Galau Berlebihan, Apakah Gejala Depresi?

Depresi menurut kriteria diagnosis ilmu kedokteran jiwa ada 3 gejala utama yang dirasakan minimal selama 2 minggu, yang pertama ada afek depresif yakni murung, diam  dan sedih. Gejala yang kedua kehilangan minat dan kegembiraan untuk melakukan hal-hal yang biasanya disukai (jadi malas untuk beraktifitas). Yang ketiga menjadi kurang berenergi hingga mudah lelah.

Gejala-gejala lainnya adalah konsentrasi dan perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaan diri kurang, gagasan merasa bersalah dan tidak berguna, pesimis, ada ide / usaha bunuh diri atau membahayakan diri sendiri, tidur terganggu, nafsu makan berkurang dan lain-lain.

Kalau galau itu biasanya orang bingung mau melakukan apa dan tidak fokus. Galau sebenarnya normal, kita semua bisa galau kalau dapat masalah kejadian tidak menyenangkan. Karyawan gaji tidak turun-turun jadi galau sementara hutang masih banyak, kredit belum dibayar, itu wajar. Selama tidak ada gejala yang sudah disebutkan di atas. ‘’Jadi tak sampai dia murung terus-menerus selama dua pekan, tidak mau melakukan aktivitas sehari-harinya dan tidak sampai menjadi kurang berenergi hingga mudah lelah, itu tidak bisa didiagnosis depresi,’’ jelasnya.

Kalau dibiarkan lama-lama sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, mengganggu perawatan diri sehari-hari (tidak mau mandi, tidak mau makan dan minum),  mengganggu fungsi pekerjaan / sekolah. Kalau ketiga ini sudah terganggu berarti sudah mengalami gangguan.

Galau itu normal  dan wajar tetapi kalau yang berlebihan sampai menimbulkan gejala-gejala yang sudah disebutkan di atas bisa dibilang gejala depresi atau gangguan mental. Penyebabnya bermacam-macam, salah satunya karena faktor genetik. Kalau ada keluarga mengalami gangguan mental sebelumnya ada kemungkinan akan ada keturunannya yang mengalami gangguan mental. Selain faktor genetik juga dipengaruhi karena faktor pola asuh, faktor lingkungan seperti lingkungan sosial, tetangga dan lingkungan tempat tinggal (Jadi kalau lingkungannya tidak mendukung seperti sepi tidak siapa-siapa, tidak ada kehidupan, orang akan merasa kesepian yang ujung-ujungnya nanti bisa depresi.

Intelegensia juga bisa menjadi faktor penyebab seseorang mengalami gangguan mental dan banyak lagi faktor lainnya. Yang paling penting faktor stresornya, kalau stresornya besar juga akan bisa mengalami depresi. tetapi tergantung dari mekanisme pertahanan jiwa orang itu sendiri. Kalau mekanisme pertahanan jiwanya bagus, kemungkinannya kecil seseorang akan mengalami depresi.

Depresi ada yang tidak bisa dihindari seperti karena faktor genetik. Kalau karena lingkungan sosial tidak bagus, bisa cari lingkungan yang mengarahkan pada hal yang positif. Misalnya melakukan hobinya supaya pikiran teralihkan ke kegiatan tersebut bukan ke hal-hal lain. Terus pekerjaan, cari pekerjaan yang memang disenangi, misalnya kalau dokter senangnya menyembuhkan orang, kalau dia bekerja mengurusi negara, belum tentu dia senang bahkan bisa pusing yang akhirnya timbul depresi.

Kalau sudah terlanjur stres atau depresi dan tidak bisa menangani sendiri silahkan berobat / konsultasi ke psikiater.

Dokter spesialis kejiwaan / psikiater biasanya menangani pasien dengan gangguan mental. Gangguan mental yang berat biasanya gejalanya sering marah-marah, ngomongnya melantur tidak nyambung, banting-banting barang, ada halusinasi, keyakinan yang salah dan gejala-gejala lainnya, itu biasanya kita tenangkan dengan obat-obatan dan disarankan untuk dirawat inap.

Selain itu depresi dengan ide untuk bunuh diri / menyakiti diri sendiri, cemas berlebihan dan tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari biasanya dirawat inap untuk diobservasi.

Salah satu gangguan mental lagi ada yang namanya gangguan psikosomatis, merasa sering sakit perut padahal makan sudah teratur tetapi masih perih saja setelah diperiksa dokter ternyata tidak kenapa-kenapa perutnya, hal itu dirasakan karena psikis / jiwanya ada masalah sehingga perlu berobat ke psikiater.

Kemudian ada yang sering mengeluh sakit kepala, sering nyeri-nyeri badan tetapi diperiksa tidak ada apa-apa dari dokter yang bersangkutan, mungkin orang itu ada masalah dari psikisnya.

Gangguan mental lainnya seperti gangguan cemas berlebihan, khawatir berlebihan, phobia, gangguan obsesif kompulsif, makan berlebihan, dan masih banyak gangguan-gangguan lainnya itu bisa ditangani oleh psikiater.

Serta orang-orang yang ketergantungan dengan obat-obatan atau hal-hal lain seperti kecanduan narkoba, kecanduan internet, game online, kecanduan rokok, alkohol dan lain-lain, bila orang-orang tersebut ingin sembuh dari ketergantungannya dapat berobat / konsultasi ke psikiater. *

Sumber: Riau Pos, Jumat,19 Januari 2018, Halaman 8

Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Panam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *