Kenali Gejala Difteri dan Penanganannya

Laporan HENNY ELYATI, Pekanbaru

Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae yang umumnya menyerang selaput lendir pada tenggorokan dan hidung, serta terkadang dapat menyerang kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Penyakit difteri merupakan penyakit yang sangat mudah menular dan bisa menyebabkan komplikasi kematian. Jika ditangani dengan cepat, penyakit ini bisa disembuhkan. Kuman difteri menyebar melalui percikan ludah, misalnya saat batuk atau bersin, sehingga amat mudah menular.

‘’Penyakit difteri bisa menyerang siapa saja, anak-anak maupun orang dewasa. Dan penyebarannya pun melalui percikan ludah saat penderita batuk atau bersin,’’ ujar Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Awal Bros Panam dr. Luciana Intanti Putrijaya, MSc, SpA kepada Riau Pos, Rabu (20/12).

Difteri mematikan karena bakteri penyebabnya akan menghasilkan toksin dan membentuk selaput putih tebal di tenggorokan atau amandel. Selaput putih itu dalam beberapa hari akan menutup saluran napas sehingga pasien sesak. Jika terus turun ke saluran napas bawah, pasien makin susah bernapas sehingga harus dilubangi lehernya untuk memberi jalan napas. Toksin difteri juga dapat terus menyebar ke jantung dan saraf melalui aliran darah, sehingga menimbulkan kematian.

Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan imunisasi terhadap difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan)  dan tetanus ini disebut dengan imunisasi DPT. Sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan mendapat 3 kali imunisasi DPT dan dilanjutkan imunisasi ulangan (booster).

‘’Pemberian vaksin ini dilakukan pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun dan lima tahun atau SD kelas 1, kelas 2 dan kelas 5. Selanjutnya dapat diberikan imunisasi ulangan dengan vaksin sejenis (Tdap/Td) setiap 10 tahun untuk memberikan perlindungan yang optimal,’’ jelas dr Luciana.

Apabila imunisasi DPT terlambat diberikan atau belum lengkap, masih dapat diberikan imunisasi kejaran dengan jadwal sesuai anjuran dokter anak Anda. Namun bagi mereka yang sudah berusia 7 tahun dan belum lengkap melakukan vaksin DTP, terdapat vaksin sejenis yang bernama Tdap/Td untuk diberikan.

Dijelaskan dr Luciana, difteri memiliki masa inkubasi dua hari hingga lima hari dan akan menular selama dua minggu hingga empat minggu. Namun, gejala awal tertular difteri bisa tidak spesifik, demam tidak tinggi, nafsu makan menurun, lesu, nyeri menelan dan nyeri tenggorokan. Sekret hidung kuning kehijauan dan bisa disertai darah. Kendati demikian, difteri memiliki tanda khas berupa selaput putih keabu-abuan di tenggorokan atau hidung yang dilanjutkan dengan pembengkakan leher atau disebut dengan “bull neck“.

Cara penularan difteri yang perlu diwaspadai, seperti: terhirup percikan ludah penderita saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum. Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk, sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

Bakteri difteri akan menghasilkan racun yang akan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan, sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel-sel yang mati inilah yang akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Di samping itu, racun yang dihasilkan juga berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung serta sistem saraf.

‘’Terkadang, difteri bisa jadi tidak menunjukkan gejala apapun sehingga penderitanya tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi. Apabila tidak menjalani pengobatan dengan tepat, mereka berpotensi menularkan penyakit ini kepada orang di sekitarnya, terutama mereka yang belum mendapatkan imunisasi,’’ paparnya.

Seperti apa gejala-gejala difteri? Dr Luciana mengambarkan, terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel, demam, sakit tenggorokan disertai suara mengorok, sulit bernapas, pembengkakan kelenjar limfe pada leher, sekret hidung kuning/hijau dan terkadang bercampur darah.

‘’Segera periksakan diri ke dokter jika Anda atau anak Anda menunjukkan gejala-gejala tersebut. Penyakit ini harus diobati secepatnya untuk mencegah komplikasi,’’ tegasnya.

Bagaimana cara mengatasi penyakit difteri? Dr Luciana menjelaskan ada beberapa cara yang bisa dilakukan yakni pemberian antibiotik: Antibiotik ini diberikan dengan tujuan membunuh bakteri yang menyebabkan difteri serta membantu menyembuhkan infeksi yang terjadi disaluran pernapasan. Setelah penderita minum antibiotik selama 2 hari penderita mungkin sudah tidak lagi menularkan bakteri penyebab difteri, tetapi antibiotik tetap harus dilanjutkan selama 2 minggu untuk menghilangkan bakteri difteri secara total dari tenggorokannya.

Pemberian antitoksin: Antitoksin diberikan dengan tujuan agar racun/ toksin difteri tidak menyebar dalam tubuh penderita. Antitoksin diberikan pada penderita oleh dokter dengan hati-hati yaitu di cek terlebih dahulu apakah pasien alergi atau tidak terhadap obat antitoksin ini. Jika ternyata mengalami alergi maka dokter akan memberikan antitoksin dengan dosis yang sangat rendah terlebih dahulu. Kemudian setelah melihat reaksi perkembangan pasien, dokter akan memberikan antitoksin yang dosisnya lebih tinggi.

Selain penderita, orang-orang di sekitarnya juga disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter karena penyakit ini sangat mudah menular. Misalnya, keluarga yang tinggal serumah atau petugas medis yang menangani pasien difteri. Keluarga atau orang yang berada di sekitar orang yang terjangkit difteri juga harus hati-hati dan waspada karena penyakit ini sangat mudah menular. Jangan gunakan alat makan atau minum bersamaan dengan orang yang menderita difteri. Orang di sekitarnya yang belum terjangkit difteri juga perlu diberikan antibiotik untuk memutuskan rantai penularan. *

Sumber: Riau Pos, Tanggal 22 Desember 2017, Halaman 8

Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Panam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *