Nyaman dengan Operasi Laparoskopi Ginekologi

Kecanggihan dan kemajuan teknologi sangat membantu dalam kehidupan manusia tidak terkecuali juga dipergunakan di dunia kedokteran. Dulu, ketika mendengar kata operasi, tidak sedikit yang langsung membayangkan hal-hal yang berat seperti pembedahan dinding perut lewat sayatan yang besar, pendarahan yang banyak, penyembuhan pasca operasi yang memerlukan waktu lama dan sebagainya.

Saat ini seiring kemajuan teknologi, hal-hal berat itu sudah bisa diminimalisir. Melalui metode operasi laparoskopi pasien dan keluarga akan mendapatkan banyak manfaat dibandingkan metode operasi konvensional (laparotomi). Laparoskopi merupakan suatu tindakan pembedahan  invasif  minimal (minimal invasive surgery). Laparoskopi hanya memerlukan pembedahan melalui suatu irisan kecil (0,5 hingga 1 cm) di dinding perut.  Jumlah  lubang yang diperlukan antar 3 sampai 4 lubang yang fungsinya sebagai jalur untuk memasukkan alat ke dalam perut. Satu lubang digunakan untuk memasukkan lensa kamera (teleskop) yang dihubungkan dengan monitor televisi. Lubang yang lain untuk memasukkan peralatan tindakan seperti gunting, penjepit jaringan, pemegang jarum dan peralatan lainnya.

Salah satu tindakan yang dilakukan melalui laparoskopi adalah yang terkait dengan ginekologi (penyakit kandungan) yang bisa diperoleh di Rumah Sakit Awal Bros Panam, Pekanbaru. Menurut dr. Ilham S Lubis SpOG, laparoskopi ginekologi (gynecologic  laparoscopy) menjadi pilihan bagi pasien yang bermasalah dengan kandungan, sehingga penggunaan laparoskopi ginekologi ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan penanganan reproduksi. Berbagai penyakit atau masalah kandungan bisa diatasi dengan metode laparoskopi yaitu kista, mioma, abses (kantong nanah, sebagai akibat infeksi) pada tuba dan ovarium (TOA), tumor ovarium, endometriosis, adenomiosis, infertilitas, berbagai masalah di tuba, pengangkatan rahim, ovarian drilling, bentuk dalam kelamin wanita hingga kehamilan di luar kandungan.

Sebagai contoh pada pengangkatan kista, laparoskopi sudah banyak digunakan. Dikatakan lebih akurat karena melalui pembesaran gambar kamera, pemisahan jaringan kista dengan jaringan ovarium bisa lebih baik dibandingkan secara laparotomi. Namun umumnya kista yang bisa diangkat lewat laparoskopi adalah yang berukuran di bawah 15 cm, sedangkan mioma di bawah 10 cm.

“Dokter melakukan penanganan dengan cara melihat melalui monitor televisi yaitu hasil dari gambar yang dikirimkan kamera yang dimasukkan melalui lubang di dinding yang disayat dalam ukuran yang kecil. Tindakan yang dilakukan tergantung jenis penyakitnya apakah pengangkatan, pemecahan, perbaikan ataupun untuk melakukan diagnosa dan terapiotik,” kata dr Ilham.

Dijelaskannya juga, operasi metode laparoskopi memiliki beberapa keuntungan yaitu, boleh dikatakan hampir tidak meninggalkan bekas sayatan di perut. Hal ini penting sekali dalam hal estetika. Kulit perut seakan terlihat kembali seperti semula karena sayatannya lebih minimal dibandingkan metode konvensional. Karena sayatannya kecil, masa penyembuhannya pun bisa lebih cepat atau dengan kata lain masa rekoverinya lebih cepat . “Jika lewat laparoskopi ibaratnya hari ini operasi besok bisa pulang. Sedangkan metode konvensional perawatan pasca operasi bisa memakan waktu 3-4 hari. Karena itu pula, pasien yang menjalani laparoskopi bisa lebih cepat melakukan aktivitas sehar-harinya dibandingkan sistem laparotomi,” kata Ilham.

Laparoskopi juga nyaman karena mengurangi rasa nyeri akibat sayatan sehingga pasien tidak lagi membayangkan hal-hal berat layaknya ketika mendengar kata operasi. Lewat metode ini pula, penanganan bisa lebih detail karena kamera mengirimkan gambar dengan tingkat pembesaran 5 kali sehingga dalam penanganannya, dokter bisa lebih detail melihat organ yang ditanganinya. “Kalau sistem konvensional kan melihat organ dengan mata yang jaraknya lebih jauh dibandingkan jarak kamera ke organ yang ingin dilihat. Sedangkan lewat laparoskopi hal-hal kecil bisa kelihatan,” kata Ilham.

Karena kamera dan alat-alat kelengkapan berukuran kecil, penanganan pada organ yang letaknya lebih sulit dijangkau akan lebih mudah teratasi dibandingkan metode konvensional. Keuntungan lainnya adalah jumlah pendarahan lebih sedikit, kerusakan jaringan lebih ringan, kejadian infeksi bekas sayatan lebih kecil hingga diagnose yang lebih akurat.

Sedangkan kelemahan metode laparoskopi ginekologi lebih kepada biaya yang lebih mahal dibandingkan metode konvensional. Hal ini terutama terkait dengan peralatan yang digunakan lebih mahal.

Pemilihan metode operasi terpulang pada pasien atau keluarganya.  Namun jika dilihat dari jumlah penggunaan, akhir-akhir ini metode laparoskopi sudah makin banyak dipilih karena keuntungan-keuntungan tersebut. “Operasi metode laparoskopi bisa menjadi tren di mana untuk melakukan operasi masalah ginekologi tidak mesti melakukan sayatan yang lebih besar, lebih nyaman, lebih akurat dan lebih cepat masa penyembuhannya,” ujarnya.(*)

Sumber: Riau Pos, tanggal 13 Oktober 2017

Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Panam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *