Diet pada Anak dengan Hiperaktivitas (GPPH) Atau Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD)

Sampai dengan saat ini, masih banyak orang tua yang telat menyadari kalau anaknya yang terlalu aktif, mengalami gejala Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD atau disebut juga dengan GPPH (Hiperaktivitas)). Dr. Citra SpKJ – Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa dari Rumah Sakit Evasari Awal Bros menerangkan mengenai diet pada Anak dengan Hiperaktivitas (GPPH) Atau Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) ini.

Gangguan yang paling sering dijumpai dengan Prevalensi sekitar 3-7% . Gambaran GPPH yang penting adalah hiperaktivitas/impulsivitas dan/atau inatensi yang pervasif, di mana biasanya diketahui saat usia 7 tahun, terjadi sekurangnya 6 bulan. Hiperaktivitas dan/atau inatensi harus terjadi di ≥ 2 tempat (misalnya di sekolah dan di rumah). Ada bukti ketidak serasian perkembangan sosial, akademik atau fungsi okupasi.

ADHD mempunyai kesulitan yaitu

  1. Memusatkan perhatian dalam mengerjakan tugas
  2. Duduk diam
  3. Mendengarkan dan mengikuti instruksi
  4. Mengorganisasikan tugas
  5. Mengolah informasi cepat dan akurat

Anak dengan GPPH umumnya tidak sabaran, sering menginterupsi  pembicaraan orang lain, menyampaikan komentar yang tidak sesuai dan menunjukkan emosinya tanpa batasan. GPPH dapat berlanjut hingga remaja dan dewasa. Remaja dengan GPPH mengalami hubungan teman sebaya yang buruk, masalah akademik, konflik dengan orangtua maupun guru, risiko penyalahgunaan zat dan harga diri rendah. Gejala hiperaktif dan impulsif pada orang dewasa dengan cenderung ditunjukkan dengan ketidakmampuan memperhatikan dapat menyebabkan masalah di tempat kerja dan di lingkungan sosial.

Etiologi GPPH karena beberapa faktor yaitu:

  • Faktor biologis
  1. Genetik
  2. Abnormalitas neurologi terutama pada lobus frontal, dibandingkan antara anak dengan GPPH dan yang tidak mengalami GPPH. Ditemukan adanya penurunan aliran darah lobus frontal pada anak dengan GPPH.
  3. Hipotesis adanya hubungan antara GPPH terkait dengan neurotransmitter sistem dopaminergik, noradrenergik dan serotoninergik, terlibat dalam aktivitas sistem katekolaminergik dalam area otak yang berfungsi pada fungsi eksekutif, atensi dan aktivitas motorik, yaitu pada korteks prefrontal, serebellum dan struktur subkortikal.
  • Faktor lingkungan
  1. Konflik keluarga yang berkepanjangan, psikopatologi orangtua, buruknya hubungan keluarga lebih banyak terjadi pada anak dengan GPPH.
  2. Rendahnya tingkat pendidikan orangtua, orangtua tunggal dan status sosioekonomi yang rendah meningkatkan kemungkinan terjadinya GPPH
  • Cedera Otak
  1. Perkembangan GPPH, banyak terkait dengan kehamilan dan persalinan.
  2. Lahir secara prematur, mengalami hipoksia saat lahir karena fetal distres
  3. Ibu perokok dan alkoholik selama kehamilan meningkatkan
  4. Paparan terhadap toksin seperti timbal, merkuri, organofosfat, polychlorinated biphenyls selama perkembangan
  • Nutrisi

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menilai keterkaitan hiperaktivitas dan konsentrasi/atensi dengan nutrisi dan diet, dengan hasil yang bervariasi.

Hingga saat ini, tidak ada studi dirancang baik dalam mengkaji hubungan salisilat dan gula sebagai faktor pemicu GPPH, masih perlu berbagai studi lanjutan. Bagi klinisi, dalam menangani pasien dengan GPPH kepada orangtua, sebaiknya diberikan edukasi untuk membuat pilihan makanan yang cermat, memilih makanan alami serta membatasi pewarna makanan sintetis.

Harus diakui bahwa melakukan eliminasi zat aditif ini bukanlah satu-satunya intervensi yang dilakukan pada tata laksana GPPH. Sebagaimana diketahui, GPPH adalah gangguan multifaktorial sehingga diperlukan berbagai intervensi.

Categories: Artikel and RS Evasari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *