Lingkungan Kerja Membentuk Kesehatan Jiwa

Bekerja di bawah tekanan hampir setiap hari tentu saja sudah menjadi makanan sehari hari seorang karyawan atau pegawai. Di balik itu, tempat kerja harus bertanggung jawab atas kesehatan jiwa para pekerjanya.

Tepat 10 Oktober ini WHO mengusung tema kesehatan jiwa di tempat kerja (Mental Health in the Workplace) yang bertujuan adanya konsensus baik di tingkat global, regional dan nasional untuk mendukung kesehatan jiwa di tempat kerja.

Sehingga memudahkan bagi pekerja yang memiliki masalah kesehatan jiwa mencari pertolongan serta untuk membangun lingkungan kerja yang baik bagi kesehatan jiwa pekerja, dimana hal ini sering terabaikan sebagai salah satu aspek – aspek penting kesehatan pekerja secara keseluruhan.

Psikiater Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr. Ratna Istiastuti, SpKJ, MKes mengatakan banyak faktor resiko kesehatan jiwa yang dapat terjadi di lingkungan tempat kerja. Mulai dari interaksi antar jenis pekerjaan, lingkungan organisasi dan manajemen, tugas yang tidak sesuai untuk kompetensi seseorang, jenjang karir pegawai yang tidak jelas, beban kerja yang tinggi dan jam kerja yang tidak fleksibel.

Risiko kesehatan jiwa dapat terkait dengan kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja yang tidak memadai, praktek komunikasi dan manajemen yang buruk, partisipasi terbatas dalam pengambilan keputusan. “Risiko ini dapat mengingkat dimana adanya tim yang tidak solid serta kurangnya dukungan sosial di lingkungan kerja tersebut,” kata dr. Ratna.

Penindasan, intimidasi, pelecehan atau bullying baik fisik atau psikologis sering dilaporkan sebagai penyebab stres terkait pekerjaan dan menimbulkan resiko terhadap pekerja. Risiko pekerjaan terkait dengan masalah fisik dan psikologis ini dapat menyebabkan tingginya biaya perusahaan atau tempat kerja karena tingginya klaim asuransi kesehatan.

Menurutnya produktivitas dan sering terjadi peningkatan pergantian staf. “Risiko pekerjaan ini juga dapat memiliki dampak negatif pada keluarga, seperti tingginya angka perceraian, kekerasan dalam rumah tangga serta interaksi sosial para pekerja tersebut,” kata dr. Ratna.

Untuk lingkungan kerja yang buruk, juga dapat menyebabkan masalah pada kesehatan fisik seperti hipertensi, diabetes, gangguan pola makan dan lainnya. “Kemudian pada kesehatan jiwa seperti kecemasan, depresi, gangguan panik, penggunaan zat atau alkohol yang berbahaya. Lalu, perilaku seperti agresif, mudah marah dan tersinggung,” katanya.

Lingkungan kerja yang tidak sehat ini akan berdampak pada ketidakhadiran, rendahnya motivasi dan kinerja, serta hilangnya produktivitas. “Tentu hal ini berdampak pada turunnya produktivitas kerja juga,” ucapnya. Depresi adalah salah satu penyebab terjadinya berbagai gangguan penyakit dan disabilitas akibat stres di tempat kerja. Pekerja yang mengalami depresi sering tidak mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik bahkan mungkin menjadi kurang produktif.

“depresi adalah penyakit yang bisa diobati, tapi biasanya akses untuk mendapatkan pengobatannya sering kali sulit. Adanya stigma negatif dapat menjadi salah satu faktor penyebab para pekerja malu untuk mencari layanan kesehatan jiwa,” jelasnya. Membangun tempat kerja yang sehat dibutuhkan regulasi, kebijakan dan strategi yang jelas. Tempat kerja yang sehat dapat digambarkan sebagai tempat dimana pekerja dan pemimpin secara berkontribusi terhadap lingkungan kerja dengan mempromosikan dan melindungi kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan semua karyawan. Pelayanan kesehatan di tempat kerja juga harus dapat menyediakan pelayanan konsultasi kesehatan jiwa yang mudah diakses para pekerja atau pegawai.

Ada tiga pendekatan yang perlu menjadi perhatian dalam membangun lingkungan kerja yang sehat. Pertama, melindungi kesehatan jiwa dangan mengurangi faktor resiko terkait pekerjaan . Kedua, mempromosikan kesehatan jiwa dengan mengembangkan aspek positif dan potensi karyawan. Ketiga, mengatasi masalah kesehatan jiwa tanpa melihat apa penyebabnya. “Beberapa intervensi dan upaya melindungi dan mempromosikan kesehatan jiwa di tempat kerja dapat dilakukan juga,” tambahnya.

Misalnya dengan melaksanakan kebijaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja, seperti deteksi dini adanya penyakit fisik dan gejala akibat stres di tempat kerja, penggunaan zat psikoaktif berbahaya serta menyediakan sumber daya untuk mengelolanya. Memberitahu staf bahwa dukungan tersebut tersedia di tempat kerja. Melibatkan pegawai dalam pengambilan keputusan.

Adanya program organisasi yang mendukung keseimbangan kehidupan kerja yang sehat. “Tersedianya program pengembangan karir pegawai dan karyawan. Mengenali dan menghargai sekecil apapun kontribusi pekerja,” jelasnya. Intervensi kesehatan jiwa harus menjadi bagian integrase dari strategi kesehatan dan kesejahteraan yang komperhensif mencakup upaya promotif, preventif, deteksi dini, dukungan dan rehabilitatif.

Kunci sukses mengatasi masalah kesehatan jiwa di tempat kerja, apabila ada keterlibatan pemangku kepentingan dan semua staf pada saat memberikan upaya dukungan dan intervensi serta monitoring terhadap efektifitas upaya yang diberikan.

Tempat kerja juga memiliki tanggung jawab untuk mendukung individu dengan masalah kesehatan jiwa maupun gangguan jiwa baik dalam melanjutkan atau kembali bekerja. Akses terhadap pelayanan kesehatan jiwa terbukti bermanfaat bagi pekerja yang mengalami depresi dan gangguan jiwa lainnya. Karena stigma yang terkait dengan gangguan jiwa, maka pemberi kerja perlu memastikan bahwa tersedia dukungan kesehatan jiwa agar pekerja dapat melanjutkan atau kembali bekerja serta hidup menjadi orang yang bahagia.

Imbauan kepada semua pemangku kepentingan agar dapat mempromosikan pentingnya kesehatan jiwa di tempat kerja yang dapat mendukung para pekerja mengurangi tidak ketidakhadiran dan meningkatkan produktivitas kerja.

PENYEBAB DAN CARA MENGATASI

Banyak faktor risiko kesehatan jiwa yang dapat terjadi di lingkungan tempat kerja :

  • Interaksi antar jenis pekerjaan
  • Lingkungan organisasi dan manajemen
  • Tugas yang tidak sesuai untuk kompetensi seseorang
  • Jenjang karir pegawai yang tidak jelas.
  • Beban kerja yang tinggi
  • Jam kerja yang tidak fleksibel

Lingkungan kerja yang buruk dapat menyebabkan masalah pada:

  • Kesehatan fisik seperti hipertensi, diabetes, gangguan pola makan dan lainnya
  • Kesehatan jiwa seperti kecemasan, depresi, gangguan panik, penggunaan zat atau alkohol yang berbahaya.
  • Perilaku seperti agresif, mudah marah dan tersinggung.

Ada tiga pendekatan yang perlu menjadi perhatian dalam membangun lingkungan kerja yang sehat:

  • Melindungi kesehatan jiwa dengan mengurangi faktor resiko terkait pekerjaan
  • Mempromosikan kesehatan jiwa dengan mengembangkan aspek positif dan potensi karyawan
  • Mengatasi masalah kesehatan jiwa tanpa melihat apa penyebabnya
SUMBER: BATAM POS | HEALTHY LIVING | MINGGU, 8 OKTOBER 2017 | HAL. 19

 

Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Batam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *