Cegah Kebutaan Katarak dengan Pemeriksaan Mata Secara Rutin

World Sight Day yaitu Hari penglihatan Sedunia jatuh pada tanggal 12 Oktober kamis minggu kedua bulan oktober yang tahun ini.Salah satu yang menjadi perhatian dalam World Sight Day adalah bagaimana mengurangi angka kebutaan di masyarakan.Saat ini yang menjadi salah satu penyebab kebutaan terbesar di Indonesia adalah katarak.

Katarak merupakan penyakit mata yang banyak dialami masyarakat di Indonesia. Terletak di negara tropis dengan paparan sinar matahari yang banyak menjadi salah satu penyebab mengapa di Indonesia terdapat banyak penderita katarak. Bukan saja dalam segi jumlah, percepatan usia penderita di Indonesia pun termasuk cepat yaitu mulai dari usia 40 tahun.

Menurut dokter spesialis mata dari Rumah Sakit Awal Bros Jalan Sudirman, Pekanbaru  dr Isfyanto SpM, katarak merupakan salah satu penyebab kebutaan yang dapat ditanggulangi. Jika merujuk dari data yang dimiliki Kementerian Kesehatan tahun 2013, angka penderita katarak di Riau lebih tinggi 0,1 persen dari rata-rata penderita katarak di Indonesia yaitu sebesar 1,9 persen.  Artinya  lebi dari 124 ribu masyarakat Riau masih menderita katarak. Kebutaan yang disebabkan oleh katarak bisa diatasi jika penderita mendapatkan penanganan yang cepat. Namun, ternyata masih banyak masyarakat di Riau yang tidak tahu kalau dirinya menderita katarak. Karena itu perlu diketahui apa yang dimaksud dengan katarak.

 Jika didefenisikan, katarak adalah kekeruhan pada lensa mata yang bisa berpotensi terjadi sejak lahir, namun umumnya terjadi pada usia di atas 40 tahun. Penyebab katarak selain karena faktor usia, juga karena sering terpapar sinar ultraviolet, menderita diabetes mellitus (atau secara awam disebut juga sebagai kencing manis), penggunaan obat-obatan jangka panjang seperti anti alergi golongan steroid, anti radang. Katarak juga bisa dipicu oleh aktivitas merokok, minuman beralkohol,  malnutrisi berat, trauma (benturan pada mata), peradangan mata, infeksi janin pada saat kehamilan dan kelainan bawaan.

 “Umumnya penderita katarak gejalanya adalah mudah silau terutama saat menerima cahaya dan pandangan buram. Jika kekeruhan pada lensa mata menebal, secara visual kita bisa lihat di bagian bola mata yang hitam tertutupi warna putih. Penanganan operasi perlu dilakukan cepat mengingat makin lama katarak dibiarkan akan memperparah kondisi mata yang berujung pada kebutaan. Kalaupun belum sampai buta, katarak yang lama dibiarkan akan mempersulit operasi karena kondisinya makin matang, makin keras. Katarak yang terbiarkan lama juga bisa mengakibatkan penyakit glukoma, yang semakin lama bisa menutup pandangan mata,” kata Isfyanto saat ditemui di ruang poli mata RS Awal Bros Jalan Sudirman Pekanbaru Jumat (13/10).

Lebih jauh dijelaskannya, tindakan operasi bisa dilakukan dengan cara mengeluarkan isi yang terdapat di lensa mata, kemudian memasang lensa buatan. Meskipun rata-rata penderita katarak berusia lanjut, tidak tertutup kemungkinan usia muda bisa menderita katarak, jika memiliki potensi bakat atau faktor keturunan. Karena itu seseorang perlu memeriksakan kondisi mata secara rutin.

“Gejala-gejala katarak yaitu penglihatan buram,  seperti berkabut atau berasap dan mengganggu aktivitasnya. Masyarakat di perkotaan biasanya ketika buram sedikit saja sudah berobat ke dokter mata. Akan tetapi masyarakat di pedesaan ketika sudah tidak bisa melihat baru datang ke dokter mata. Sebagian masyarakat baru menyadari penglihatan buram karena katarak saat periksa ke dokter mata,” ujarnya.

Yang juga perlu diperhatikan, lanjut Isfyanto, bahwa terkadang sebagian orang justru merasa penglihatannya bertambah baik saat terkena katarak. Yang tadinya jika membaca harus pakai kaca mata, tetapi saat terkena katarak malah tidak memakai kaca mata.

“Akan tetapi saat dilakukan pemeriksaan baca jauh akan terbukti bahwa penglihatannya buram. Hal ini bisa terjadi karena pada penderita katarak terjadi penambahan kecembungan lensa yang membuat mata akan menjadi lebih ‘minus’. Sehingga mengkonpensasikan kacamata ‘plus’ yang dibutuhkan oleh penderita katarak saat membaca,” sebutnya.

Gejala lain penderita katarak adalah silau, terutama saat melihat cahaya atau lampu.  Hal ini karena cahaya yang biasanya dapat difokuskan dengan baik oleh lensa yang jernih menjadi menyebar karena melewati lensa yang keruh.

Ukuran kaca mata yang sering berubah juga menjadi gejala katarak. Karena perubahan bentuk lensa pada katarak, maka ukuran kacamata akan sering berubah-ubah seiring dengan perkembangn katarak hingga akhirnya tidak ada ukuran kacamata yang sesuai. Pandangan mata ganda jika melihat dengan satu mata dan kesulitan melihat warna termasuk gejala katarak.

Bagi penderita katarak ringan, pengobatan biasanya dilakukan dengan cara pemberian kacamata. Tetapi apabila sudah tidak dapat mengatasi gejala katarak sehingga mengganggu aktivitas maka untuk memperbaiki fungsi penglihatan dengan cara mengganti lensa keruh penderita katarak dengan lensa buatan melalui tindakan bedah. Pada kondisi di mana usai operasi lensa mata kembali keruh, biasanya dilakukan penanganan secara laser.

“Pencegahan bisa dilakukan dengan menghindari faktor-faktor penyebab katarak. Seperti memakai kaca mata anti ultraviolet dan memakai topi saat terpapar matahari, menjaga kadar gula darah, tidak menggunakan obat secara sembarangan, tidak merokok, tidak mengkonsumsi minuman beralkohol, mengkonsumsi  sayuran dan buah-buahan yang mengandung antioksidan,” kata Isfyanto.(*)

 

  

Sumber : Riau Pos, Minggu (15 Okt 2017)

Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Pekanbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *