Deteksi Dini Penyakit Stroke

Laporan KAMARUDDIN, Pekanbaru

Stroke merupakan bagian dari penyakit syaraf  atau dikenal sebagai gangguan peredaran darah otak  atau dikenal juga sebagai “brain attack” bila di bidang jantung kita mengenal istilah serangan jantung maka stroke sebenarnya dapat disebut  serangan otak. stroke dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis  yaitu stroke infark dan stroke pendarahan. Prinsipnya baik stroke infark maupun pendarahan merupakan acute emergency di bidang ilmu syaraf, sehingga yang penting bagaimana mengenalinya sedini mungkin.
Dokter Spesilis Syaraf Rumah Sakit Awal Bros Panam dr Andre Lukas SpS menjelaskan, untuk membedakan stroke infark atau hemoragik perlu dilakukan pemeriksaan CT Scan. Untuk mendeteksi stroke secara dini ada banyak skor yang bisa dipakai, salah satunya kita menggunakan singkatan FAST.
Pertama, Facial drop. Jadi tiba-tiba mulutnya mencong sebelah. Ini merupakan salah satu gejala yang umum,
Kedua adalah Arm Drift yakni kelemahan anggota gerak satu sisi.  Ketiga, Slurred speech yaitu gangguan bicara seperti cadel, tidak bisa berkomunikasi, dll. Keempat adalah Time, karena strore akut punya golden time untuk ditangani secara maksimal adalah tiga jam dari serangan. Artinya kalau kita bisa mengenali serangan stroke itu seawal mungkin, maka kemungkinan kita bisa menyelamatkan otak bisa lebih besar. Ini terutama pada kasus-kasus stroke sumbatan atau infark karena ada obat yang dapat digunakan untuk  menjebol sumbatan / prosedur trombolisis. Itu yang harus dikerjakan dalam waktu 3 jam sampai 4,5 jam pasca serangan. Kebanyakan kita seringkali terlambat membawa pasien stroke ke rumah sakit. Mengapa harus segera? karena kalau dibiarkan lebih dari 4,5 jam asumsinya sel otak mengalami kematian. Sehingga kalau dilakukan trombolisis / penjebolan sumbatan setelah 4,5 jam , sumbatannya jebol juga tetapi otak sudah terlanjur rusak.

gejala stroke umumnya selalu menyilang, kalau otak kiri yang terkena, maka yang mengalami kelumpuhan adalah sisi kanan dan begitu sebaliknya. Pada sebagian besar kasus pasien  yang terserang stroke mereka mengalami gangguan emosi seperti lebih  sensitif karena emosi dan fungsi berpikir merupakan hal yang tidak terpisahkan dari fungsi otak.
Penyebab stroke  menurutnya disebabkan karena faktor gaya hidup,  memang ada kontribusi faktor genetik tetapi tidak terlalu besar dibanding karena faktor gaya hidup. Sehingga bicara kasus vaskuler selalu bicara faktor risikonya. Faktor risikonya ada yang bisa dimodifikasi yang tidak bisa dimodifikasi. Semua orang yang berumur dia punya risiko yang lebih tinggi, kita di Asia punya risiko lebih tinggi dibandingkan beberapa ras yang lain secara genetik memang begitu, itu tidak bisa dimodifikasi. Tetapi ada faktor-faktor yang bisa dimodifikasi misalnya penyakit diabetes melitus (penyakit kencing manis), hipertensi, kolesterol yang tinggi dan kebiasaan merokok.

Pola hidup, kalau kita lihat di teman-teman di ahli gizi menyatakan bahwa obesitas adalah salah satu faktor yang meningkatkan resiko stroke. Yang penting bagi masyarakat adalah kalau menemukan gejala-gejala tersebut di atas agar segera di bawa ke rumah sakit. Beberapa tips agar terhindar dari serangan stroke adalah  menjaga pola hidup sehat, rajin berolahraga, jaga pola makan, setiap berkala sekali enam bulan atau setahun melakukan medical check up, tidak merokok, tidak minuman beralkohol, jaga berat badan ideal. Intinya bagaimanapun mencegah serangan stroke lebih baik daripada mengobati. *

Sumber: Riau Pos, tanggal 05 Januari 2017, halaman 8

Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Panam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *