Epilepsi pada Anak

Bila anak mengalami hilangnya kesadaran, ekstremitas dan tubuh terlihat kaku sering terjadi saat tidur, terjatuh tanpa sebab, kedutan kelopak mata, alis dan mulut, tiba-tiba kepala terkulai, kehilangan daya genggam, mata berputar dan kepala bergerak ke belakang, batang tubuh melengkung, gerakan mengecap-ngecap, menelan, berjalan, terjatuh tiba-tiba, bengong tidak berespon ketika dipanggil/ditepuk, bayi tampak seperti kaget berulang kali, gerakan menyentak pada ekstremitas,tiba-tiba merasa mual/sakit ulu hati, halusinasi visual/auditori,rasa kesemutan, merasa pernah berada di suatu tempat(dejavu), segeralah bawa anak anda ke fasilitas kesehatan terdekat untuk diperiksa, apakah diagnosisnya epilepsi atau bukan. Menegakkan diagnosis epilepsi dengan benar dan lengkap sangat penting, oleh karena diagnosis epilepsi mempunyai dampak pengobatan jangka panjang dan berdampak psikososial anak dan keluarga.

Siapa saja bisa terkena epilepsi, puncak prevalens epilepsi adalah saat awal usia remaja hingga dewasa muda. Diantara anak-anak yang mengalami epilepsi,lebih kurang dua pertiganya akan mencapai keadaan bebas kejang dengan obat anti epilepsi(OAE), sisanya sekitar 35%, akan mengalami epilepsi intraktabel(epilepsi yang sulit disembuhkan). Waspadai jika bayi, anak mengalami dua atau lebih episode kejang tanpa provokasi(tanpa demam, gangguan elektrolit, metabolik, trauma atau kelainan intrakranial akut lainnya)dengan interval 24 jam atau lebih,karena bisa jadi itu sebagai pertanda epilepsi,”ujar dokter spesialis Anak Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru dr ismet SpA kepada Riau Pos,kamis (26/10/2017).

Epilepsi ini dapat disebabkan oleh kelainan genetik, neurokutan (neurofibromatosis, tuberosklerosis), palsi serebral, malformasi serebral, tumor otak, trauma kepala, infeksi otak dan kelainan metabolik bawaan. Elektroensefalografi(EEG) merupakan pemeriksaan penunjang standar yang harus dilakukan pada setiap kejadian bangkitan kejang epilepsi. Peran EEG pada epilepsi adalah untuk membantu menentukan tipe kejang, sindrom epilepsi, apakah terapi obat anti epilepsi dapat dihentikan, pemantauan keberhasilan terapi dan menunjukkan lokalisasi fokus kejang serta penyebarannya.

Pencitraan dengan Magnetic resonance imaging(MRI)dilakukan untuk menentukan penyebab, memperkirakan prognosis dan merencanakan tata laksana klinis yang sesuai.Indikasi MRI pada anak dengan eplepsi adalah anak dengan epilepsi fokal, usia kurang dari 2 tahun, epilepsi intraktabel, status epileptikus dan adanya kelainan neurologis. Kendati jarang menyebabkan kematian secara langsung, epilepsi berhubungan dengan berbagai komplikasi yang mengancam perkembangan otak, kualitas hidup, maupun nyawa anak. Segera kunjungi fasilitas kesehatan (dokter)bila bayi, anak mengalami kejang.

Dijelaskan dr ismet, epilepsi merupakan salah satu penyakit kronik yang memerlukan pengobatan dalam waktu yang lama (epilepsi umum 2 tahun bebas kejang, epilepsi fokal 3 tahun bebas kejang). Keberhasilan pengobatan epilepsi sangat tergantung patuhnya makan obat anti epilepsi(OAE), pemilihan OAE yang tepat, khususnya pada anak-anak  untuk menghindari risiko gangguan tumbuh kembang. Epilepsi berdasarkan etiologi, dibagi menjadi epilepsi idiopatik (tanpa kelainan struktur otak, tanpa defisit neurologi, faktor genetik diduga berperan), epilepsi simptomatik (ada kelainan anatomi, defisit neurologi), epilepsi kriptogenik (diasumsikan simptomatik tetapi etiologi masih belum diketahui).

Berbagai masalah dapat ditemukan pada penderita epilepsi,seperti mengontrol kejang,gangguan psikososial,gangguan perilaku dan kecerdasan meskipun tidak mengalami bangkitan kejang kembali, gangguan sosial yang buruk (kegagalan dalam sekolah, kegagalan dalam menikah dan tidak bekerja),”jelas dr ismet. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, ada baiknya dampingi anak ketika dia sedang menjalani aktifitas yang bisa membahayakan dirinya. Berikut ini petunjuk keamanan pada situasi tertentu. Mandi dengan shower, jangan berendam, drainase kamar mandi jangan ada genangan air.

Pengatur suhu dan aliran shower diatur sehingga tidak terjadi trauma panas, pintu kamar mandi jangan dikunci dan ada orang lain di rumah yang bisa mengawasi. Jauhkan dan amankan benda-benda yang berpotensi menimbulkan luka bakar dari jangkauan anak (setrika, dispenser air panas, generator). Tidak dianjurkan berenang, bersepeda di jalan raya. Tempat bermain sebaiknya beralaskan karet atau karpet. Beberapa pencetus kejang telah diketahui antara lain,tidur larut malam/pola tidur tidak normal, demam, konsumsi alkohol, video game dan kelelahan fisik,”ujar dr ismet sambil menutup pembicaraannya.*.

Sumber : Riau Pos, 26 Oktober 2017

Categories: Artikel and RS Awal Bros Pekanbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *