Lawan Difteri dengan Rajin Imunisasi

Kejadian Luar Biasa (KLB) sudah ditetapkan di Indonesia. Penyakit yang mematikan ini mewabah hingga 20 provinsi. Imunisasi yang kerap dianggap enteng, justru jadi benteng perlindungan.  Dokter Spesialis Anak RS Awal Bros (RSAB) Batam dr. Dewi Metta, SpA, M.Kes mengatakan bahwa difteri disebabkan oleh corynebacterium diphtery yaitu bakteri yang menyebarkan penyakit melalui udara, benda pribadi dan peralatan rumah tangga yang terkontaminasi. Jika menghirup partikel udara dari batuk atau bersin orang yang terinfeksi, bisa terjangkit difteri. “Misalnya tisu bekas, gelas, handuk dan berbagai peraltan pribadi lainnya. Termasuk luka penderita difteri,” kata Metta.

Ada banyak faktor pemicu meningkatnya risiko terkena difteri, yakni lokasi yang ditinggali, tidak mendapat vaksinasi difteri, memiliki gangguan imun baik penyakit ataupun anak-anak dan orangtua serta tinggal dilingkungan yang padat dan tidak higienis. Dokter biasanya akan memeriksa fisik pasien untuk melihat adanya pembengkakan kelenjar linfa. Apabila ada lapisan abu-abu pada tenggorokan dan amandel, dokter bisa menduga pasien terkena difteri. Adapun gejala lainnya adalah penderita biasanya akan mengeluarkan suara ketika bernafas, leher membengkak dan disertai demam. Dokter juga akan memeriksa sejarah medis serta gejala yang dialami.

Namun, metode paling akurat untuk mendiagnosis difteri dengan pemeriksaan biakan. Sampel jaringan yang terpengaruh akan diambil dan kemudian dikirim ke laboratorium untuk diperiksa, apakah memiliki difteri atau tidak. Jika terinfeksi, dokter akan memberikan suntikan antibiotik dan antitoksin untuk melawan racun yang dihasilkan oleh bakteri difteri. Jika alergi terhadap antitoksin, beritahu dokter sehingga dapat dilakukan penyesuaian pengobatan. Pasien alergi toksin biasanya dokter akan memberi dosis antitoksin yang rendah dan meningkatkan kadar bertahap. Setelah itu, dokter akan memberikan antibiotik untuk membantu mengatasi infeksi. Dokter selanjutnya akan merekomendasikan pemberian imunisasi booster (penguat) setelah sehat untuk membangun pertahanan terhadap bakteri difteri. “Keluarga terdekat penderita juga harus dilakukan pemeriksaan dan pemantauan agar difteri tidak mewabah,” ujarnya.

Jika tidak diobati dengan tepat, difteri akan mengakibatkan komplikasi yang berbahaya dan bahkan bisa berujung kematian. Beberapa komplikasi tersebut adalah saluran napas tertutup lapisan abu-abu tersebut, kerusakan otot jantung, kerusakan saraf, kehilangan kemampuan bergerak dan infeksi paru. Untuk menolong penderita difteri dengan tenggorokan yang tertutup lapisan abu-abu tersebut  adalah dengan operasi pembuatan lubang bantu bernapas dileher. “Hal ini untuk membantu pasien tetap bisa bernapas dan membuka saluran nafasnya,” ucapnya.

Cara terbaik melawan difteri adalah dengan mencegah melalui vaksin yang diberikan saat imunisasi. Di Indonesia, vaksin difteri biasanya diberikan lewat imunisasi Difteri, Tetanus, Pertusis (DPT) sebanyak lima kali semenjak bayi berusia 2 bulan. “Imunisasi pada usia 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan. Kemudian imunisasi berikutnya pada usia 18 bulan dan terakhir 5 tahun,” sebutnya.  Selanjutnya, ada tiga imunisasi lagi di Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) kelas 1, 2 dan 3 SD. “Orang dewasa juga bisa diberikan vaksin serupa tiap 10 tahun sekali untuk langkah pencegahan,”ucapnya.  Untuk anak usia 7 tahun, diberikan vaksinasi Td atau Tdap. Vaksin tersebut melindungi dari tetanus, difteri dan pertusis yang harus diulang setiap 10 tahun sekali, termasuk direkomendasikan untuk dewasa.

Pentingnya imunisasi ini terbukti juga dengan data penderita difteri. Mengutip data Kementerian Kesehatan mulai Januari hingga November yang tercatat ada 593 kasus, terdapat 32 penderita meninggal. “Sebanyak 75 persen dengan status imunisasi yang tidak diketahui. Artinya, cakupan imunisasi ini yang kurang. Banyak orangtua yang masih enggan mengajak anaknya untuk imunisasi,” ungkapnya.

Banyak orangtua yang takut ketika anaknya diimunisasi akan demam, padahal itu adalah respon dari tubuh menerima vaksin yang diberikan. “Demam setelah imunisasi ini biasanya cuma sebentar, tidak sampai berhari-hari. Dibandingkan risiko difteri yang menghampiri,” kata Metta. Adapun anak yang tidak bisa diimunisasi adalah anak yang kekurangan imunitas dan shock reaksi obat. “Selebihnya, seperti sakit masih bisa diberikan imunisasi setelah sembuh,” ujarnya. Banyak kasus juga kata Metta, orangtua yang masih binggung dengan jadwal imunisasinya. Misalnya pada anak yang sudah melewatkan jadwal imunisasinya. “Silahkan datang ke fasilitas kesehatan, maka tim medis akan menjadwalkan imunisasi sesuai usianya. Tidak perlu mengulang imunisasi yang sudah diterimanya,” tutupnya.

SUMBER : BATAM POS | HEALTHY LIVING | HAL. 19 | MINGGU, 24  DESEMBER 2017

 

Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Batam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *