Mengenal Tantrum pada Anak dan Tips Menghadapinya

(RIAUPOS.CO) – Berbicara tentang anak, ada banyak hal yang terkait di dalamnya. Dalam memberikan perhatian, tidak hanya pada tumbuh kembang secara fisik ataupun psikis. Para orangtua perlu juga untuk memperhatikan perilaku-perilaku yang ditampilkan anak.

Salah satunya adalah perilaku tantrum. Tantrum merupakan perilaku destrukrif dalam bentuk ledakan emosi (kemarahan). Emosi itu bisa berupa fisik maupun verbal. Dikatakan secara fisik jika si anak meluapkan emosi itu dalam bentuk gerakan tubuh seperti memukul, menendang, menggingit, mencubit, membuang apa yang dipegang hingga menjatuhkan tubuh ke lantai. Sedangkan verbal dengan cara menangis keras-keras, berteriak, marah-marah dan sebagainya.

Terapis Perilaku Klinik Tumbuh Kembang Anak Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru, Jalan Sudirman, Hajli Mirdani S.Psi menyebutkan, di klinik tersebut, tantrum merukana salah satu perilaku yang bisa ditangani. Dikatakannya, tantrum biasanya terjadi pada usia anak 15 bulan sampai 5 tahun. Tetapi usia di atas 5 tahun pun tantrum masih bisa terlihat pada anak.

“Tantrum termasuk gangguan perilaku tetapi masih kategori normal. Bagi anak yang mengalami tantrum, diperlukan Penanganan dari orangtua untuk meredakan atau menghentikan ledakan kemarahan itu. Sebab, tidak jarang perilaku anak akan merugikan misalnya melemparkan barang pecah belah yang dipegangnya akan berakibat pecah dan bisa melukai diri sendiri atau orang lain. Atau peralatan yang rentan rusak jika dilemparkan. Demikian pula halnya jika ledakan itu diwujudkan dalam bentuk verbal seperti teriak atau menangis keras-keras tentu bisa mengganggu pendengaran bagi orang lain,” kata Hajli.

Lebih jauh dia menjelaskan, menjadi hal yang lazim di kalangan orangtua untuk lebih memberikan apa yang menjadi keinginan anak. Namun hal itu tidaklah selalu tepat. “Misalnya supaya anak tidak menangis keras-keras ketika dia meminta sesuatu, orangtua selalu mengiyakan permintaan itu. Padahal tidak semua permintaannya harus dipenuhi. Karena itu diperlukan penanganan dari orangtua misalnya dengan cara memberikan pemahaman jika si anak sudah mulai bisa mengerti diajak berkomunikasi,” ujarnya.

Tantrum bisa terdiri dari tantrum frustasi dan tantrum manipulatif. Tantrum frustasi terjadi ketika si anak tidak mampu menyelesaikan tugasnya, Akibatnya dia meluapkan emosinya dengan fisik maupun verbal kemudian tantrum manifulatif ini terjadi si anak sengaja mencari perhatian orangtuanya sehingga memunculkan perilaku yang dibuat-buat.  Ketika mengalami tantrum ini, anak-anak cenderung melampiaskan segala bentuk kemarahannya.

Tantrum bisa terjadi karena beberapa penyebab. Hubungan kedua orangtua yang kurang harmonis menjadi salah satu penyebabnya. Karena itu janganlah bersikap tidak harmonis di depan anak. Anak yang kurang tidur dan lelah juga bisa mengakibatkan dia berperilaku tantrum. Selain itu, disiplin yang tidak konsisten, mengkritik terlalu banyak, orang tua yang terlalu protektif atau lalai. Ada pula karena anak-anak yang tidak memiliki cukup cinta dan perhatian dari orang tua mereka, gangguan bermain, baik untuk masalah emosional orang tua, bertemu dengan orang asing, persaingan dengan saudaranya, memiliki masalah dengan bicara dan penyakit atau sakit. Penyebab umum lainnya termasuk karena rasa lapar atau lelah.

Orangtua yang temperamental bisa berpotensi menurunkan perilaku tantrum pada anak. Karena itu pengendalian emosi bagi orangtua diperlukan agar tidak membuat anak berperilaku tantrum di masa kecilnya.

Untuk anak yang sudah bisa bicara, biasanya orangtua masih lebih mengerti apa yang diinginkan anak. Namun, bagi yang di bawah 3 tahun diperlukan ketelatenan untuk memahami kehendak anak. Lalu apakah tantrum bisa juga terjadi pada anak di bawah dua tahun? “Kalau orangtua cermat mengamati tumbuh kembang anak, sebenarnya sejak usia setahun pun tantrum bisa dialami oleh anak,” katanya.

Cara menghadapi anak yang sedang tantrum, kata Hajli pada dasarnya memiliki teknik atau metode. Contohnya dalam hal mengintervensi anak. Ketika hendak dibawa jalan-jalan ke mal, misalnya, orangtua atau keluarga lainnya memprediksi si anak akan banyak permintaan apalagi ketika melihat sesuatu yang diinginkannya.

“Sebelum berangkat dari rumah kesepakatan bisa kita lakukan misalnya memberi pesan kepada si anak bahwa kepergian ke mal adalah untuk ini, ini dan ini. Nanti kalau sampai di sana jangan yang begini, begini dan begini ya. Nah jika ternyata hal itu terjadi di mal si anak bisa diingatkan kembali terhadap komitmen awal waktu masih di rumah,” katanya memberikan contoh.

Pada saat si anak menunjukkan reaksi tantrumnya, anak perlu ditangani dengan cara memeluknya dari belakang. Cara-cara memeluknya pun sebenarnya ada metodenya. “Metode-metode ini biasanya kami sampaikan kepada orangtua yang datang untuk konsultasi. Banyak juga yang kita terapi itu bukan anak, justru orangtua yang diberikan edukasi dan penjelasan bagaima cara mengadapi anak yang tantrum. semisal tidak boleh terlalu mengalah pada anak dalam kondisi yang memang tidak boleh mengiyakan apa keinginannya,” sebutnya.

Ada juga hal yang dapat mengganggu kelancaran jalannya penanganan ataupun terapi, misalnya perbedaan pendapat antara orangtua dengan nenek dari si anak tersebut “Saya pernah mendapatkan pasien yang si anak juga mendapat perhatian dari neneknya. Ketika orangtua melarang anaknya, sang nenek pula yang memarahi si orangtua. Nah, ketika sang nenek diajak ikut dalam sesi edukasi kita berikan pemahaman-pemahaman bagaimana cara menangani anak ketika sedang mengalami tantrum. Atas upaya yang tepat dari semua pihak, maka prilaku tantrum bisa dihadapi dengan baik,” katannya.

Dalam hal menghadapi anak yang sedang tantrum, hal lain yang juga perlu diperhatikan antara lain pertama, cari tahu penyebabnya. Kalau sudah tahu maka akan lebih mudah menentukan sikap dalam menghadapinya. Kedua, jangan ikut terbawa emosi. Misalnya memukul, mencubit atau memarahi anak.  Jangan memberikan hukuman yang berat pada anak . Karena bukan solusi dan anak tidak mendapatkan pembelajaran bagaimana mengatasi kemarahan mereka, tetapi sebaliknya beranggapan orangtuanya jahat atau tidak sayang padanya.

Ketiga, jangan turuti semua hal yang diinginkan anak pada saat itu. Ketika orangtua tidak ambil peduli dengan kemarahan anak akibat ingin mencapai tujuannya, merupakan cara untuk mengajarinya bahwa kemarahan yang dibuat itu tidak serta merta bisa membuahkan apa yang diinginkannya. Orangtua perlu bersikap tegas yang konsisten agar si anak bisa lebih disiplin.

Keempat, pakai pola seakan-akan kita tidak memberikan reaksi meskipun tetap memberikan perhatian. Cari cara sensasi yang kemudian bisa mengalihkan perhatiannya. Menerapkan kedisiplinan yang ringan dalam hal mengontrol dirinya bisa dilakukan melalui dialog atau diskusi yang membuat anak bisa merubah keinginan kerasnya.(fas)

(Sumber : http://www.riaupos.co/167427-berita-mengenal-tantrum-pada-anak-dan-tips-menghadapinya.html)

Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Pekanbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *