Melawan Lumpuh dengan Alat Artifisial

Kemajuan teknologi saat ini tidak hanya berdampak baik bagi dunia Teknik tapi juga dunia medis. Seperti halnya Ortotik Prostetik Rumah Sakit Awal Bros Batam yang memiliki fasilitas lengkap untuk membantu pasien melawan kelumpuhan.

Tangannya cukup gesit menggulung kaki yang layu itu. Menggunakan plastik bening, ia membungkus dan memutari kaki kiri seorang bocah. Bocah tersebut adalah pasien Congenital Talipes Equino Varus (CTEV). CTEV adalah kelainan bawaan yang terdapat pada kaki bayi, artinya kelainan tersebut memang telah ada sejak bayi dilahirkan.

Pria tersebut kemudian beranjak, mengambil perlengkapan gips bersama dengan wadah berisi air. Gulungan gips bisa digunakan untuk fiksasi anggota tubuh, seperti pada pasien patah tulang. Tapi kali ini digunakan untuk mencetak alat bantu (ortosis) yang diaplikasikan sebagai alat artifisial atau alat tambahan ke anggota gerak tubuh.

Gulungan gips tersebut selanjutnya diberikan air sembari menggulungnya pada kaki anak berusia 5 tahun tersebut. Gips ini akan mengeras namun masih memungkinkan untuk dilepas kembali. Selesai memasangnya, dalam hitungan menit gips yang menutupi kaki hingga di bawah lutut tersebut dilepaskan menggunakan bantuan gunting khusus. Sang bocah seperti tak terganggu ketika gips terlepas.

Gips kemudian disatukan kembali sebagai alat cetak ortosis. Pria tersebut menyarankan untuk kembali datang setelah dua minggu untuk menerima ortosis sesuai ukuran kakinya. Pria tadi adalah Yoga Sambodo, ia merupakan Ortotis Prostetis Rumah Sakit Awal Bros Batam. Tenaga ahli professional yang menangani pasien deformitas. Deformitas adalah kondisi tubuh manusia yang membutuhkan alat bantu (ortosis) dan alat ganti (protesis).

Mungkin belum banyak yang mengenal dan masih asing dengan istilah ortotik dan prostetik. Ortotik dan prostetik. Ortotik dan prostetik adalah bidang studi medis dan semi teknik terkait pelayanan, pembuatan, pengukuran dan pengepasan alat bantu dan alat ganti anggota tubuh manusia yang mengalami deformitas.

Deformitas disebabkan oleh beberapa hal, seperti conginental (bawaan sejak lahir), insidential dan penyakit. “Kasus seperti CTEV tadi biasanya disebabkan terdapat gangguan pada tumbuh kembang bayi. Terutama pada masa kandungan. Bisa juga karena gangguan sistem syaraf dan faktor lainnya,” kata Yoga di ruangan Fisioterapi RS Awal Bros Batam.

Insidential adalah pasien rehabilitasi yang disebabkan karena kecelakaan. Baik itu kecelakaan kerja, kecelakaan lalu lintas ataupun saat berolahraga. Kemudian paling banyak adalah yang disebabkan oleh penyakit. Contohnya pasien diabetes yang terpaksa diamputasi. “Pasien seperti ini membutuhkan perawatan dan pengobatan yang tepat. Sebelum menerima alat ganti, mereka diharuskan menjalani rehabilitasi medik dan fisioterapi terlebih dahulu,” ujarnya. Biasanya butuh waktu rata-rata tiga bulan bagi pasien diabetes yang mengalami deformitas. Ini untuk memastikan tubuhnya sudah siap menerima alat ganti. “Melihat anjuran dari dokter orthopedik terlebih dahulu, kemudian masuk tahapan fisioterapi. Jika dalam proses ini sudah bisa menerima alat ganti (prostesis),” jelasnya.

Dalam fungsi, ortosis dan prosthesis dapat mengganti anggota tubuh yang hilang, fixation (fiksasi kecacatan), correction (koreksi kecacatan), relief (pemindahan tumpuan) dan prevent deformity (mencegah kecacatan yang lebih lanjut). Jenis alatnya pun berbeda – beda. Untuk ortosis di antaranya Munster Scoliosis Orthosis (AFO), Orthopeadic Shoes and Dennis Brown, Thoracolumbosacral Spinal Orthosis (TLSO) and Lumbosacral Orthosis (LSO), Wrist Splint dan Knee Brace.

Yoga menjelaskan, MSO sendiri adalah alat untuk fiksasi susunan ruas tulang belakang (Scoliosis). Kelainan tumbuh kembang ini biasanya terjadi pada perempuan muda. Kemudian AFO adalah jenis ortosis yang berfungsi membantu pasien drop foot pasca stroke dan penyakit lainnya.

Seperti kasus pasien CTEV kata Yoga, bisa memilih menggunakan Orthopedic Shoes atau Dennis Brown. “Dennis Brown serupa sepatu, namun biasanya ada sol yang menghubungkan sepasang sepatu tersebut. Sementara itu, orthopedic shoes merupakan sepatu tanpa sol penghubung. Sama seperti sepatu biasa, arahnya lebih ke kosmetik. Biasanya untuk pasien yang tidak ingin terlihat deformitas,” jelasnya.

Lanjut TLSO and LSO biasanya digunakan untuk menyangga tulang belakang mulai dari bagian bawah leher sampai tulang ekor. Sementara LSO untuk menyangga tulang belakang hanya bagian bawah pinggang saja.

Wrist splint untuk fiksasi dan menyangga pada bagian pergelangan tangan, biasanya untuk pasien stroke dan lumpuh di tangan. Knee brace seperti deker untuk pemain bola. Gunanya untuk mengatasi nyeri, cedera saat olahraga,” ungkapnya.

Lanjut alat prosthesis diantaranya adalah transhumeral prosthesis untuk bagian atas siku. Transradial prosthesis untuk bawah siku. Transfemoral prosthesis untuk atas lutut. Transtibial prosthesis untuk bawah lutut. Knee disarticulation prosthesis tepat lutut. Pasien yang hendak menerima alat ortosis dan prostetis biasanya akan melalui tahapan casting dan latihan berjalan dulu, jika kasusnya adalah deformitas pada bagian kaki.

“Setelah dua minggu menerima alat, satu bulan kemudian dilakukan monitoring. Kemudian selang enam bulan dilakukan perbaikan atau pelayanan lainnya,” ujar Yoga. Untuk pemakaian alat ortosis prosthesis sendiri tidak ada efek samping. Namun bagi pasien tertentu yang alergi, diharuskan terus memantau dan menjaga kebersihannya. Selain itu harus mematuhi Batasan maksimal penggunaan alatnya juga. “Misalnya untuk Dennis Brown maksimal 23 Jam, dan kaki palsu biasanya hanya 8 jam saja,” ucapnya.

Yoga mengatakan, jika melebihi batas waktunya, akan berdampak pada fisik pasien. Bisa terjadi luka atau justru memperparah kondisi deformitas. Berkat kemajuan teknologi, RS Awal Bros Batam pun melengkapi peralatan ortosis prostetisnya, buatan Jerman. “Ada juga alat dengan hidrlic angle system bagi pasien yang memiliki aktivitas tinggi. Knee system yang bisa menyesuaikan gerakan kaki kita dan teknologi Jerman lainnya,” kata Yoga.

FUNGSI ORTOSIS & PROSTESIS

  • Mengganti anggota tubuh yang hilang
  • Fixation (Fiksasi kecacatan)
  • Correction (Koreksi kecacatan)
  • Relief (Pemindahan tumpuan)
  • Prevent deformity (Mencegah kecacatan lebih lanjut)
SUMBER : BATAM POS | HEALTHY LIVING | HAL. 19 | MINGGU, 12 NOVEMBER 2017
Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Batam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *