Mengenal Okupasi Terapi

Proses penyembuhan khususnya dalam hal fisik dan mental memerlukan bantuan terapis. Menariknya ada terapi yang memanfaatkan aktivitas sehari-hari sebagian bagian dari penyembuhan, yakni okupasi terapi. Seperti apa?

Mungkin belum banyak yang mengenal bahkan mendengar okupasi terapi. Bagi orang awam mungkin bisa malah menyamakan bidang ilmu ini kepada terapi pada umumnya. Sementara, okupasi terapi sendiri merupakan profesi kesehatan yang menangani pasien dengan gangguan fisik dan atau mental yang bersifat sementara atau menetap. Dalam praktiknya okupasi terapi menggunakan aktivitas terapetik untuk meningkatkan komponen kinerja okupasional yakni senso motorik, persepsi, kognitif dan sosial dalam area kinerja okupasional berupa perawatan diri, produktivitas dan pemanfaatan waktu luang. “Sehingga pasien mampu meningkatkan kemandirian fungsional, meningkatkan derajat kesehatan dan dapat berpartisipasi di masyarakat,” kata okupasi terapis Rumah Sakit Awal Bros Batam, Irianto, Amd, OT.

Lebih lanjut, Irianto menjelaskan okupasi terapi berfokus kepada pengembalian fungsi untuk pasien yang mengalami keterbatasan fungsi karena ada suatu penyakit atau kecelakaan. “Fungsi bagaimana makan, memakai baju, berjalan dan lainnya. Intinya mampu mandiri,” ujarnya. Sebelum mengenal lebih lanjut okupasi terapi, ada dua jenis pasien yang ditangani yakni pediatri dan geriatri. Pediatri adalah cabang ilmu kedokteran yang berkonsentrasi pada pencegahan, diagnosis, pengobatan dan penanganan seluruh jenis penyakit pada pasien berusia muda, yaitu bayi dan anak hingga remaja atau dewasa muda.

Sementara, geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari masalah kesehatan pada lanjut usia yang menyangkut aspek promotof, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta psikososial. “Jadi pasien pediatri atau anak-anak dan geriatri atau dewasa. Termasuk keterbatasan fisik dan mental pasiennya,” jelasnya.

Terdapat perbedaan antara fisioterapi dan okupasi terapi, yakni kepada alur penyembuhan pasien. Sebagai contoh, pasien rumah sakit biasanya harus mendapatkan penyembuhan dari fisioterapi, okupasi terapi, lalu berlanjut terapi wicara. Tindakan terapi wicara ini sesuai dengan kondisi pasien. “Apakah pasien tersebut memang dalam kondisi membutuhkan terapi wicara atau tidak. Kalau tidak, jika sudah baikan tahapannya sampai okupasi terapi saja,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Irianto mengatakan, fisioterapi lebih kepada melatih kemampuan motorik yang sifatnya basic (umum). “Okupasi lebih kepada fungsional, berjalannya, menyetir mobil kembali. Bagaimana pasien dengan amputasi tangan dapat melakukan fungsi tangannya seperti biasa setelah mendapatkan tangan palsu dan lain sebagainya,” kata Irianto.

Intinya okupasi terapi itu mengedepankan kepada Analisa kondisi pasien. Bagaimana seorang anak terkait tumbuh kembangnya, termasuk fisik dan mental. Lalu bagaimana pasien pediatri (anak-anak) yang hiperaktif agar dapat tenang. Geriatri misalnya, orang tua yang dalam keadaan stroke bisa kembali makan sendiri, semua tergantung Analisa dan evaluasi yang kami jalankan,” ujarnya.

Bagaimana kalua orangtua, kondisi geriatri tidak percaya diri. Ini yang cukup susah. “Biasanya kita akan fokus membangkitkan rasa percaya dirinya. Bagaimana pasien nyaman, jadi bisa lebih mudah. Jika tidak hanya metode yang kita perhatikan tapi psikis dan mentalnya,” ungkapnya. Kondisi ini juga harus didukung oleh keluarga pasien. Karena menurut Irianto, dukungan keluarga sangatlah punya porsi besar kepada penyembuhan pasiennya.

Porsinya mencapai 50-60 persen. Dianjurkan bagi pasien terus berkonsultasi kepada okupasi terapi minimal dua kali seminggu. Dirumah minimal sehari satu jam. Pasien okupasi terapi biasanya akan diberikan formulir untuk diisi sesuai dengan kondisi pasien. Jika pasien lama, sudah ada medical record nya di rumah sakit. Pasien diharuskan mendaftar ke bagian rehab medik. Selanjutnya dokter rehab akan memberikan arahan berdasarkan kondisi pasien.

Lalu dokter lainnya yang mungkin akan dilibatkan berdasarkan kondisi pasien saat itu,” ujar Irianto. Melihat hal itu, ia berkata bahwa tenaga okupasi terai sendiri sangat dibutuhkan, namun sayingnya jumlahnya sedikit. Bahkan disebutkannya di Btaam hanya ada di RS Awal Bros Batam. Irianto berharap ada perhatian dari Pemerintah terkait pemenuhan SDM di Batam. Mungkin dengan pertukaran pelajar atau beasiswa terkait jurusan Okupasi Terapi bisa menjadi solusi,” harapannya.

SUMBER : BATAM POS | HEALTHY LIVING | 11 MARET 2018 | HAL. 19
Categories: Media Clipping and RS Awal Bros Batam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *