis popok menurun sejalan dengan adanya popok yang bersifat super absorbent. Frekuensi penggantian popok juga perlu diperhatikan supaya menjaga daerah popok tetap kering. “Penanganan dermatitis popok tergantung dari derajat keparahan dan agen penyebabnya,” tutupnya.
Penatalaksanaannya dapat dilakukan secara non-medikamentosa (tanpa obat) dan medikamentosa (dengan obat).

I. Penatalaksanaan Non medikamentosa:

  • Air
    Mengurangi kelembaban daerah sekitar popok. Hal ini dapat dilakukan dengan cara daerah popok dibiarkan terbuka selama mungkin misalnya ketika bayi sedang tidur.
  • Barrier ointments
    Pemberian salep pelindung setiap kali melakukan penggantian popok. Salep pelindung bertujuan untuk meminimalisir kontak antara kulit dengan urine maupun feses. Salep yang dapat diberikan seperti salep yang mengandung seng oksida dan petrolatum.
  • Cleansing
    Bersihkan kulit daerah sekitar popok dari urine dan feses dengan menggunakan air bersih yang hangat. Selain itu juga dapat digunakan sabun ringan tanpa parfum. Hindari penggunaan sabun dengan kadar deterjen dan pH tinggi karena dapat menyebabkan terjadinya iritasi lebih lajut. Setelah bersih, keringkan dengan menggunaan handuk yang lembut. Lakukan secara hati-hati agar tidak terjadi kerusakan kulit akibat gesekan.
  • Diaper
    Gunakan popok super absorben dan perhatikan frekuensi penggantian popok. Ganti popok setiap dua jam atau sesegera mungkin bila sudah kotor. Selain itu juga harus menghindari penggunaan popok yang ketat karena akan lebih menyebabkan peningkatan kelembaban di area tersebut.
  • Education
    Edukasi diberikan kepada orang tua dan bayi. Pembelajaran dan membiasakan toilet training pada anak akan mengurangi kebiasaan memakai popok.

II. Medikamentosa

Dermatitis popok derajat sedang hingga berat umumnya memerlukan penatalaksanaan lebih lanjut sehingga memerlukan penanganan dari dokter. Dalam hal ini diperlukan pemberian anti peradangan bahkan antijamur maupun antibakteri tergantung dari kelainan penyerta yang ditemukan.

Penggunaan bedak tidak dianjurkan karena beberapa kandungan produknya dapat menyebabkan terjadinya iritasi lebih lanjut. Pada anak atau bayi yang mengalami diare perlu dilakukan perawatan yang lebih intens. Selain dilakukan pengobatan terhadap diarenya, lakukan penggantian popok yang lebih sering serta pembersihan sisa feses harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi kerusakan barrier kulit akibat adanya gesekan.

SUMBER : BATAM POS | HEALTHY LIVING | HAL. 4 | 1 OKTOBER 2017
Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Batam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *