Waspada Batuk dan Mendengkur

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Sebagai bentuk kepedulian Rumah Sakit Awal Bros terhadap penyakit paru yang diperingati secara nasional pada November. 

Rumah Sakit Jaringan Nasional ini menggelar seminar awam kepada masyarakat mengenai “Waspada Batuk dan Mendengkur” di Awaloedin Funcution Hall RS Awal Bros Pekanbaru, akhir pekan lalu.

Tema tersebut diangkat karena orang berpendapat tidur mendengkur sebanding dengan kesejahteraan. Semakin kuat dengkuran semakin tinggi pula tingkat kemakmuran.

Namun dalam kesehatan tidur mendengkur itu tidaklah sehat. Selain mengganggu pasangan tidur, tidur mendengkur juga berisiko terjadinya penyakit jantung pembuluh darah.

“Tidur mendengkur adalah suatu kondisi di mana terjadi sumbatan saluran nafas waku tidur. Pada orang tertentu ada fase henti nafas selama tidur. Istilah ini disebut dengan OSA (Obstructive Sleep Apnea),” ujar Dokter Spesialis THT Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru dr Hidayatul Fitria SpTHT disela-sela acara seminar awam.

Ia juga menguraikan, biasanya penderita tidak menarik nafas beberapa saat, kira-kira 10 detik atau lebih, kemudian tiba-tiba sesak karena kehausan udara. “Penderita gelisah waktu tidurnya dan kemudian tidur kembali. Siklus ini berulang-ulang selama masa tidur,” ujarnya.

Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya OSA secara umum adalah obesitas, ukuran lingkar leher, umur, jenis kelamin, hormon dan kelainan anatomi saluran napas. Obesitas dilaporkan penyebab terbanyak mencetuskan terjadinya OSA.

Risiko ini terjadi pada orang dengan indek massa tubuh satu tingkat diatasa normal atau lebih. Indeks massa tubuh normal itu sekitar 20-25 Kg per m². Lingkar leher berlebih juga dapat meningkatkan risiko OSA. Ukuran lingkar leher lebih dari 42,5 Cm membuat tidur cenderung mendengkur.

Dalam kehidupan sehari-hari tidur mendengkur lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibanding wanita. Wanita menopouse lebih banyak mengalami OSA dibanding yang belum. Bagaimana dengan faktor keturunan? Keluarga dengan riwayat OSA maka anak-anak atau keturunannya juga mempunya risiko untuk menderita hal yang sama. Ini artinya bila orangtua tidur mendengkur ada kemungkinan si anak juga akan seperti itu.

Kelainan pada hidung dan tenggorok berperan besar juga dalam terjadinya OSA.  Di antaranya rinitis. Pada rinitis terutama alergi struktur dalam hidung cendrung bengkak dan membesar, terutama struktur konka.

Konka merupakan struktur dalam hidung yang apabila dilihat tampak seperti tonjolan daging. Konka ini berfungsi dalam mengatur siklus barnafas kita dalam hidung yang disebut siklus nasi.

“Apabila konka ini besar maka, akan membuat hidung tersumbat, bernafas menjadi susah. Pada ukuran yang sudah sangat menganggu biasanya akan dikecilkan dengan operasi,” tuturnya.

Selain itu, septum deviasi dapat pula menyebabkan tidur mendengkur. Septum adalah sekat yang membatasi rongga hidung kanan dan kiri. Secara normal septum ini lurus, tapi pada orang tertentu dia bengkok. Pada umumnya terjadi karena tulang septum tersebut berlebih dibanding normal, sehingga terlihat bengkok. Akibat bengkok tersebut udara melalui hidung tidak lancar.

Selama ini sering mengenal amandel akibat peradangan saja. Amandel juga berperan penting dalam terjadinya OSA. Amandel yang besar akan menutup jalan nafas terutama ketika tidur. Oleh karena itu orang yang mempunyai amandel besar cendrung bernafas dengan mulut selama tidur.

Pada anak-anak biasanya disertai pembesaran amandel belakang hidung. Sehingga kondisi sumbatan nafasnya makin berat. Anak akan beringus sepanjang hari. Keadaan akan makin sukar.

Kelemahan otot di tenggorok juga berperan untuk terjadinya OSA. Begitu juga lidah yang besar dan langit-langit letak rendah. Adanya pembesaran amandel dasar lidah juga akan menyulitkan aliran nafas berjalan lancar.

Pemeriksaan baku emas untuk OSA ini adalah polisomnografi (PSG)  yang biasanya tersedia di sleep clinic (laboratorium tidur). PSG merupakan uji diagnostik untuk mengevaluasi gangguan tidur yang dilakukan pada malam hari di laboratorium tidur, digunakan untuk membantu pemilihan terapi dan evaluasi hasil terapi.

Ada tiga sinyal utama yang dimonitor yaitu pertama, sinyal untuk mengonfirmasi keadaan stadium tidur seperti elektroensefalogram (EEG), elektrookulogram (EOG) dan submental elektromiogram (EMG).

Sinyal kedua adalah sinyal yang berhubungan dengan irama jantung, yaitu elektrokardiogram (ECG) dan sinyal ketiga yang berhubungan dengan respirasi seperti airflow (nasal thermistor technique), oksimetri, mendengkur, kapnografi, EMG interkostal, balon manometri esofageal, thoraco-abdominal effort, nasal pressure transducer, pneumotachography face mask dan kadar PCO2.(tya)

 

(Sumber : http://m.riaupos.co/berita.php?act=full&id=167544&page=3)

Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Pekanbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *