Memerangi Gizi Buruk di Hari Gizi Nasional 2018

Banyak yang menganggap makanan bergizi sama dengan makanan sehat. Namun kenyataannya itu tentu saja terbalik mengingat makanan bergizi itu belum tentu sehat bagi individu tertentu. Artinya, setiap individu punya angka kecukupan gizi yang berbeda. Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr. Brain Gantoro, SpGK mengatakan pentingnya gizi sendiri sudah ada sejak 1950 lalu. Kemudian tahun 1960, Menteri Kesehatan atau Bapak Gizi Indonesia, Prof. Poorwo Soedarmo mulai mengkader tenaga gizi Indonesia, yang saat ini diperingati sebagai Hari Gizi Nasional (HGN).

Kembali, ia menjelaskan makanan sehat adalah makanan yang tidak mengandung bahan berbahaya dan mengandung gizi yang bermanfaat untuk tubuh. Sedangkan makanan bergizi adalah makanan yang mengandung unsur gizi seperti tiga jenis makronutrien yakni karbohidrat, protein, serta lemak.

“Kemudian mengandung dua zat tambahan lain seperti vitamin dan mineral,” kata dr. Brain. Selanjutnya ada dua zat tambahan lainnya yang digunakan untuk membantu proses metabolisme tubuh yakni serat dan air. Mengenai makronutrien sendiri dibutuhkan untuk memproduksi energi bagi tubuh. Lebih lanjut soal gizi makanan, dr. Brain mengatakan bahwa gizi makanan punya tiga tugas. “Pertama sebagai pemberi tenaga yakni tugas karbohidrat. Kedua sebagai pemberi tenaga yakni tugas karbohidrat. Kedua sebagai zat pembangun yang merupakan tugas protein, mineral, dan air. Ketiga sebagai zat pengatur yakni dari vitamin, protein, mineral,” jelasnya.

Karena tugas zat gizi makanan tersebut, setiap orang punya angka kebutuhan gizi berbeda – beda pula tergantung jenis kelamin, indeks masa tubuh dan aktivitas hariannya atau yang lebih dikenal dengan angka kecukupan gizi (AKG), rata – rata kecukupan energi dan protein bagi penduduk Indonesia tahun 2013 masing – masing sebesar 2.150 kilo kalori dan 57 gram protein per orang per hari pada tingkat konsumsi. AKG ini diterapkan dalam peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2013. Dalam kasus orang bertubuh kurus, perlu mengonsumsi banyak makanan yang mengandung karbohidrat, protein dan lemak. “Terlebih mengingat mereka (orang kurus) tidak punya cadangan energi dari lemak tubuhnya,” ujarnya.

Kebutuhan gizi ini tentu berbeda dengan individu yang memiliki berat badan lebih besar. “Mereka (orang gemuk) justru harus mengurangi porsi nasi yang dikonsumsi dan memilih makanan rendah lemak,” ungkapnya. Lalu, seperti apa gizi yang baik untuk tubuh? Dr. Brain mengungkapkan makanan bergizi tidak harus mahal. Jika dahulu sering mendengar 4 sehat 5 sempurna, itulah kuncinya. Karbohidrat bisa didaptkan dari nasi, protein hewani dan nabati dari lauk pauk, sayuran yang mengandung vitamin, mineral, dan air. Kemudian buah yang mengandung vitamin, mineral, serta serat dan air. Lalu, zat kalsium, lemak dan protein bisa didapatkan dari susu atau telur. “Kenapa harus sus atau telur, karena keduanya merupakan sumber kalsium,” ucap dr. Brain.

Selain itu, ada yang menyebutkan pedoman umum gizi seimbang, 13 persen dasar gizi seimbang dan belakangan ini sering didengar 10 gizi seimbang. “Ada pula Gerakaan Masyarakat Sehat (Germas) yang menyederhanakannya menjadi perbanyak makanan sayur, buah, dan ikan. Ini sudah cukup memenuhi gizi perhari,” jelasnya.

Cara pengolaha yang baik untuk sayur dan buah tentu saja dengan mengonsumsinya secara langsung ata untuk sayur bisa dikukus. Begitu juga dengan ikan, sebaiknya dimasak dengan cara yang benar. “Kembali, makanan bergizi bisa didapatkan dalam keseharian kita. Kurangi nasi, perbanyak konsumsi sayuran, buah dan ikan,” tutupnya.

SUMBER : BATAM POS | HAL. 1 dan 2 | KAMIS, 25 JANUARI 2018
Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Batam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *