Kenali Penyakit Jantung Bawaan pada Anak

Jelas sekali jantung merupakan organ vital bagi manusia. Tidak hanya orang dewasa, kelainan jantung sering kali terjadi pada bayi baru lahir. Sayangnya orangtua terkadang tidak mengerti cara mendeteksinya, sehingga kasus kematian karena terlambat ditangani.

Jantung merupakan organ vital yang memegang peran penting pada kehidupan setiap manusia, termasuk bayi dan anak yang sedang mengalami tumbuh kembang. Struktur dan fungsi jantung yang normal sangat dibutuhkan untuk mempertahankan peredaran darah yang stabil guna mencukupi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh seorang anak.

Sayangnya, setiap kelahiran 5 Juta per tahun, ada 50 ribu bayi yang dilahirkan dengan penyakit jantung bawaan (PJB) di Indonesia. Anak dengan PJB memiliki kelainan struktur jantung yang dapat berupa lubang (defek) pada sekat ruang – ruang jantung, penyempitan atau sumbatan katup atau pembuluh darah yang berasal atau bermuara jantung ataupun abnormalitas konfigurasi jantung serta pembuluh darah. Dokter Perinatologi RS Awal Bros Batam dr. Nenden Ismawaty, SpA, M. Kes mengatakan, PJB memiliki gejala dan tanda – tanda yang dapat dikenali sejak lahir. Namun bisa jadi sebaliknya, yakni hanya menimbulkan gejala minimal, seperti berat badan sulit naik atau infeksi saluran napas berulang sehingga tidak terdeteksi hingga dewasa. Tergantung pada jenis dan kompleksitas kelainan.

Dokter biasanya mencurigai adanya PJB bila mendeteksi adanya tanda gejala gagal jantung, kebiruan ataupun mendengar kelainan bunyi atau bising jantung. “Masalahnya, sering kali PJB tidak memberikan gejala atau tanda yang khas saat bayi baru lahir mengingat sirkulasi darah dan sistem pernapasan masih mengalami transisi dari masa janin ke periode pasca lahir,” kata dr. Nenden.

Namun, bisa dikenali dengan melihat faktor risiko pada ibu sebelum melahirkan. “Apakah sang ibu terpapar asap rokok, diabetes pada ibu, faktor gen, virus rubella dan meminum obat tertentu. Bisa jadi faktor risiko yang menyebabkan kelainan jantung pada anak,” ujarnya.

Dokter Spesialis Anak Konsultan dr. Syarif Rohimi, SpA (K) yang menghadiri seminar medis RS Awal Bros Batam mengatakan, sejauh ini penyebab PJB belum diketahui secara pasti, tetapi berdasarkan penelitian, diduga bersifat multifactorial, yaitu melibatkan kerentanan genetik (bawaan) dan faktor lingkungan.

Untuk PJB ini dibagi dua lagi yakni, tipe PJB Biru (sianotik) dan PJB non sianotik. PJB Biru ini yang menyebabkan warna kebiruan (sianosis) pada kulit dan di daerah lidah/bibir dan ujung – ujung anggota gerak akibat kurangnya kadar oksigen di dalam darah. Namun, tidak semua bayi yang terlihat normal juga dikatakan sehat. Perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui bayi mengidap kelainan jantung atau tidak. Seperti pada jenis PJB non sianotik atau PJB yang tidak menyebabkan tubuh bayi membiru. “Tipe PJB non-sianotik, yaitu PJB yang tidak menimbulkan warna kebiruan pada anak,” kata dr. Syarif Rohimi.

PJB non-sianotik umumnya menimbulkan gejala gagal jantung yang ditandai dengan sesak yang memberat saat menyusui, bengkak pada wajah, anggota gerak, perut dan gangguan pertumbuhan yang menyebabkan kekurangan gizi. Beberapa faktor risikonya seperti paparan rokok saat kehamilan, baik ibu perokok aktif maupun pasif. “Konsumsi obat-obatan tertentu, infeksi pada kehamilan, diabetes melitus dan sindrom atau kelainan genetik tertentu, seperti sindrom down, dilaporkan meningkatkan risiko kelainan jantung bawaan pada bayi,” jelasnya.

Yang penting diperhatikan adalah pembentukan jantung terjadi di masa awal kehamilan dan hampir selesai pada 4 minggu setelah pembuahan, yaitu saat ibu sering kali baru menyadari kehamilannya. “Misalkan dengan gangguan irama jantung, kelainan ini bisa cepat diatasi dengan terapi. Sehingga pada usia kehamilan 20 minggu, risiko bayi dengan PJB bisa dikurangi,” jelasnya.

Kembali kepada beberapa gejala yang terjadi pada anak pengidap PJB, seperti sulit bernafas, sianosis (kebiruan), berkeringat, susah makan, berat badan tidak normal. Bila ditemukan gejala tersebut pada anak, biasanya akan dirujuk ke dokter ahli penyakit jantung.

SUMBER : BATAM POS | HEALTY LIVING | MINGGU 10 DESEMBER 2017 | HAL. 19
Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Batam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *