dr. Herman Darmawan, SpP : TB Paru Bisa Disembuhkan

 

Jika Anda atau anggota keluarga Anda terserang penyakit Tuberkulosis (TB) paru yang juga dikenal dengan singkatan TBC, jangan takut dan ragu. Karena penyakit ini walaupun bisa berakibat kematian, namun bisa disembuhkan.

Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman mycrobacterium tuberculosis yang menyebabkan kerusakan terutama pada paru, menimbulkan gangguan berupa batuk, sesak napas, bahkan dapat menyebar ke tulang, otak, dan organ lainnya. Bila dibiarkan, kuman ini dapat menggerogoti tubuh dan menyebabkan kematian.

Penyakit ini ditularkan oleh penderita TB aktif yang batuk dan mengeluarkan titik-titik kecil air liur dan terinhalasi oleh orang sehat yang tidak memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit ini. TB termasuk dalam 10 besar penyakit yang menyebabkan kematian di dunia. Data WHO menunjukkan bahwa pada tahun 2014, Indonesia nomor urut kedua setelah India negara dengan kasus baru TB terbanyak di dunia.

TB paling sering menyerang paru-paru dengan gejala klasik berupa batuk, berat badan turun, tidak nafsu makan, demam, keringat di malam hari, batuk berdarah, nyeri dada, dan lemah. Jenis batuk juga bisa berdahak yang berlangsung selama lebih dari 21 hari. Saat tubuh sehat, sistem kekebalan tubuh dapat memberantas basil TB yang masuk ke dalam tubuh. Tapi, sistem kekebalan tubuh juga terkadang bisa gagal melindungi tubuh.

Basil TB yang gagal diberantas sepenuhnya bisa bersifat tidak aktif untuk beberapa waktu sebelum kemudian menyebabkan gejala-gejala TB ini dikenal sebagai tuberkulosis laten. Sementara basil TB yang sudah berkembang, merusak jaringan paru-paru, dan menimbulkan gejala dikenal dengan istilah tuberkulosis aktif.

Menurut dr Herman, terdapat sejumlah orang yang memiliki risiko penularan TB yang lebih tinggi. Kelompok-kelompok tersebut meliputi: Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti pengidap HIV/AIDS, diabetes, atau orang yang sedang menjalani kemoterapi, orang yang mengalami malnutrisi atau kekurangan gizi, perokok, pecandu narkoba, orang yang sering berhubungan dengan pengidap TB aktif, misalnya petugas medis atau keluarga pengidap.

Apabila tidak diobati, bakteri TB dapat menyebar ke bagian tubuh lain dan berpotensi mengancam jiwa pengidap. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah nyeri tulang punggung, meningitis, kerusakan sendi, gangguan hati, ginjal, atau jantung.

Tidak semua basil TB yang masuk ke tubuh langsung menyebabkan gejala (tuberkulosis aktif). Ada juga kasus di mana basil TB bersembunyi tanpa memicu gejala sampai suatu hari berubah aktif. Kondisi ini dikenal sebagai tuberkulosis laten. Selain tidak mengalami gejala, pengidap tuberkulosis laten juga tidak menular. Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia mengidap TB laten. Sementara TB yang berkembang, merusak jaringan paru, dan menimbulkan gejala-gejala dalam beberapa minggu setelah terinfeksi dikenal dengan istilah tuberkulosis aktif. Sangat penting agar TB jenis ini diobati karena termasuk penyakit menular.

Jika sudah terserang TB segera berobat ke dokter dan jangan sampai terputus obatnya. Jika menderita TB paru maka pengobatan yang dijalani lebih kurang 6 bulan, sedangkan TB paru dengan penyakit  HIV dan diabetes, masa pengobatan yang dilakukan 9 bulan. Jika ada salah satu anggota keluarga yang terserang TB sebaiknya seluruh anggota keluarga diperiksa. Selain pengobatan, kita juga rutin memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga serta masyarakat terkait penyakit TB, cara mengatasi dan menghindari penularan.

Jika ada warga yang terserang TB agar segera berobat, apalagi pemerintah memiliki program DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) termasuk di RS Awal Bros Pekanbaru. Dimana DOTS merupakan strategi penanggulangan tuberkulosis di rumah sakit melalui pengobatan jangka pendek dengan pengawasan langsung. DOTs adalah tempat untuk konsultasi pasien TB.

Penanggulangan tuberkulosis merupakan program nasional yang harus dilaksanakan di seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (Puskesmas) termasuk rumah sakit. Khusus bagi pelayanan pasien tuberkulosis di rumah sakit dilakukan dengan strategi DOTS. Hal ini memerlukan pengelolaan yang lebih spesifik, karena dibutuhkan kedisplinan dalam penerapan semua standar prosedur operasional yang ditetapkan. Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demikian menurunkan insidens TB di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. Program DOTS ini gratis, karena itu, jika pasien tidak mampu boleh memilih pengobatan melalui program DOTS.

Narasumber :

dr. Herman Darmawan, SpP

Dokter Spesialis Paru RS Awal Bros Pekanbaru 

Jadwal Praktek : Senin-Sabtu pukul 09.00-15.00 WIB

Categories: Artikel and RS Awal Bros Pekanbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *