Patah Tulang ke Dokter atau Tukang Urut

Laporan KAMARUDDIN, Pekanbaru

Patah tulang yang disebut juga fraktur merupakan cedera yang meliputi tulang itu sendiri maupun jaringan di sekitarnya seperti otot, pembuluh darah dan saraf. Dari patah tulang tersebut ada dua jenis fraktur yaitu fraktur tertutup dan fraktur terbuka.

Dokter Spesialis Bedah Orthopedi Rumah Sakit Awal Bros Panam dr. Rangga Ardianto Prasetyo. SpOT, menjelaskan apa-apa saja mengenai patah tulang.  Fraktur terbuka ialah tulang yang keluar dari kulit dan tampak dari luar tulangnya. Biasanya kalau tulang sampai keluar itu, cideranya dengan tingkat hantaman yang tinggi sehingga sampai tulangnya keluar dari garutnya sehingga mematahkan tulang-tulang sehingga akhirnya merobek otot dan kulit sehingga keluar. Biasanya kalau seperti itu infeksinya lebih tinggi dari fraktur tertutup.

‘’Biasanya operasi, dibersihkan luka-lukanya. Misalnya naik sepeda motor lalu masuk parit dan terkena air parit yang kotor, bisa juga terkena oli. Ini bisa meningkatkan infeksi. Kalau dibawa ke tukang urut biasanya hanya diolesi obat atau daun-daunan dan bisa meningkatkan resiko infeksi juga,’’ jelas dr Rangga.

‘’Umumnya pasien dan keluarga kurang informasi untuk penanganan fraktur, oleh karenanya lebih memilih terapi tradisional. Risikonya kalau seperti itu bisa infeksi dan kalau sudah infeksi bisa kena satu tulang atau jaringan di sekitar jadi jelek. Risikonya mau tidak mau bisa sampai diamputasi,’’ jelas dokter spesialis Ortopedi ini.

Kalau fraktur tertutup biasanya tulang tidak sampai keluar, jadi masih tertutup jaringan di sekitarnya. Kalau masih tertutup otot biasanya yang paling sering itu bengkak dan bila diraba keras seperti tulang.

‘’Kalau bengkak itu harus dilihat dulu melalui rontgen. Ketika dilihat rontgennya tampak patahan tulangnya, biasanya kalau tulang patah pasti mengeluarkan darah dan menyebankan peradangan. Karena darah yang keluar dari patahan tulang tersebut akan terus mengisi rongga-rongga dalam bagian yang terkena. Dan itu seperti balon yang diisi cairan terus menerus, kalau ruangnya sempit akan menekan terus dan dapat menekan organ lainnya.  Tangan ataupun kaki kita isinya tidak hanya tulang tetapi ada pembuluh darah, saraf dan otot. Karena tertekan terus sehingga aliran darah untuk bagian lainnya terhenti dan dapat menyebabkan kematian jaringan karena tertekan dari banyaknya darah yang ada.

Jika sampai saraf terkena akan kehilangan fungsinya baik sensorik maupun mototrik. Kalau sudah seperti itu, sampai kaki itu bengkak sekali, nyeri hebat. Jika digerakkan sedikit sudah nyeri sekali, bisa jadi itu sindrom kompartemen. Jika sudah seperti itu risikonya bisa sampai diamputasi, semua jaringan ada di sekitarnya dibuka agar tekanannya lepas dan jika dibiarkan ototnya bisa mati juga. Jangan biarkan bengkak berlama-lama sampai satu rongga atau satu ekatrimitas itu terkena, bisa-bisa sampai di amputasi nanti.

Sering kejadian seperti itu. Umumnya karena dipijit bisa sembuh tanpa harus operasi. Kalau orang awam mendengar operasi saja sudah takut. Mereka lebih banyak menghindar dan dicoba untuk urut dulu. Walaupun tidak diurut pada dasarnya tulang bisa menyambung sendiri tergantung dari posisi tulangnya, kalau posisi tulangnya dalam batas wajar tidak diapakan-apakan pasti menyambung sendiri.

‘’Kalau tulang masih bagusnya biasanya dipasang gibs saja tanpa harus operasi tujuannya untuk menjaga stabilitas dari tulang itu sendiri. Kalau sudah dipasang gibs, insya Allah nyambung dengan posisi normal lagi,’’ jelasnya.

Kalau tulangnya lari, pecah, amburadul sarannya yang terbaik tetap operasi. Kalau dipijit yang tadinya tulangnya dalam posisi normal dan kita tekan-tekan bisa lari. Mau tidak mau jadinya di operasi.

‘’Kalau patah tulang yang tidak perlu operasi itu tulang yang hanya retak saja. Kalau tulangnya infeksi kemungkinan untuk operasinya menjadi sulit dan harus berulang-ulang. Umumnya diberi antibiotik sampai infeksinya reda. Kalau tidak memungkinkan biasanya kita amputasi. Karena tulang yang sudah terinfeksi berat itu tidak bisa berfungsi secara normal lagi. Memang kakinya masih ada, jadi dipertahankan tidak berguna juga. Jadi menyusahkan pasiennya juga. Sebaiknya kalau ada luka kontrol ke dokter agar mendapat saran dari dokter dan pasien mengerti apa yang terjadi. Tinggal kita serahkan pendapat kita ke pasien.

Masa pemulihan patah tulang ada tiga fase, pertama fase peradangan, ketika kejadian langsung meradang biasanya berlangsung 10 sampai 14 hari.  Kedua fase perbaikan tulang, pembentukan tulang baru dari fase peradangan sampai fase perbaikan tulang sekitar enam bulan dan fase remodeling, fase ini dimana tulang sudah mulai mengeras seperti tulang normal tapi belum seratus persen seperti tulang normal, masa pemulihannya lebih dari setahun.

Tetapi ada faktor-faktor yang memperlambat penyembuhan patah tulang ini. Faktor yang memperlambatnya penyembuhan patah tulang seperti merokok. Merokok dapat menghambat proses pembentukan tulang. ‘’Jadi kalau pasien-pasien patah tulang berhenti terlebih dahulu merokoknya sampai tulangnya benar-benar mengeras,’’ jelasnya dokter Rangga.

Minuman beralkohol juga menghambat pembentukan itu sendiri, juga jamu-jamu sachet yang isi corticosteroid. Corticosteroid itu efek sampingnya dalam jangka panjang yaitu osteoparosis (pengapuran tulang). Proses pengapuran lebih cepat daripada pembentukan tulang. Jadi kalau patah tulang lebih baik dihindari untuk mengomsumsi hal-hal tersebut.

Juga penyembuhan tulang tergantung dari umur, kalau anak-anak karena masih masa pertumbuhan, proses penyembuhan tulang itu lebih cepat. Kalau usia dewasa rata-rata berimbang, Kalau usia tua proses penyembuhan tulang lebih rendah dari orang dewasa. Usia tua tulang kereposnya lebih cepat daripada pembentukan tulang. Untuk orang tua disarankan konsumsi kalsium, minuman susu buat meningkatkan asupan kalsiumnya agar bisa mengimbangi proses pengapuran tersebut.

‘’Semua makanan yang mengandung kalsium seperti susu dan sejenisnya baik untuk tulang. Untuk takaran normal 750 miligram per hari. Tetapi kalau ibu-ibu hamil biasanya dua kali lipat. Usia tua juga dua kali lipat,’’ jelas dr Rangga.

Untuk menguatkan tulang bisa dengan berolahraga apa saja bisa, tetapi menurut saya olahraga yang paling baik untuk menguatkan tulang tersebut dengan berenang. Kalau kita berenang, tulang itu tidak terbebani. Sendi-sendi lebih rileks.

Yang harus dihindari merokok, minuman beralkohol dan minum jamu-jamuan. Terkadang kita tidak tahu isi jamu-jamuan itu apa. Biasanya minum jamu-jamuan bisa menghilangkan penyakit tetapi terkadang berisi corticosteroid. Dalam ilmu kedokteraran corticosteroid itu obat dewa, hampir semua penyakit bisa sembuh dengan itu. Tetapi efek sampingnya pengapuran tulang dan berat badan menambah, muka makin lama bulat. Pil-pil tradisional dari luar juga tidak tahu isinya apa. Biasanya harus melewati BPOM, dilihat dulu hasilnya apa.

Yang rentan terjadi patah tulang tergantung dari usia, kalau usia tua rentan terjadi patah di sendi bahu atas, pergelangan tangan dan sendi pinggul. Karena di sendi-sendi tersebut dimana tempat menopang, energinya lebih besar di situ. Kalau pengapuran paling sering terjadi di sendi-sendi tersebut. Dewasa/muda biasanya jarang sekali sering terjadi patah tulang. Umumnya usia muda terlibat kecelakaan lalu lintas karena tabrakan. Kalau anak-anak biasanya jatuh karena bermain. Pada kasus anak-anak umumnya patahannya sedikit atau dalam batas normal maka akan sembuh sendiri. Kecuali tulangnya lari jauh dari posisi normal, maka sarannya harus dioperasi. Proses penyembuhannya lebih cepat pada anak dibandingkan dengan orang dewasa dan orang tua.

Sarannya untuk menguatkan tulang dengan mengkonsumsi kalsium terutama susu, kalau pagi dengan berolahraga karena sinar matahari pagi akan mengaktifkan vitamin D dalam tubuh kita yang bagus untuk tulang. Sebenarnya dalam tubuh kita sudah ada vitamin D tetapi belum teraktivisi. Oleh karena itu pagi hari harus terpana sinar matahari agar bisa teraktivasi  vitamin D-nya, pembentukan tulang juga bisa meningkat. Terus hindari minumal alkohol, merokok dan jamu-jamuan.

Kalau memang ada patah tulang untuk tahap awalnya konsultasi ke dokter. Minimal di-rontgen agar tahu patahannya seperti apa. Soalnya ada ada beberapa pasien tidak tahu dipijat-pijat sekarang sudah sembuh tetapi tulang bengkok, pendek atau berputar ada juga sampai menimbulkan tumor. Kebanyak dari pasien-pasien orthopededi yang kita lihat selama di rumah sakit pasien yang setelah dipijat jadinya bengkok atau menjadi tumor, mau tidak mau disarankan di operasi. Jikalau hanya bengkak ataupun tersenggol sesuatu yang menyebabkan bengkak ke dokter, pastikan tidak ada patah, kalau tidak ada patah tidak apa-apa dipijat. Jika ada patah sebaiknya konsultasi ke dokter setidaknya menerima informasi dari dokter tentang risiko yang akan terjadi apa saja. Kalau pasien siap dengan risiko yang dihadapi nanti, jadi pasien sudah mengerti penyakitnya dan risikonya ditanggung pasien sendiri.

Sumber: Riau Pos, Tanggal 29 Desember 2017, Halaman 8

 

Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Panam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *