Bangun Percaya Diri Anak Sejak Dini

Kepercayaan diri harus dibangun sejak awal pertumbuhan anak. Karena pertumbuhan yang baik akan membentuk rasa percaya diri yang besar hingga anak beranjak dewasa.

Seperti yang diucapkan Henry Ford pendiri otomotif besar di Amerika Serikat: Whether you think you can, or you think you can’t you’re right. Ketika seseorang percaya bahwa ia bisa melakukan sesuatu, maka kemungkinan besar ia bisa melakukannya. Kalau pun gagal, ia akan mencobanya berulang kali karena yakin ia bisa. Tetapi ketika seseorang percaya bahwa ia tidak bisa, kemungkinan ia akan gagal dan ia tidak terlalu ingin mencobanya kembali. Menurut Ibu Maryana, Psikolog Anak dari Rumah Sakit Awal Bros Batam, rasa percaya diri erat kaitannya dengan rasa malu. Sehingga seseorang yang memiliki rasa malu atau gengsi yang besar, kurang memiliki rasa percaya diri.

Nggak hanya anak kecil, semua orang memiliki rasa malu. Rasa malu masih di batas normal akan berdampak kurang baik juga,” kata Ibu Maryana.

Anak – anak cenderung mengikuti kebiasaan orang terdekatnya, terutama orangtua. Jika orangtua cenderung kurang percaya diri, maka anak akan mengikuti kebiasaan – kebiasaan itu. Pada tahap perkembangannya, anak – anak akan meniru setiap perilaku atau sikap orang di sekitarnya. Anak belum bisa membedakan mana perilaku baik, mana yang buruk. Sehingga mereka mengikuti semua yang dilihatnya.

“Perlu diketahui, rasa percaya diri bukanlah sifat yang diturunkan langsung dari orangtua kepada anak. Untuk bisa memiliki rasa percaya diri, orangtua harus mengajarkannya kepada anak sejak dini “kata Ibu Maryana. Namun menanamkan rasa percaya diri pada anak merupakan proses yang bertahap. Tidak bisa langsung jadi, melainkan harus melalui tahapan – tahapan kecil.

Salah satu penyebab kurangnya rasa percaya diri anak, kata Maryana, adalah rasa takut dan keyakinan bahwa ia tidak mampu. Hal ini sering berkaitan dengan masa lalu. Seorang anak yang pernah jatuh dan terluka saat belajar naik sepeda mungkin takut untuk mencoba lagi. “Peran orangtua membantu mereka menyadari apa ketakutan mereka. Kemudian membimbing mereka untuk mengatasi ketakutannya,” katanya.

Ibu Maryana mengatakan, anak sebaiknya dibebaskan melakukan kegiatan – kegiatan yang diinginkan. Orangtua juga disarankan untuk tidak memberikan terlalu banyak Batasan saat anak bermain atau beraktivitas. Anak yang dibiarkan bereksplorasi memuaskan rasa ingin tahunya biasanya akan berkembang menjadi anak kreatif dan pintar.

Anak kreatif biasanya juga menjadi lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan dunia luar. “ini penting sekali. Anak saat masih kecil jangan terlalu diberi Batasan – Batasan dalam bermain atau bereksplorasi. Karena berpengaruh pada dirinya saat dewasa,” ucap Ibu Maryana. Untuk menanamkan rasa percaya diri sejak usia dini bisa dimulai dengan memberikan kata – kata  motivasi pada anak. Dukungan dari orang terdekat membuat anak makin percaya diri dan tidak minder. Orangtua harus menjaga setiap perkataan ketika di depan anak. Jangan mengeluarkan kata-kata yang membuat anak merasa minder atau terpuruk jelasnya.

Menjaga kedekatan dengan anak merupakan salah satu cara dalam membentuk dan menumbuhkan rasa percaya diri anak. Saat berkumpul dengan anak, sebaiknya orangtua memberikan pelajaran yang bisa menumbuhkan rasa percaya diri dalam diri anak.

TIPS PARENTING

Anak Tumbuh menjadi Pribadi yang Percaya Diri

  1. Orang tua dituntut untuk menjadi sosok yang berani. Anak melihat, anak melakukan. Orangtua berprilaku apa, anak pasti mengikuti. Maka itu, orang tua harus bersikap berani di hadapan anak.
  2. Tidak berlebihan mengawasi bisa membuat anak menjadi pribadi yang percaya diri. Overprotektif akan membuat menjadi lebih pasif. Ini membuat anak beresiko mengalami bully.
  3. Ajarkan anak menyelesaikan masalah sendiri. Jika terlalu dimanja, anak tidak mandiri saat dewasa nanti. Anak bingung dan selalu meminta bantuan orangtua dan tidak mempunyai kemampuan sendiri.
  4. Jangan menakut – nakuti. Kadang untuk membuat anak jera dengan menakut-nakuti. Namun ini justru membuat anak jadi mudah pesimis. Sebaiknya beri tahu alasan sebenarnya mengapa ia dilarang melakukan sesuatu.
  5. Hindari memarahi tanpa sebab yang jelas. Tentu saja orangtua boleh marah, tapi kemarahan harus memiliki alasan. Dengan begitu anak tahu kesalahannya dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
SUMBER : KORAN SINDO | RABU, 3 JANUARI 2018 | HAL. 20
Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Batam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *